Pagi itu datang dengan ritme yang tidak rapi. Tidak ada cahaya matahari yang masuk dengan indah, tidak ada jam biologis yang bekerja sempurna. Yang ada hanya suara kecil—rapuh, lirih, tapi terus-menerus—yang memecah sisa tidur di rumah itu. Elio bangun lebih awal dari biasanya. Tangisnya tidak keras. Ia tidak menjerit atau meraung seperti bayi lain yang sedang benar-benar kesakitan. Tangisnya konsisten, berulang, seolah berkata, aku ada, aku butuh, jangan abaikan aku. Jenis tangis yang tidak bisa diacuhkan, bahkan oleh tubuh yang paling lelah sekalipun. Anggita yang baru saja merebahkan punggungnya lima belas menit lalu, langsung terjaga. Matanya perih. Kepalanya masih berat. Punggungnya terasa kaku, seperti belum benar-benar miliknya sendiri. Ia bahkan sempat menatap langit-langit kamar

