Malam itu rumah terasa jauh lebih hangat dari biasanya, seolah seluruh dinding ikut melunak karena melihat cara Rafka memperlakukan istrinya. Anggita duduk meringkuk di sofa dengan selimut menutupi setengah tubuhnya. Wajahnya pucat, mata terlihat lelah, perutnya sesekali menarik tajam—campuran stres, kecapekan, dan haid yang datang tidak tepat waktu. Rafka berjalan keluar dari dapur sambil membawa nampan. “Ayo, sini, makan sedikit,” katanya lembut, menaruh mangkuk bubur hangat di meja. Uapnya mengepul, wangi gurihnya memenuhi ruang tamu. “Aku masak sendiri, khusus buat kamu. Karena kamu Pms, meski mau kamu bully rasanya pun, aku nggak masalah.” Anggita menatapnya—iya, benar-benar menatap—dan daada Rafka langsung terasa ditusuk perasaan sayang yang terlalu besar. “Kamu cape banget, ya

