Fake Boss, Real Trouble

1109 Kata
Setelah beberapa puluh menit Megan pamit, sebuah mobil berbelok masuk dan berhenti di parkiran depan. Dari dalamnya keluar seorang wanita cantik, tersenyum begitu melihat Noah yang masih berdiri di ambang pintu dengan piyama tidur dan tangan bersedekap. “Morning, Tuan,” sapa Clara sambil menggenggam beberapa dokumen, matanya menatap Noah yang tampak santai. “Jadi, hari ini Tuan tidak masuk kantor?” tanyanya, nada suaranya terdengar penasaran. Noah mengulurkan tangan, memberi isyarat. “Aku nggak akan masuk. Cepat hubungi Jason, suruh dia gantikan aku di rapat jam dua siang nanti,” ucapnya tegas. Clara menyerahkan dokumen yang diminta, lalu merogoh ponsel dari tasnya. Dengan cekatan, ia menyampaikan instruksi Noah kepada asisten pribadi bosnya itu. Setelah selesai menandatangani dokumen, Noah menyerahkannya kembali pada Clara. “Kamu pernah belanja isi kulkas?” tanyanya tiba-tiba. Clara mengernyit, sedikit bingung. “Pernah, Tuan,” jawabnya singkat. “Good. Sekarang serahkan dokumen ini ke Jason, lalu balik lagi ke sini. Jemput aku, temani belanja isi kulkas,” ucap Noah santai namun tegas. ‘my God… ada apa dengan Pak Boss hari ini? Kok mendadak mau belanja isi kulkas? batin Clara, meski ia tak berani melontarkan pertanyaan itu. “Baik, Tuan. Ada instruksi lain?” tanyanya sebelum beranjak pergi. Noah hanya mengibas tangan, memberi isyarat selesai. Namun baru beberapa langkah Clara berjalan, suara Noah kembali terdengar. “Oh iya, nanti dari kantor sekalian ajak Jason pindahin mobilku ke rumahnya,” perintahnya sambil menunjuk ke arah mobil sport yang terparkir rapi di garasi samping taman. “Baik, Tuan,” jawab Clara, meski kebingungan masih jelas tergambar di wajahnya. Setelah Clara pergi,Megan muncul begitu saja, tanpa peringatan. Ia turun dari Uber dengan langkah ringan, lalu menatap heran pada mobil mewah yang baru saja meluncur keluar dari halaman rumah. “Itu tadi siapa?” tanyanya sambil menunjuk ke arah mobil Clara yang semakin menjauh, matanya beralih pada Noah yang masih berdiri di tempat yang sama. “Oh, i-itu tadi sekretaris bos,” jawab Noah cepat, sedikit gugup sambil nyengir canggung. “Wah… keren. Kamu sampai dicari sekretaris bos ke rumah. Berarti kamu—” “No, dia cuma mau mengabarkan kalau bos sebentar lagi datang buat ambil mobilnya. Mobil itu sudah beberapa bulan ditinggal di sini,” bohong Noah, telunjuknya lurus menunjuk ke arah mobil sport yang terparkir rapi di garasi samping. Megan mengikuti arah telunjuknya. Seketika matanya melebar. “Wow… kayaknya kemarin aku nggak ngeh ada mobil itu. Keren sih, pasti mahal. Tapi nggak sekeren mobil Papa,” ujarnya, nada suaranya ringan tapi penuh percaya diri. Noah memutar bola matanya malas, sedikit kesal. ‘Serius, kamu bandingin aku sama papamu, Ivan Halim? Jelas aja Papa kamu menang, raja bisnis. Sedangkan aku? Baru mulai merangkak.’ gumamnya dalam hati. “Oh iya, kamu bukannya masuk kantor? Kenapa balik lagi?” tanya Noah sambil menatap Megan. Megan mengangkat bahu santai. “Males. Papa barusan telepon, lagi-lagi bahas soal jodoh. Capek banget,” jawabnya dengan nada kesal. Noah mengernyit. “Terus apa hubungannya kamu nggak masuk kantor sama obrolan jodoh itu?” “Ada dong. Nanti jam dua siang Papa udah atur aku rapat sama Tuan Muda Kingsley. Ew! Nggak banget. Aku nggak mau,” jawab Megan dengan gaya slay, matanya berkilat penuh penolakan. Langsung nyelonong masuk, ninggalin Noah berdiri bengong. ‘Tuan Muda Kingsley? Apakah itu..