Fake

1045 Kata
Frans ingin turun ke kamar Tony. Namun pintunya tidak bisa dibuka. Frans mengira pintu kamarnya rusak. Berulangkali ia mencoba namun usahanya membuka pintu gagal. "Ada seseorang di sana!" teriak Frans. Tak ada sahutan. "Hello! Aku terkunci di dalam!" teriak Frans lagi. Frans tak mengerti. Tiba-tiba pintu terbuka. Frans sudah girang ingin keluar, namun kemudian pintu tertutup dengan cepat. Yang ia temukan hanyalah baki berisi makanan dan minuman. Kini ia mengerti Frans menjadi tahanan rumah. Dengan kesal ditendangnya pintu. Frans mencoba berpikir dengan tenang. Jika ia melawan dan menggunakan kekuatannya untuk menyelinap, kemungkinan ayahnya akan curiga. Frans yakin, saat ini ia sedang diawasi. Untuk memastikan Frans melihat ke luar kamar dari beranda. Sesuai dugaan banyak penjaga yang mengawasinya. Adam sepertinya tidak main-main untuk menghukumnya. Akhirnya, Frans duduk di lantai seraya bersandar ke tepi dipan. Ia merasa akan meledak karena terus disalahkan dan diperlakukan layaknya penjahat. Tapi Frans sadari dirinya memang bersalah. Uang itu tetaplah uang ayahnya, bukan miliknya. Mungkin usulan Tony untuk menjual posternya tidak ada buruknya. Ia butuh uang untuk mengganti uang ayahnya dan juga tetap menanggung hidup Angel dan neneknya. 'Sean, kau mendengarku,' tanya Frans melalui mindline. 'Iya, Yang mulia,' sahut Sean. 'Katakan pada Tony, cepat lakukan rencananya untuk menjual posterku. Aku butuh uang sebanyak yang aku pinjam dari ayahku dan selebihnya untuk Angel dan neneknya,' ucap Frans. 'Siap Yang Mulia, jika kau butuh sesuatu katakanlah padaku atau Ayah,' ucap Sean. 'Ya,' sahut Frans. 'Tolong bilang pada Tony, hubungi Angel aku sedang tidak ada, jadi jangan menungguku tapi juga jangan keluyuran,' ucap Frans lagi. 'Siap Yang Mulia,' sahut Sean. Frans mendesah. Ia bangkit, mengambil beberapa buku untuk dibaca. Jika mengantuk akan tidur, begitu bangun baca lagi. *** Jessy begitu semangat mengetahui rencana Tony. Ia sendiri yang memilih foto Frans dan mendesainnya. Semua dalam edisi eksklusif dan tentu saja harganya ia jual mahal. Tidak tanggung-tanggung dalam sehari poster Frans terjual sampai ratusan. Tony dan Sean mendapat tugas mengantar paket. Bahkan jika pembelinya jauh Sean melibatkan para vampire untuk mengantarnya. Kerja sama yang baik itu membuat uang cepat terkumpul. "Sesuai dugaan, penggemar Frans banyak sekali," ucap Tony puas. "Jangan berpuas diri dulu. Kau kan ahli medsos manfaatkan itu dengan baik. Jalin komunikasi dengan mereka dan dengarkan apa keinginan mereka," ucap Jessy. Tony mengangguk. Ia meraih handphone-nya. Banyak pesan masuk. Namun ada sebuah pesan dari nomer baru yang menanyakan kabar Frans. Ternyata itu dari Angel. Tony baru ingat jika dirinya belum menyampaikan pesan Frans. Tidak menunggu lama Tony langsung mengajak Sean ke rumah istri rahasia sahabatnya itu. "Kalian," sapa Angel begitu membuka pintu. Wajahnya nampak sedih dan matanya bengkak. "Apa kau baik-baik saja?" tanya Tony. "Duduklah, maaf jika berantakan. Nenek baru saja meninggal. Frans tak ada kabar, jadi aku bingung harus menghubungi siapa," tangis Angel pecah. Tony dan Sean saling bertatapan. "Sebenarnya dua hari yang lalu Frans berpesan padaku, agar kau tak menunggunya ia sedang tidak ada di sini. Nanti jika sudah kembali ia akan segera menemuimu," ucap Tony. Sean tak sengaja melihat beberapa tas yang sudah di packing rapi. "Mengapa kau seperti hendak bepergian?" tanya Sean. "Ini bukan rumah kami. Ini milik keluarga Mauren. Mereka mengijinkan kami tinggal karena mengingat jasa nenek di sana. Namun ketikan Nenek meninggal mereka