Kalimat Nana membuat kedua alis Frans mengkerut. Ia segera melangkah untuk berdiri di belakang punggung wanita itu. “Jangan bicara sembarangan. Wanitaku hanyalah dirimu.” Desisnya. “Ah… Maafkan kalimat lancangku. Kau benar. Seharusnya aku tidak membahas itu karena itu bukan urusanku. Tolong minggir,” Ucap Nana dengan piring lebar di tangannya. Mengepalkan tangan, Frans menggeser tubuhnya agar Nana bisa lewat. Jika bukan karena memikirkan Lucy yang sedang duduk di meja makan tepat di samping pintu dapur yang pintu gordennya terbuka, ia akan membalas kalimat Nana. Sepiring capcay, tahu dan tempe goreng, dan beberapa potong ayam goreng kecil tersaji di atas meja makan kecil yang terasa sangat penuh ketika seorang pria bertubuh besar bergabung dalam makan malam itu. Setelah enam tahun sel

