Pagi masih muda ketika Anggita berdiri di depan lemari kecil di kamar bayi, menatap deretan baju mungil yang semuanya terasa “terlalu ini” atau “kurang itu”. “Kok kecil banget ya,” gumamnya. Rafka berdiri di belakangnya sambil menggendong Elio. Wajahnya tegang seperti sedang mempersiapkan operasi besar. “Yang ini aja,” katanya menunjuk satu baju katun polos. “Yang lembut.” Anggita menoleh. “Yang itu tipis.” “Justru karena keluar sebentar,” jawab Rafka cepat. “Nanti keringetan.” Anggita menghela napas. “Raf, ini cuma keluar rumah, bukan pindah planet.” Rafka tidak menjawab. Ia sibuk memeriksa topi kecil Elio—dipasang, dilepas, dipasang lagi. “Kepalanya aman?” “Raf.” “Kaos kaki?” “Rafka.” “Stroller udah disteril—” Anggita berbalik penuh. Menatap suaminya tajam. “Cukup. Jangan h