memintaku pergi karena ada yang menyewa rumah ini. Kecuali aku mau menjadi pembantu keluarga mereka. Tapi aku tidak bersedia karena Frans tidak mengijinkan aku," cerita Angel. Tony mendadak pusing mendengar semuanya. Rasanya ia tidak akan mampu menikah di usia muda dan bertanggung jawab atas hidup orang lain. "Rencananya kau akan kemana?" tanya Tony. "Bagaimana kalau ke asrama saja. Biar aku bantu mendaftarkanmu ke paman Samuel." Angel menggeleng. "Terima kasih. Aku tidak bisa. Setidaknya aku harus menjaga nama baik Frans. Jika aku ada di asrama dan suatu saat hubungan kami bocor apa yang akan terjadi. Aku tidak ingin Frans terkena masalah. Lagipula aku sudah menyewa kamar kos. Aku akan tinggal di sana seraya berjualan online," ucap Angel penuh semangat. Tony merasa sangat prihatin. Di sisi lain Frans sedang diuji kesabarannya di sisi lain pula Angel isterinya sedang berjuang. "Ini, mungkin kau akan merindukannya," ucap Sean menyerahkan salah satu poster Frans. Begitu melihat poster tersebut, mata Angel langsung berbinar. Ia terlihat bahagia. "Jika ada pesan yang harus ku sampaikan pada Frans, kau bisa hubungi nomerku," ucap Sean seraya menyerahkan nomernya. "Terima kasih," ucap Angel menerima kertas berisi nomer Sean. Tony dan Sean memutuskan membantu Angel ke tempat kos barunya. Mereka membawakan barang-barang Angel. Setelah selesai barulah keduanya pamit. "Bagaimana caranya kita memberitahu Frans," gumam Tony di sepanjang jalan. "Biar aku saja," ucap Sean. Tony mengangguk lega. Mungkin Sean sebagai sesama vampir bisa berkomunikasi dengan Frans melalui cara yang tidak dimengerti olehnya. Yang penting Frans bisa mengetahui kabar isterinya. 'Tuan, uang yang terkumpul sudah bisa untuk melunasi uang yang digunakan kemarin,' ucap Sean melalui mindline. 'Simpankan saja dulu. Aku akan memberikannya setelah Ayah melepasku,' balas Frans. Sean merebahkan dirinya. Ia sangat lelah sampai sebuah pesan masuk, dari Angel. 'Apa kau sudah mengabari Frans. Apa dia baik saja?' Sean terdiam, ia lupa tidak mengabari Frans. Sean kembali mencoba menghubungi Frans namun sepertinya kaisarnya itu sedang tidur. Karena tidak tega Sean langsung bilang sudah pada Angel. 'Apa dia menanyakan dan merindukanku?' Sean kembali bingung harus berkata apa. Namun ia kembali bilang iya. Mengingat wajah cantik Angel yang sedih Sean tidak mungkin tega. 'Dia ingin melihat wajahmu yang cantik.' Balas Sean. Tanpa disangka Angel mengirim fotonya. Jantung Sean langsung berdebar melihat foto Angel. Selain bau darahnya yang harum. Kecantikan Angel sangat alami. Auranya juga kuat, Sean yakin lelaki dari dua dunia menyukainya. 'Kau cantik,' balas Sean. 'Kaukah itu Frans?' Sean terkejut melihat balasan Angel, ia baru tersadar jika tadi terlanjur memuji kecantikan Angel. Karena takut ketahuan Sean langsung mengiyakan. 'Benarkah? Aku sangat merindukanmu.' (Angel) 'Aku juga.' (Sean) 'Bolehkah aku menelponmu?' (Angel) 'Jangan. Nanti ada yang mendengarku.' (Sean) 'Kau tak perlu bersuara..Vicall saja. Cukup ingin melihatmu saja,' (Angel) Sean terpojok, bagaimana jika ketahuan kalau yang mengirim pesannya bukan Frans melainkan dirinya. Tapi Sean tidak ingin dikatakan berbohong. Ia langsung membalas iya. Sean langsung berubah wujudnya meniru Frans. Saat Angel menelponnya menggunakan aplikasi video call, ia langsung mengangkatnya. Angel terlihat senang melihat wajahnya. Padahal ia hanya menyamar menggantikan Frans. "Aku selalu merindukanmu," ucap Angel. Entah mengapa mendengar ucapan Angel membuat Sean lupa kalau ucapan itu untuk Frans bukan dirinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN