oops! Tetangga kamar Sebelah.
“Megan Marchella!”
“Yess, it’s meee… surprise!” jawab Megan sambil senyum nyengir ala-ala guilty pleasure. “Gimana? Udah ketemu belum?” celetuk si gadis cantik itu, nada suaranya terdengar santai
Cici langsung bengong. Gimana nggak shock? Baru beberapa hari lalu temannya ini bilang mau planning datang ke Manchester, eh sekarang udah nongol di depan pintu apartemen dengan koper segede gaban, senyum nyengir kayak abis menang lotre.
“Ayo masuk dulu,” kata Cici, masih setengah nggak percaya.
Megan pun melangkah masuk, lalu menjatuhkan diri ke sofa dengan gaya drama queen. “Kamu belum jawab, beb,” ucapnya sambil melipat kaki, tatapan penuh ekspektasi.
Cici menghela napas. “Megan, setau aku ya… kamu kan anak orang kaya tujuh turunan, dan—”
Belum sempat selesai, Megan langsung angkat tangan ala stop sign.
“Eits, jangan bawa-bawa mama papa aku dong. Aku tau banget kamu mau bilang ‘Megan, kamu kan putrinya Ivan Halim, cucunya Cedric White dan Tuan Halim. Masa iya nggak punya duit buat bayar apartemen, sampai harus ngontrak bareng?’” ucapnya dengan gaya sok serius tapi jelas-jelas penuh sinis
“Hello… aku tuh gadis mandiri, okeey…” imbuh Megan sambil manyun sok serius, bikin Cici otomatis geleng-geleng kepala.
“Ada ya orang kaya gabut kayak kamu,” sindir Cici dengan nada sarkas.
Megan langsung nyamber, “Yang kaya itu orang tua aku, beb. Kalau aku mah masih kere, harus berjuang dari nol buat bisa kaya kayak mereka. Please deh, jangan salah kaprah.”
Cici sekali lagi menggeleng, senyum tipis. “Serah kamu ah!” ucapnya, lalu menambahkan, “Eh, ngontrak aja bareng aku. Kamu kan nggak lama di sini, kan?” tawarnya dengan nada setengah ikhlas.
Megan langsung mengangkat telunjuk, digoyang-goyang dengan ekspresi muka yang full ‘playful bitchy’.
“Nooo… aku nggak mau. Kamu kan tinggal bareng pacar. Aku nggak mau jadi penonton drama romantis live-action, geli banget, euy. Cari tempat lain aja, plis.”
Cici meraih ponselnya, jemari lentik menari di atas layar yang menyala. Scroll sana-sini, agak lama sampai akhirnya, beberapa puluh menit kemudian, ia menyorongkan layar ke arah Megan.
“Ini ada, ‘Modern Townhouse.’ Tapi kalau ambil ini, kamu bakal ngontrak bareng cowok, loh,” ucap Cici dengan nada setengah serius.
“Yang lain nggak ada, beb?” tanya Megan sambil menimbang, alisnya sedikit terangkat.
Cici menggeleng mantap. “Nggak ada. Cuma ini yang lagi cari partner kontrakan.”
Megan menghela napas, lalu mengangkat bahu dengan gaya ‘too cool to care.’ “Ya udah, itu aja deh. Deal sama orangnya. Toh cuma tiga bulan, nggak usah ribet.”
“Yakin?” tanya Cici, menatap penuh konfirmasi.
Megan mengangguk mantap. “Yakin lah.”
“Okeey,” jawab Cici singkat.
Tanpa basa-basi, ia langsung menekan nomor yang tertera di layar ponselnya, melakukan deal atas nama Megan, si gadis santai yang cuma terima beres tanpa mau ribet urusan detail.
Tak lama setelah telepon ditutup, Cici langsung berdiri, meraih jaketnya. “Ayo, beb. Orangnya udah nunggu di lokasi. Jangan bikin dia ilfeel gara-gara kita telat, dan kalau itu terjadi, mau nggak mau, kamu akan tetap berakhir di apartemen aku .”
