Bab 95 Syukuran

1060 Kata

Hari itu rumah Anggita dan Rafka tidak lagi sunyi. Sejak pagi, aroma masakan sudah memenuhi udara. Bukan aroma pesta besar—tidak ada katering mewah, tidak ada dekorasi berlebihan—tapi wangi rumah yang dipakai berkumpul. Sup ayam, nasi hangat, kue-kue sederhana, dan teh manis yang terus diseduh ulang. Anggita duduk di kursi dekat jendela, bayi mereka tertidur di gendongannya. Tubuhnya masih belum sepenuhnya pulih, tapi hari itu ia terlihat lebih hidup. Pipinya tidak sepucat hari-hari awal. Matanya lebih terang. Rafka mondar-mandir, mengecek kursi, memindahkan sandal tamu, memastikan semuanya cukup—seperti biasa, terlalu detail. “Kamu capek?” tanyanya untuk kesekian kali. Anggita menggeleng pelan. “Enggak. Aku pengin hari ini berjalan lancar dan aku bisa mengikutin dari awal sampai akhir

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN