Awkward Romance

1086 Kata
Manchester sore itu mendung tipis. Jendela besar rumah mereka berembun oleh hujan rintik. Belanjaan dari Tesco ditumpuk di dapur open space, sebagian masih berserakan di meja makan kayu panjang. Interior rumah itu jauh dari kata sederhana, lantai parket rapi, lampu gantung minimalis, sofa abu-abu elegan. Lebih mirip show unit apartemen premium daripada tempat tinggal yang dengan santainya mereka sebut ‘kos’. Megan duduk di ruang tamu, laptop terbuka di depannya. Wajahnya penuh kerutan. “Besok deadline proposal kerja sama. Perusahaan fashionku mau kolaborasi bareng beberapa brand besar. Tapi aku stuck di bagian konsep,” gumamnya sambil menatap layar kosong. Noah baru saja menaruh botol sparkling water ke kulkas built-in, lalu melirik ke arah Megan. “Proposal fashion?” tanyanya singkat. “Yeah. Harus ada konsep kampanye, strategi branding, sampai perkiraan budget. Semua harus rapi. Tapi aku bingung gimana bikin ide yang standout.” Megan menghela napas panjang, lalu menatap Noah dengan tatapan ‘tolong aku.’ Noah mendekat, duduk di sampingnya. “Coba kasih lihat draft kamu.” Megan menyerahkan laptop, Noah membaca cepat. Jemarinya mulai mengetik, menambahkan poin-poin strategis, positioning brand, target audiens, bahkan ide kampanye visual. Megan menatapnya dengan mata melebar. “Eh… kamu kok jago banget? Kayak creative director profesional.” Noah tersenyum tipis, mencoba meredam. “Aku… sering bantu bos bikin presentasi. Jadi terbiasa.” Megan mengangkat alis, lalu mencondongkan tubuh sedikit lebih dekat. Senyumnya nakal tapi suaranya terdengar serius. “Kalau ketahuan kamu tolong aku, apakah bos kamu tidak marah?” Noah menoleh sebentar, lalu kembali fokus ke layar. “Anggap saja aku tahu cara bikin semuanya terlihat aman. Bosku nggak perlu tahu kalau aku main nakal di belakangnya” Megan menatapnya lama, lalu kembali ke laptop. “Well… terima kasih. Kalau bukan karena kamu, aku nggak bakal bisa bikin proposal ini kelihatan keren.” Noah hanya mengangguk, wajahnya sedikit tegang. Megan kemudian pamit ke kamarnya, yang letaknya masih di lantai yang sama, hanya beberapa langkah dari ruang tamu. Ia berniat mengambil ponselnya. Namun begitu pintu terbuka, kedua matanya langsung melebar. Air meluap deras dari kamar mandi, mengalir ke lantai dan membuat seluruh kamarnya nyaris kebanjiran. “What the heck is this!” serunya kaget, suara cukup keras hingga langsung menarik perhatian Noah di ruang tamu. Megan melangkah pelan masuk ke kamar, jemari meraba dinding seolah mencari pegangan. Lantai terlihat mengilap, licin, dan jelas bukan tempat yang ramah untuk aksi terpeleset ala slapstick. “Tenang… biarkan aku cek dulu apa yang terjadi,” gumamnya lirih, nada setengah penasaran setengah waspada. Ia maju beberapa langkah, mata menyapu genangan tipis yang merayap di sudut ruangan. Baru saja ia hendak menunduk lebih dekat— “Hey, kamar kamu kenapa bisa kebanjiran?” suara Noah terdengar dari ambang pintu. Ia sudah menanggalkan sandal rumahnya, lalu melangkah masuk dengan ekspresi setengah serius, setengah heran. Megan menoleh cepat, wajahnya penuh dengan rasa bersalah. “Hmm… kayaknya aku lupa matiin pipanya,” jawabnya sambil meringis, nada suaranya jelas-jelas berusaha terdengar santai padahal situasi sama sekali nggak santai. Noah mendekat, menatap lantai yang basah dengan alis terangkat. “Lupa matiin pipa? Kamu serius?” tanyanya, nada datarnya justru bikin suasana makin canggung. Megan mengangkat bahu, senyum nakal muncul. “Ya ampun, kan baru hari kedua aku di sini. Anggap aja ini… first impression versi basah-basahan.” Noah menatapnya