*** Wanita itu tersenyum memperhatikan sawah dan lahan-lahan luas yang menghijau. Dia menghirup udara pagi di sekitarnya, segar. Suasana perdesaan disini memang tidak ada tandingannya. Dia melangkah kearah sofa yang terletak di balkon, lalu duduk disana. Tangannya meraih ponsel, menekan digit nomor yang di hapalnya di luar kepala. “Gimana kabar kamu, Nak? Mama denger dari Sofi, kamu berulah lagi.” Ucapnya saat sambungan tersambung. Suara putranya terkekeh di kejauhan. “Sofi kok di percaya, Ma. Galen kan anak kebanggaan Mama, nggak mungkin bikin ulah.” Bibirnya tersenyum lembut. Jawaban seperti itu memang khas sekali dengan putranya. “Mama percaya kamu nggak macem-macem. Tapi mencari masalah dengan Sastraguna itu bukan pilihan yang bagus, Galen.” Galen mendesah, “Si Sofi ember bang

