Kedua mata Nana membesar. Ia menatap wajah Frans dan menyadari senyuman tipis pada bibir pria itu. “Ah… Kau benar, Lucy. Dalam permainan, kita harus bergantian, ‘kan?” Ujar Frans dengan kedua alis terangkat tinggi. Lucy mengangguk setuju. “Benar! Bu Lily berkata, kita harus bergantian agar permainannya adil…” Senyum Frans semakin merekah lebar. Ia mengusap kepala Lucy singkat. “Gadis pintar. Ibu gurumu mengajarkan hal yang bijaksana. Benar, ‘kan, mama?” ia menoleh pada Nana yang masih berbaring tengkurap di atas kasur. “I-itu benar,” Nana meringis canggung. “Tapi, sayang… Kelihatannya ranjang ini tidak kuat jika dinaiki oleh mama dan papa,” “Yah… benarkah?” Wajah Lucy berubah murung. “Papa rasa itu kuat. Jika memang ranjangnya akan roboh, papa akan belikan yang jauh lebih bagus dan k

