Hari ketiga setelah kepulangan adalah hari ketika rumah benar-benar menemukan ritmenya sendiri. Bukan ritme yang rapi atau yang tenang, melainkan ritme yang hidup. Ritme yang membuat seorang orang merasakan perubahan, tetapi semakin merasa kebahagiaan yang terus bertambah. Tangis bayi tidak lagi terdengar mengejutkan. Ia menjadi bagian dari napas rumah. Datang tiba-tiba, pergi pelan, lalu kembali lagi. Anggita mulai mengenali perbedaannya—tangis lapar, tangis tidak nyaman, tangis yang bahkan bayi itu sendiri belum tahu sebabnya. Tubuh Anggita masih nyeri. Jahitan sesar itu seperti pengingat yang tidak pernah lupa hadir. Saat bangun dari tempat tidur, ia harus berhenti sejenak, menarik napas, menunggu dunia tidak berputar. Rafka selalu ada di jarak satu langkah. “Pelan-pelan,” katanya t

