Manchester, 07.18 AM
Cahaya pagi menembus celah tirai tipis, jatuh tepat di wajah Megan Halim tanpa izin. Abu-abu khas langit Manchester menggantung malas di luar jendela, menyelinap ke dalam kamar yang masih terasa asing dan terlalu rapi untuk standar hidupnya.
Megan mengerang pelan.
“Too early for adulthood,” gumamnya sambil menarik selimut menutup kepala.
Beberapa detik berlalu. Sunyi.
Lalu—
Bugh!
Megan membuka satu mata. “Okey…” gumamnya pelan.
Ia tahu, ini bukan di hotel. Bukan pula di apartemen Cici. Dan jelas bukan di mansion besar keluarganya, mansion yang selalu riuh oleh ocehan sang mama dan kesibukan para asisten menyiapkan sarapan setiap pagi.
“Sekarang aku ada di sebuah townhouse, di Manchester… tinggal bareng seorang cowok bernama Noah.” Megan bergumam, setengah tak percaya.
Ia duduk perlahan di tepi ranjang. Rambutnya masih berantakan, kaus tidur kebesaran jatuh miring hingga bahu kirinya terlihat. Pandangannya menyapu kamar yang minimalis, hangat, nyaris terlalu rapi.
Satu-satunya jejak personal hanyalah koper setengah terbuka di sudut ruangan, seolah jadi pengingat kalau ini semua masih sementara.
“Tiga bulan,” bisiknya. “Tiga bulan buat buktiin ke Mama dan Papa kalau aku bisa survive dari nol.”
Dari arah dapur, suara Noah terdengar lagi. Kali ini lebih jelas. Ia bersenandung pelan, entah lagu apa, tapi nadanya tenang. Terlalu tenang untuk pagi pertama tinggal bareng orang asing.
Megan mengernyit, lalu bergumam dalam hati, “Kenapa sih cowok itu bisa kelihatan normal banget? Dan kenapa kamar ini nggak ada peredam suara?!”
Megan melangkah keluar dari kamar, masih dengan rambut berantakan dan kaus tidur kebesaran yang menggantung santai di tubuhnya. Ia menjatuhkan diri di kursi kitchen isle, menatap Noah yang sedang menyeruput kopi panas dengan tenang seolah dunia ini milik dia seorang.
“Buat aku mana?” tanyanya dengan wajah paling tidak bersalah
Noah berhenti sejenak, menoleh, lalu mengernyit. “Kamu mau juga?” suaranya datar, tapi matanya jelas menilai tingkah Megan.
Megan mengangguk cepat, terlalu cepat, seperti anak kecil yang ketahuan mengintip permen. “Of course. Masa aku cuma jadi penonton kamu ngopi pagi-pagi?”
Noah mendesah pelan, lalu bangkit. Gerakannya santai, tapi ada aura ‘too cool for morning drama’ yang bikin Megan makin gemas.
Ia mengambil cangkir tambahan, menuangkan kopi, lalu mendorongnya ke arah Megan. “Ini. Tapi rasanya agak pahit” ujarnya sambil kembali duduk.
Megan meraih cangkir itu dengan senyum kemenangan. “Pahit nggak masalah. Hidup juga pahit, kan? Bedanya, kopi bisa ditambah gula.” Ia menyesap sedikit, lalu pura-pura meringis dramatis. “Wow… ini bukan pahit lagi, ini level dark villain origin story.”
Noah menatapnya sekilas, lalu tertawa kecil, tawa pertama yang pernah Megan dengar darinya. Entah kenapa, suara itu membuat dapur yang tadinya asing terasa sedikit lebih hangat.
“Ternyata kamu cukup pintar juga,” ucap Noah sambil mengangkat jempolnya.
Megan mengangguk mantap. “Karena kamu sudah menyadari kelebihan aku, maka bulan ini, biaya sewa rumah dan semua bil utilitas biar aku yang tanggung,” katanya sambil menepuk d**a dengan gaya sok iyes banget
Noah hanya menggeleng, lalu tersenyum tipis.
“Kamu kerja atau…?” Megan sengaja menggantung kalimatnya, ragu untuk meneruskan.
Noah tampak berpikir keras, lalu menatap Megan. “Aku kerja sendiri aja dan-”
“Shhh…” Megan langsung mengangkat telunjuknya, memotong ucapan Noah dengan ekspresi sedih yang dramatis, tapi jelas bukan berniat menghina.
“Nggak apa-apa. Selama ada aku, tapi…”
“Tapi apa?” Noah cepat menimpali.
