Manchester, 11.42 AM
Supermarket Tesco Extra tampak ramai seperti biasa. Lorong-lorong panjang dipenuhi troli yang berderit pelan, aroma roti panggang bercampur dengan bau kopi dari sudut kafe kecil di dekat pintu masuk.
Noah melangkah masuk lebih dulu.
Tangannya refleks mengarah ke deretan troli kosong di dekat pintu, berniat menarik satu.
Namun belum sempat jarinya menyentuh gagang—
“BIAR SAYA, TUAN—!”
Jason tiba-tiba berlari kecil dari belakang, nyaris tergelincir, lalu dengan sigap menarik satu troli dan berdiri tegak di hadapan Noah, seolah baru saja menyelamatkan nyawa seseorang.
Troli itu didorongkan ke arah Noah dengan penuh hormat membuat Megan menatap aneh dan saat itu juga Jason mendapatkan pelototan maut dari majikannya
“Ma-maksud aku… No-Noah! B-biar aku aja yang dorong trolinya,” ujar Jason dengan suara patah-patah, kayak orang lagi buffering.
Megan melirik sekilas, matanya menyipit. ‘Wait… ini kok makin aneh? ‘
‘Barusan di rumah mereka sempat ngomongin soal pemecatan orang, serius banget. Tapi sekarang Jason malah kelihatan kayak personal assistant yang terlalu rajin, sementara Noah vibes-nya udah kayak bos undercover yang pura-pura jadi karyawan biasa.’
Megan menghela napas pelan. ‘Drama apa lagi sih ini? Rasanya kayak nonton K-drama live action, cuma minus soundtrack aja di belakang’.batinnya
“Ayo” ajak Noah melirik pada Megan
“Kenapa boss kamu lari?” tanyanya datar, tapi penuh kecurigaan.
Noah berdehem kecil. “Refleks kerja,” jawabnya cepat.
Jason tersentak. “I-itu… maksud saya—”
Ia melirik Clara yang berdiri beberapa langkah di belakang, wajahnya pucat seperti habis ketahuan nyolong permen karet.
Clara langsung menggeleng kecil sambil berbisik tajam, “Jason, act normal. Ingat pesan Tuan.”
Jason menelan ludah, lalu memaksa senyum kaku ke arah Megan. “Hehe… kebiasaan, Nona. Saya suka olahraga ringan, misalnya dorong troli karyawan. Anggap saja ini versi murah treadmill.”
Megan memicingkan mata. Tatapannya turun ke sepatu formal Jason, jas rapi yang terlalu mahal untuk sekadar belanja siang hari, lalu naik lagi ke wajahnya.
“O… kay,” gumamnya pelan. “Lari ambil troli termasuk olahraga ringan sekarang? Menarik sih.”
Noah segera meraih troli itu dari tangan Jason, agak berlebihan. “Aku bisa sendiri, Tuan Jason. Kalau tidak, nanti aku kehilangan kesempatan olahraga ringan plus gratis.”
Jason nyaris refleks membungkuk lagi, tapi cepat-cepat menegakkan tubuhnya begitu sadar Megan masih menatap.
“Maaf. Maksud saya… silakan,” katanya gugup.
Megan menyandarkan tubuh ke troli, menatap Noah sambil menyeringai kecil.
“Kamu yakin ini belanja santai, bukan inspeksi perusahaan? Dengan adanya boss kamu ikut sekali?”
Noah mendorong troli ke dalam lorong sayuran. “Fokus belanja,” jawabnya pendek.
Namun di belakang mereka, Jason dan Clara berjalan dengan jarak terlalu sopan, tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh, seperti pengawal VIP yang sedang berpura-pura jadi warga sipil.
Megan melirik ke belakang sekilas.
‘Yang satu vibes-nya bodyguard, yang satu persis HR lagi panik audit” batin Megan sambil menahan senyum miring. ‘Fix. Ada yang nggak beres. Dan Aku bakal cari tahu, sooner or later.”
Lorong kulkas Tesco Extra dinginnya kayak AC kantor yang disetel terlalu semangat. Rak-rak penuh daging, ayam, ikan, semua berjejer rapi dengan label warna-warni.
Noah berhenti, menatap lama satu kemasan. “Ini… ayam, kan?” suaranya datar, tapi jelas ragu.
Megan langsung noleh, hampir menjatuhkan ponselnya “Bro, itu sapi. Labelnya gede banget, noh Beef Sirloin. Ayam nggak segelap itu.”
Jason di belakang langsung panik, pura-pura batuk. Clara menutup wajah dengan tangan, ‘Pak Boss, kenapa nggak bisa santai sih? Jantung aku sama Jason rasanya kayak naik roller coaster tanpa sabuk pengaman.’ omelnya dalam hati.
