Angin malam yang dingin berhembus, jalan raya yang ramai dengan suara kendaraan masih terdengar samar-samar di telingaku. Aku memegang sebuah es krim rasa stroberi dengan waffle di tanganku. Jantung ku berdetak cukup keras. Tanganku terasa dingin namun bukan es krim atau udara malam penyebabnya, melainkan laki-laki yang berjalan bersamaku saat ini. Aku tidak berpikir panjang saat mengajaknya membeli es krim dan membawanya ke taman terdekat dari pusat perbelanjaan, saat itu suasana hatinya terlihat buruk. Saat ini aku bahkan tidak bisa menikmati es krim yang dia belikan. Aku menarik napasku dan memanggil namanya, "Asher." Dia menoleh padaku, matanya yang berwarna biru itu menatapku dengan datar dan itu membuatku bertambah gugup. Aku menunjuk kursi taman yang paling dekat dengan kami. S

