“Ayo, dimakan, Nak Baskara.” Marwah mengangsurkan aneka lauk-pauk ke sisi Bas, mempersilakannya makan yang banyak. “Iya, Bu, ini juga belum habis.” Bas meringis, kekenyangan. Apa orang baru keluar dari rumah sakit biasa memasak untuk menjamu tamu sebanyak ini? “Ayo, tambah lagi. Ibu merasa bersalah karena El harus temani Ibu di rumah. Jadinya, dia jauh sama kamu.” Bas melirik El yang duduk di seberangnya. Wanita itu tersenyum, mengangkat bahu–tanda tak mau tahu andai perut Bas meledak saking kekenyangan. “Mbok Darsiah tuh, pasti senang lihat Ibu sakit begini. Apalagi nanti kalau tahu, kamu sudah nggak tinggal sama Baskara. Dia, kan, yang paling menentang saat kalian tinggal bersama,” nyinyir Marwah, dengan bibir dibelok-belokkan. El tertawa, lalu menyenggol pelan bahu ibunya itu. “Ha