lama, lalu menarik napas panjang. “Kalau terus seperti ini, tiga bulan ke depan akan lebih rumit dari perkiraanku. Rumah ini bisa runtuh, tinggal puing.” gumamnya. Noah baru saja melangkah lebih dekat, matanya fokus ke arah genangan air. Namun lantai licin itu ternyata lebih licin dari yang ia kira. Srek! Kakinya tergelincir, tubuhnya kehilangan keseimbangan. “Eh—!” seru Noah refleks. Dalam sepersekian detik, ia menabrak Megan yang berdiri tepat di depannya. Tubuh mereka saling bertumbukan, membuat Megan terhuyung mundur. Namun sebelum benar-benar jatuh, Noah secara refleks meraih lengannya. Bugh! Keduanya justru berakhir sama-sama terduduk di lantai licin, posisi mereka terlalu dekat, napas beradu, wajah hanya berjarak beberapa sentimeter. Megan refleks meraba bokongnya, memastikan semuanya baik-baik saja. “Untung pantatku aman. Kamu sih, kenapa jatuh pake acara ngajak-ngajak orang? Apa nggak bisa jatuh sendiri?” omelnya sambil mendorong tubuh Noah sedikit menjauh. “Sorry,” ucap Noah pendek, wajahnya merah merona, entah karena malu atau karena posisi tadi terlalu dekat. Ia berusaha bangkit dengan hati-hati, tapi lantai licin itu kembali berkhianat. Srek! Kakinya tergelincir lagi, dan kali ini tubuh atletisnya justru jatuh tepat menimpa Megan. Bruk! Mereka berakhir dalam posisi yang jelas-jelas amat sangat tidak baik-baik saja. Noah menahan napas, wajahnya hanya sejengkal dari Megan. Sementara Megan membeku, matanya melebar, jantungnya berdegup kencang tak karuan. Tepat di saat itu juga— “Tu-tu-tu—” suara Jason terdengar dari ambang pintu, matanya nyaris keluar melihat pemandangan di depan. Noah refleks memotong cepat, nada suaranya tegas tapi jelas gugup. “Tuan Jason, tolong matikan pipanya.” Jason terdiam sepersekian detik, lalu mengangguk cepat. Dengan langkah kikuk, ia masuk ke kamar, berusaha menahan ekspresi kagetnya. Ia menuju kamar mandi, dan benar saja, air dari pipa bathtub masih menyala deras, jadi biang kerok banjir kecil itu. Sementara itu, Megan masih terjebak di bawah tubuh Noah. Wajahnya merah padam, malu sudah sampai ke ubun-ubun. Ia mendengus, lalu melirik Noah yang baru saja menyingkir dari atas tubuhnya. “Nah, kan. Aku udah bilang, jatuhnya jangan ngajak-ngajak orang. Lihat sekarang, ada penonton gratis,” omelnya dengan nada setengah kesal, setengah malu. Noah buru-buru berdiri, wajahnya makin merah. “Kamu pikir aku sengaja?” ucapnya cepat, nada defensif tapi jelas canggung. Jason, yang baru saja mematikan pipa di kamar mandi, kembali berdiri di ambang pintu. Bukannya pergi, ia malah menatap mereka dengan ekspresi bingung. “Apakah saya perlu panggil tukang ledeng atau… tukang pijat?” tanyanya polos, membuat suasana makin absurd. Megan spontan memejamkan mata. “Kenapa sih… kamu masih ada di sini?” gumamnya lirih, terjepit antara keinginan untuk berteriak kesal atau lenyap saja dari muka bumi. Jason kemudian melangkah mendekat ke arah Noah, suaranya diturunkan jadi bisikan cepat. “Tuan, ada hal penting yang harus saya sampaikan.” Noah menoleh, masih berusaha menenangkan diri. “Apa?” tanyanya singkat. Jason menelan ludah, lalu berkata pelan tapi tegas, “Nyonya Kingsley… sudah landing. Sekarang beliau sedang dalam perjalanan. Mungkin akan tiba kapan saja.” Seketika kedua bola mata Noah membulat sempurna. “Apa!?” serunya, suara lebih tinggi dari biasanya. Megan menatap Noah dengan alis terangkat, penuh rasa ingin tahu. “Nyonya siapa? Dan kenapa kamu kelihatan kayak habis dengar kabar kiamat kecil?” Jason langsung pucat, Noah tercekat, sementara Megan semakin penasaran.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN