Hari pertama Rafka kembali bekerja setelah cuti kelahiran Elio menjadi hari yang aneh bagi seluruh gedung. Bukan karena jadwal yang kacau atau bukan karena performa Rafka menurun. Justru sebaliknya—ia terlalu hadir, terlalu hidup, terlalu menunjukkan kalau dia adalah seorang ayah baru. Semua karyawan sampai sakit kepala karena kelakuan bos Vira sudah bekerja sebagai sekretaris Rafka hampir lima tahun. Ia hafal betul ritme bosnya. Pagi datang tepat waktu. Meja rapi. Dinding kosong. Fokus kerja tajam. Tidak ada benda personal selain satu jam dinding dan satu frame penghargaan industri. Hari ini? Vira berhenti tepat di depan pintu ruang direktur. Ia yakin dan percaya kalau mungkin dia salah ruangan. Meskipun sepertinya tidak. Hal ini karena dinding yang biasanya polos kini dipenuhi foto.