Megan bangkit dengan gaya malas manja, meraih tas kecilnya sementara koper segede gaban itu ditarik dengan dramatis. “Ya ampun, kayak interview kerja aja. Padahal cuma ngontrak tiga bulan.”
Cici nyengir. “Ya tetep aja, first impression penting, Miss Mandiri yang nggak mau ribet!” sinisnya
Mereka pun keluar apartemen, menuruni tangga dengan obrolan yang nggak pernah berhenti. Megan sibuk mengomentari outfit orang-orang yang mereka lewati, sementara Cici sibuk memastikan alamat di ponselnya benar.
Begitu sampai di jalan, mereka sempat berhenti sebentar di depan minimarket. Megan ngotot beli minuman dingin, katanya biar “nggak keliatan haus pas ketemu orang baru.” Cici cuma geleng-geleng, tapi akhirnya ikut beli sekotak jus.
Perjalanan menuju townhouse lumayan bikin Megan heboh. Setiap kali ada mobil keren lewat
“Hmm.. beb kalau aku kaya beneran, aku bakal beli itu dan kita nggak usah jalan kaki lagi, capek.” ucapnya
Cici cuma nyaut singkat, “Ya ampun, fokus ke alamat dulu, jangan ke mobil orang.”
Setelah beberapa puluh menit jalan kaki dan sedikit nyasar karena Megan sibuk selfie di trotoar, akhirnya mereka sampai di depan Modern Townhouse. Megan langsung bersiul kecil.
“Wow, not bad. Lumayan classy. At least nggak kayak kos-kosan horror.”
Cici menatap temannya dengan ekspresi nggak percaya, lalu menunjuk lurus ke arah hunian di depan mereka. “Not bad, Megan? Kamu serius?” tanyanya dengan nada setengah protes “nggak bercanda?”
Megan mengangguk mantap. “Yeah… serius, loh. Vibes nya mirip pavilion para asisten di rumah grandpa,” jawabnya cepat, seolah itu komentar paling normal di dunia.
Cici ikut mengangguk, tapi dalam hati bergumam, ‘Ya ampun, gimana aku bisa lupa kalau dia ini princess yang baru keluar dari kastilnya. Rumah sebagus ini masih aja dibilang ‘not bad’.’
Di depan pintu, seorang cowok sudah berdiri menunggu. Casual look, hoodie hitam, sneakers putih, wajahnya santai tapi jelas penasaran melihat dua cewek datang dengan koper jumbo.
Cici melambaikan tangan. “Hai, sorry agak lama. Ini Megan, calon partner kontrakannya.”
Megan langsung maju dengan senyum nyengir khasnya. “Yes, it’s meee. Jangan kaget ya kalau aku agak ribet, tapi tenang… aku fun kok,” ucapnya penuh percaya diri.
Cici meliriknya sambil menahan tawa. ‘Hello, Megan… emang ada yang nanya? ‘ batinnya geli.
Cowok itu terkekeh kecil, lalu mengulurkan tangan dengan gaya santai. “Santai aja. Aku udah siap kok. Ayo masuk, biar kalian lihat dulu tempatnya.”
Megan melirik Cici dengan tatapan penuh arti, senyum tipisnya seolah menyimpan rahasia kecil. Ia berbisik pelan, “Hmm… kayaknya tiga bulan ke depan bakal seru banget.”
Cici mendekat, ikut berbisik dengan nada menggoda, “Apa karena cowoknya ganteng?”
Megan hanya membalas dengan senyum nakal, matanya berkilat penuh konspirasi. Tanpa menambahkan sepatah kata pun, ia melangkah mengikuti si cowok dari belakang, sementara Cici ikut mengekori dengan ekspresi setengah geli, setengah penasaran.
Cowok itu membuka pintu rumah, lalu menoleh sekilas ke arah Megan dan Cici. Senyumnya santai, nada suaranya tenang tapi jelas.