-’ Noah bergumam dalam hati, lalu cepat-cepat meraih ponselnya. Ia mengetik pesan untuk Clara “Jam dua siang, aku seharusnya rapat sama siapa?” Beberapa menit kemudian, notifikasi masuk. Clara membalas singkat “Perwakilan dari anak perusahaan Aureole, Megan Halim.” Sudut bibir Noah terangkat, membentuk smirk penuh arti. ‘Jadi ini calon pilihan Mama? Nice.” batinnya, sambil melirik Megan yang sudah rebahan santai di atas sofa, seolah dunia tidak pernah bisa menyentuhnya. Noah menyusul masuk, lalu melabuhkan tubuhnya ke sofa, duduk tepat di hadapan Megan yang sibuk memainkan ponselnya. “Kamu pernah lihat Tuan Muda Kingsley yang barusan kamu sebut?” tanyanya hati-hati. Megan bangkit dari posisi rebahan, meletakkan ponsel di atas meja. Tatapannya lurus menembus Noah. “Nggak,” jawabnya singkat. “Terus kenapa kamu menolak perjodohan itu?” Noah kembali menekan. Megan mendengus kecil. “Aku dengar rumor, katanya Tuan Muda Kingsley itu dingin banget dan doyan kehidupan malam. Hello… jelas bukan tipe aku. Kalau doyan dunia malam, berarti ya identik sama free s*x, kan?” ucapnya sambil mengangkat kedua tangan, membuat gestur dramatis seolah menekankan kata-katanya. Ia melanjutkan dengan senyum sinis, “Sorry, aku bukan tempat penampungan barang bekas. Dan jelas nggak tertarik berurusan sama orang yang berisiko nularin penyakit.” Noah mengulas senyum tipis yang tampak sedikit aneh. ‘Doyan kehidupan malam, huh? Hanya karena rumor nggak jelas kamu langsung simpulkan begitu? Keren juga cara berpikir kamu.’ Namun semua itu hanya berputar di dalam kepalanya, tak terucap keluar. Megan menoleh, matanya menyipit penasaran. “Kamu… kenapa senyum begitu?” Noah menggeleng pelan. “Nggak, cuma merasa lucu aja,” jawabnya singkat, masih menyembunyikan isi pikirannya. “Lupakan saja dia. Kamu sudah belanja?” tanya Megan sambil menatap Noah. Noah menggeleng pelan. “Belum. Mau temani aku belanja?” ujarnya, satu alis terangkat penuh tantangan. Megan sempat terdiam, lalu cepat mengangguk. “Oke, kita belanja bareng aja,” putusnya mantap. Tepat saat itu, Jason masuk begitu saja karena pintu tidak tertutup, disusul Clara di belakangnya. Noah refleks berdiri lalu membungkuk ringan. “Tuan,” sapanya singkat. Jason dan Clara langsung terperangah. Wajah keduanya pucat, buru-buru ikut menunduk. “Tu-tu—” gumam mereka tergagap, tapi cepat dipotong Noah. “Maaf, Tuan. Hari ini saya nggak masuk kantor,” ucap Noah dengan nada datar Jason nyaris kehilangan napas. ‘Mampus… ini pertanda aku bakal dipecat?’ batinnya panik, tubuhnya tetap membungkuk kaku, tak berani berdiri tegak. Noah menyenggol lengan Megan yang tampak sedikit bingung melihat interaksi mereka. “Kamu siap-siap dulu. Setelah ini kita pergi belanja.” Tanpa banyak pikir, Megan langsung mengangguk lalu bergegas ke kamarnya, meski masih banyak tanda tanya yang menggantung di benaknya. ‘Hmm, ada yang aneh… tapi bodo amat, bukan masalahku,’ gumamnya dalam hati. Begitu Megan menghilang, Noah menatap Jason dan Clara dengan serius. “Mulai sekarang, di depan Megan, kalian berdua adalah bos dan sekretaris. Aku? Hanya karyawan biasa. Paham?” ucapnya tegas. Jason mendongak, wajahnya pucat, keringat dingin mulai bercucuran. “Ta-tapi, Tuan—” “Atau kalian aku pecat,” potong Noah cepat, membuat Jason tercekat kehilangan kata-kata. Beberapa detik hening, akhirnya Jason mengangguk gugup. “Ba-baik, Tuan. Asal jangan pecat saya sama Clara.” Suasana mendadak buyar ketika suara Megan terdengar dari belakang. “Pecat? Siapa yang dipecat?” tanyanya dengan nada penuh rasa ingin tahu. Entah sejak kapan ia sudah berdiri di sana, membuat ketiganya sontak menegang dan menatapnya serempak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN