Pagi di rumah itu selalu dimulai lebih dulu oleh Rafka. Jam lima kurang seperempat, alarm di ponselnya hanya bergetar pelan—tanpa bunyi nyaring seperti dulu. Ia mematikannya cepat, bahkan sebelum layarnya benar-benar menyala. Kebiasaan lama sebagai orang yang terbiasa bangun subuh untuk gym masih melekat di tubuhnya, seolah tertanam di otot dan saraf. Bedanya, sekarang setiap gerakan harus penuh perhitungan. Ia menoleh ke samping. Anggita tidur miring, wajahnya sedikit pucat tapi damai. Garis lelah masih terlihat samar di bawah matanya, bekas malam-malam yang terpotong oleh tangisan bayi. Rambutnya jatuh menutup sebagian pipi. Rafka menahan diri untuk tidak mengusapnya. Ia tahu, satu sentuhan kecil saja bisa membangunkan Anggita—dan ia ingin istrinya tidur selama mungkin. Ia bangkit per