“Oh iya, kenalin dulu. Nama aku Noah,” ucapnya sambil mengulurkan tangan lagi, kali ini lebih resmi. “Aku yang pasang iklan kontrakan itu.”
Megan menyambut dengan senyum nyengir khasnya, lalu menjabat tangannya singkat. “Nice to meet you, Noah. Aku Megan Halim” jawabnya memperkenalkan diri.
Noah membawa Megan dan Cici berkeliling rumah. Kamar Megan ternyata persis di sebelah kamar Noah, membuat suasana langsung terasa ‘too close for comfort’ tapi juga sedikit menarik.
Dapur yang super luas dengan meja marmer panjang bikin Cici terkesima, sementara Megan sibuk membayangkan pesta kecil ala-ala brunch di Pinterest.
Begitu mereka sampai ke bagian belakang, sebuah mini garden yang rapi dan asri menyambut pandangan. Tanaman hijau tersusun cantik, ada bangku kayu mungil di sudutnya. Megan langsung bersiul kecil, matanya berbinar. “Oke, aku suka. Ini vibes nya cozy banget,” ucapnya cepat, seolah sudah jatuh hati pada tempat itu.
Megan masih berdiri di tengah mini garden, tangannya menyentuh daun kecil di pot terdekat, terlalu fokus dengan imajinasinya sendiri sampai ia tak sadar Noah sudah berdiri tepat di belakangnya.
“Eh—”
Megan berbalik.
Dan jarak mereka terlalu dekat.
Hanya satu langkah. Bahkan mungkin setengah.
Noah refleks berhenti, Megan refleks mundur dan hasilnya justru makin canggung karena tumit Megan menyenggol bangku kayu kecil di belakangnya.
“Sorry—!”
“Eh, Aku—!”
Dua suara keluar hampir bersamaan.
Megan kehilangan keseimbangan sepersekian detik, dan tanpa pikir panjang, Noah meraih pergelangan tangannya. Pegangannya tidak kasar, tapi cukup erat untuk menahan Megan supaya tidak jatuh.
Waktu seolah nge-pause.
Megan dan Noah saling melempar tatap cukup lama, seolah waktu mendadak melambat. Jarak napas di antara keduanya begitu dekat, hingga keheningan yang tercipta terasa aneh, sunyi yang seharusnya sederhana, tapi justru memanjang dan sarat makna.
Cici, yang berdiri beberapa langkah dari mereka, berdeham pelan. Sengaja. Keras. Penuh makna.
Megan tersadar lebih dulu. Ia cepat-cepat menarik tangannya, pura-pura merapikan rambut.
“Thanks,” ucapnya singkat, nada suaranya sedikit lebih rendah dari biasanya.
Noah mengangguk, menggaruk tengkuknya sendiri. “Yeah… no problem.”
Hening lagi.
Yang ini lebih canggung.
Cici menatap mereka bergantian, alisnya naik. Dalam hati ia sudah menyimpulkan terlalu banyak hal, tapi memilih diam untuk sekarang.
Noah melangkah sedikit menjauh, berusaha kembali profesional. “So… kontraknya tiga bulan, ya? Aturannya simpel. Kita share dapur, ruang tamu, sama garden ini. Kamar masing-masing, privacy dijaga.”
“Sounds fair,” jawab Megan cepat, lalu menambahkan sambil tersenyum tipis, “Aku nggak ribet kok. Asal nggak dilarang hidup.”
Noah mengangguk kecil, refleks. “Deal.”
Megan melirik garden sekali lagi, lalu ke arah kamar di sebelah kamar Noah. Senyumnya muncul, kecil, penuh rasa ingin tahu.
“Tiga bulan,” gumamnya pelan. “Kayaknya bakal… menarik.”
Noah menoleh. “Hah?”
Megan menatapnya, senyum nyengir khasnya kembali muncul. “Nothing. Just thinking out loud.”
Di sudut garden itu, angin berembus pelan. Dan entah kenapa, bagi Noah, kehadiran Megan tiba-tiba terasa jauh lebih berisik daripada taman yang tenang itu.