Noah buru-buru meralat, wajahnya sedikit tegang.
“Eh iya, sapi. Aku cuma ngetes kamu aja,” ucapnya cepat, berusaha menutupi blunder.
Ia menambahkan dengan senyum tipis, “Ternyata kamu nggak kena sindrom princess. Biasanya kan anak orang kaya taunya cuma terima beres, nggak ngerti detail belanja beginian.”
Kalimat itu meluncur begitu saja, jelas-jelas upaya Noah untuk menyamarkan rasa malunya barusan.
Megan mengangkat alis tinggi. “Tes pengetahuan daging di supermarket? Serius banget.”
Jason maju, suara terbata. “Humor internal, Nona. Tuan eh, Noah, memang suka bercanda.”
Megan menatap Jason lama, lalu balik ke Noah. “Humor internal? Salah bedain ayam sama sapi? Oke, noted.”
Noah mencoba lagi, meraih satu kemasan lain. “Nah, ini ayam.”
Megan mendekat, menatap label. “Itu daging salmon, Noah. Kalau kamu kira itu ayam, berarti salmonnya sukses cosplay.”
Hening. Jason hampir kepeleset dan melanggar troli, Clara makin pucat.
Megan menahan tawa, bibirnya melengkung nakal. “Oke, fix. Either kamu buta warna, atau kamu nggak pernah belanja seumur hidup.”
Noah menegakkan tubuh, wajahnya kaku. “Aku sibuk. Biasanya ada orang lain yang urus beginian.”
Megan menyipitkan mata, tatapannya tajam tapi senyumnya tetap manis.”Bos besar yang nggak bisa bedain ayam sama salmon huh?” tebak Megan
“Bi-biasanya aku suruh Noah lembur, dan urusan isi kulkas atau makanan tuh selalu di handle pegawai sama chef. Jadi… wajar kalau dia agak clueless,” ujar Jason cepat, nada suaranya terdengar seperti improvisasi darurat.
Kali ini Jason benar-benar jadi tameng, menyelamatkan Noah dari tatapan curiga Megan.
Sekilas, Jason melirik ke arah majikannya dengan ekspresi ‘please, Tuan… stop sok tau soal bahan makanan. Diam itu jauh lebih aman sekarang’.
“Oke… karena tadi pagi kamu sukses bikin kopi seenak barista, aku pilih percaya” ucap Megan dengan senyum misterius, seolah sedang menyimpan rahasia kecil.
Mereka lanjut ke lorong minuman dingin penuh botol sparkling water dan jus buah. Megan baru saja mengambil satu kotak s**u almond ketika suara riuh terdengar dari arah kasir
Seorang wanita berpenampilan sleek, blazer pastel, heels runcing, rambut disanggul rapi, melangkah masuk. Tatapannya tajam tapi senyumnya profesional. “Hey.. tuan Noah?” ucapnya kaget, suaranya cukup keras untuk membuat beberapa kepala menoleh.
Noah refleks membeku. Jason langsung menjauhkan troli, Clara hampir menjatuhkan ponselnya. Megan menoleh cepat, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu. ‘Wait, apakah telingaku lagi ngaco atau..-’
Wanita itu mendekat, jelas-jelas mengenalnya. “Saya sekretaris Mr. Han, rekan bisnis Anda. Wah, nggak nyangka ketemu di Tesco Extra. Lagi belanja santai, ya?”
Noah tersenyum kaku, seperti patung lilin yang dipaksa hidup. “Eh… iya. Santai.”
Jason buru-buru maju, mencoba menutup situasi. “Belanja sehat, Bu. Tuan, eh, Noah, suka sekali pilih bahan segar.”
Megan langsung menahan tawa, tatapannya menusuk Noah.
“Kamu kenal sama wanita ini?” tanyanya, nada suaranya setengah menggoda, setengah curiga.
Noah cepat-cepat menggeleng, wajahnya kaku.
“Nggak! Mungkin dia salah orang. Aku kan sering diminta gantiin bos di rapat, jadi bisa aja dia salah kira aku bosnya,” jawabnya terburu-buru dan kelihatan sangat meyakinkan.
Megan mengangguk pelan, bibirnya tersenyum tipis.
‘Yeah… kayaknya Noah emang nggak kenal sama cewek itu,’ batinnya, seolah mencoba meyakinkan diri sendiri.
“Iya sudah, kita pindah ke lorong lain aja. Aku lagi pengen cari cemilan,” ucap Megan santai.
Jason, Clara, bahkan Noah sendiri langsung menghela napas lega, seakan baru lolos dari interogasi dadakan.
Namun di balik senyum Megan, ada kilatan rasa penasaran yang belum padam.
Apakah dia benar-benar percaya pada Noah? Atau justru semakin yakin ada rahasia besar yang disembunyikan?