“Hari ini aku masuk kantor. Kamu di rumah belanja isi kulkas, terus masak. Nanti aku pulang tinggal makan. Uangnya aku transfer sekarang,” ucap Megan sambil menepuk-nepuk ponselnya, siap beraksi.
“Tapi—”
Belum sempat Noah menyelesaikan kalimatnya, Megan kembali memotong dengan gaya bossy yang manis. “Udah, nggak usah tapi-tapian, aku tau kok, kamu pasti mau simpan uangkan. Ayo, sini aku transfer. Mau pakai apa? sss atau PayPal?” desaknya dengan mata berbinar penuh semangat.
Noah sempat terdiam, lalu dalam hati bergumam, ‘Cewek ini agak unik, kenapa nggak aku ikutin aja permainannya.’ Ia pun mengeluarkan ponsel dari saku celana dan mengulurkannya pada Megan, senyum tipis masih tersisa di wajahnya.
“sss” ucap Noah
Megan segera meraih ponsel Noah, seolah takut cowok itu berubah pikiran detik berikutnya. Dengan gerakan cepat, ia membuka aplikasi, lalu menempelkan ponselnya ke miliknya
Beep!
Sekejap saja, layar keduanya berkedip tanda transaksi berhasil.
Megan tersenyum puas, menatap Noah dengan gaya bossy yang manis. “Done! See? Dunia modern itu gampang banget, tinggal imbas ponsel, beres. Nggak ada drama transfer ribet.”
Ia menyandarkan tubuh ke kursi, lalu menambahkan dengan nada sok serius, “Oh ya, jangan lupa beli cemilan juga, oke?”
Noah mengangkat alis, separuh kagum, separuh geli. “Kamu kayak CEO startup yang lagi pitching investor.”
Megan menepuk d**a dengan gaya heroik. “Ya jelas. Aku kan investor masa depan kamu. Modalnya, isi kulkas, masakan, dan… sedikit kasih sayang.” ketawa di ujung kalimatnya
Noah terkekeh geli, tahu Megan hanya bercanda. Ia kembali menyeruput kopinya sebelum berkata, “Kalau begini caranya, aku nggak yakin kamu ini housemate atau sugar mommy.”
Megan pura-pura terkejut, menatap Noah dengan mata melebar dramatis. “Excuse me? Aku ini housemate deluxe edition. Ada bonus bossy, cantik, dan… ada garansi nggak bikin kamu kelaparan selama tiga bulan ke depan.”
Namun seketika matanya tertuju pada ponsel Noah. ‘Eh… ini kan edisi terbaru? Keren juga, dia bisa punya.’ batinnya, sedikit terkesan tapi berusaha tetap menjaga ekspresi datar di wajah.
Noah sempat terdiam beberapa detik. Tatapannya jatuh ke ponsel yang masih ada di tangan Megan, lalu berpindah ke wajahnya yang terlihat terlalu percaya diri untuk seseorang yang baru sehari tinggal di rumah orang lain.
‘Megan Marchella..”
Ia menarik napas pelan. Ada sesuatu dari cara Megan bicara, cepat, penuh asumsi, seolah dunia memang sudah menyiapkan ruang khusus untuknya yang terasa asing, tapi entah kenapa tidak sepenuhnya mengganggu.
‘Dia bukan tipe yang bisa diam. Dan jelas bukan tipe yang gampang diatur.’
Noah nyaris tersenyum sendiri sebelum cepat menahannya. Ia tidak terbiasa membiarkan orang lain mengambil alih ritme hidupnya, apalagi di rumah ini. Rumah yang seharusnya sunyi, rapi, dan terkendali.
Saat ponselnya kembali ke genggaman, getaran singkat muncul di layar.
Satu pesan.
“Tuan, saya sedang OTW ke rumah.”
Napas Noah tertahan sepersekian detik. Wajahnya tetap datar, tapi pikirannya langsung bergerak cepat, menghitung waktu, jarak, dan yang paling mengganggu, kehadiran Megan yang masih duduk santai di dapurnya.
‘Ini belum waktunya.’
Ia menyimpan ponsel ke saku dengan gerakan tenang, meski di dalam dadanya ada sesuatu yang mulai berdenyut tidak nyaman.
‘Sepertinya… aku harus memastikan Megan pergi sebelum Clara tiba. Kalau tidak, semuanya bisa berakhir dengan Mummy langsung terbang dari Manhattan membawa segudang dramanya. Please… jangan hari ini.’