Hari kesembilan setelah kepulangan justru datang dengan sunyi yang berbeda. Bukan sunyi kosong, bukan pula sunyi lelah. Sunyi yang penuh napas kecil dan jeda-jeda lembut. Anggita duduk di sofa, kaki ditopang bantal, bayi mereka tertidur di dadanya. Berat tubuh kecil itu masih terasa asing—ringan, tapi bermakna. Setiap tarikan napas bayi itu seperti alarm kecil yang mengingatkan: ini nyata. Dia hidup. Dengan begitu, dia adalah sebuah tanggung jawab baru. Anggita sangat menyukai kehidupan barunya, meski membuat moodnya turun-naik, tetapi dia sangat bahagia memiliki anak dengan Rafka. Walau begitu, dia juga masih bimbang tentang namanya. Selama sembilan bulan lebih mengandung, dia hanya fokus pada kesehatan dan pekerjaan sehingga belum sempat berdiskusi lebih lanjut dengan Rafka tentang na

