Fake 2

1050 Kata
Angel bahagia setelah empat hari hanya bisa melepas kerinduan melalui pesan singkat dan kadang video call akhirnya Frans akan menemuinya. Ia sudah tidak sabar, berulang kali Angel menengok jendela kamarnya. Menunggu Frans datang. Ia sudah bersih, harum dan berdandan ala kadarnya. Ada banyak hal yang ingin Angel ceritakan. Ia tidak peduli apakah Frans akan mendengarnya atau tidak. Tiba-tiba angin berhembus dari jendela. Angel memeriksanya, namun tidak ada siapapun di luar, sementara malam terus merangkak semakin larut. "Hai cantik," ucap sebuah suara. Angel berbalik. Matanya langsung berbinar melihat Frans telah datang. Ia berlari hendak memeluk Frans, namun ada cahaya biru menghalanginya. Angel terpental jatuh. Cahaya biru itu keluar dari cincin pernikahannya. Cincin Blue Sky. Cahaya biru indah menyilaukan terus berputar di udara hingga muncullah sebuah naga berukuran seluas kamar. Angel mengenal naga tersebut. Naga biru mendengus menatap penuh amarah pada Frans. "Ada apa naga biru? Bukankah Frans tuanmu," ucap Angel. Ia merasa naga biru bersikap aneh. Di sisi lain Frans terlihat ketakutan. Wajahnya pucat pasi. Ia hendak lari namun cakar kaki naga biru menariknya lagi hingga jatuh di lantai kamar. "Apa yang kau lakukan! Frans!" teriak Angel berusaha membantu Frans, namun naga biru menghalangi. "Tunjukkan wujud aslimu," geram naga biru. Angel terkejut. Ia melihat ke arah Frans yang sangat ketakutan. "Jadi kau bukan Frans," Angel sangat terkejut. Hampir saja ia menyentuh lelaki yang bukan suaminya. Saat Frans palsu melompat ke jendela, naga biru langsung mengejarnya. *** Frans terjaga. Ini adalah hari keenam ia menjalani hukumannya. Besok Frans bisa keluar. Hal yang paling ingin ia lakukan pertama kali adalah melunasi hutangnya pada Adam. Setelah itu ia ingin melihat keberadaan isterinya. Entah mengapa setelah berada di dalam kamar selama enam hari wajah Angel terus terbayang di benaknya. Ia merindukan wangi tubuh Angel. Merindukan tatapan takut dan tidak berdayanya. Tiba-tiba seseorang terlempar ke hadapan Frans. Wajahnya mirip dirinya. Tapi dari wangi darahnya Frans tahu siapa pemuda di hadapannya. "Sean? Apa yang kau lakukan?" kejut Frans. Sean berubah wujud ke wajahnya semula. Ia langsung bersujud di kaki Frans. Apalagi di saat yang sama Naga Biru telah menginjakkan kakinya yang besar. Ia mengecilkan sedikit ukuran tubuhnya agar bisa leluasa bergerak di dalam ruangan. Kemudian dengan penuh hormat ia menunduk di hadapan Frans. "Hormat hamba Yang Mulia," ucap Naga Biru. "Ada apa ini? Mengapa kalian bersama dan mengapa kau menyamar jadi diriku?" tanya Frans. Sean langsung kembali mencium kaki Frans. Ia sangat takut dan menyesal. "Ampuni hamba Yang Mulia. Hamba khilaf. Hamba telah menyalahgunakan kepercayaan Anda," ucap Sean. "Aku tak mengerti, katakan yang jelas," ucap Frans. "Sa...Saya hendak menggantikan Anda menemui Angel," ucap Sean. Ia mulai menceritakan jika sebenarnya dulu, sejak melihat Angel pertama kali bersama Jane ia sudah menyukainya. Rencananya Sean akan menikahi Angel setelah tujuan ayahnya tercapai. Namun tanpa diduga adiknya sendiri memberikan Angel pada Frans. Mengetahui hal tersebut Sean melupakan Angel. Namun sejak Frans dihukum Angel selalu meminta tolong untuk bicara dengan Frans. Hal tersebut membuat Frans kembali simpati dan perasaan sukanya kembali lagi. Ia menyamar sebagai Frans. Berkirim pesan, melakukan video call, bermesraan lewat kata dan puncaknya Sean menyanggupi untuk mengunjungi Angel di kos batunya. Saat itu Sean mengaku sudah melupakan siapa Angel dan memang berniat tidur dengan Angel dengan memakai wajah Frans. Mendengar cerita Sean yang amat menjijikkan, membuat amarah Frans naik ke ubun-ubun, Frans merasa dadanya sakit. Tanpa dapat dicegah, ia langsung mencekal leher Sean. "Beraninya kamu. Ingin mati? Tangan yang mana yang sudah berani menyentuh milikku?" geram Frans. Selama ini ia sudah menderita di dalam kamar. Menahan diri untuk tidak berbicara dengan siapapun. Menahan diri untuk tidak keluar meski ia sangat bisa melakukannya. Menghormati hukuman yang diberikan dan menganggap itu sebagai sarana melatih kesabaran dan penebusan kesalahan. Dan sekarang seseorang yang dipercaya berusaha mengambil kesempatan untuk menyentuh miliknya yang berharga. "Ampun, hamba belum menyentuh Angel sama sekali," ucap Sean dengan susah payah. Ingin sekali Frans meremukkan wajah Sean saat itu juga. Ingin sekali ia mematahkan jari-jari Sean yang telah dengan lancang bermesraan dengan Angel atas nama dirinya. Ingin sekali jika diijinkan ia ingin Sean lenyap saat itu juga. Namun, semua itu tidak ada gunanya. Semua sudah terjadi. Frans melepaskan cekikannya. Ia mendekati Naga Biru. Dengan lembut dielusnya kepala Naga Biru yang menunduk di hadapannya. "Apa Angel baik saja?" tanya Frans. "Iya tuanku. Dia menderita namun tangguh. Neneknya sudah meninggal dan Angel tinggal sendirian." Frans menarik napas panjang berulang kali. Ia yakin pasti Angel kesepian. Bukan salahnya jika ia tidak bisa membedakan mana Frans asli dan bukan. Frans membuka kaus yang dipakainya kemudian menyerahkan kaus itu pada Naga Biru untuk diberikan pada Angel. Setelah mendapat tugasnya Naga Biru segera pergi. "Apa yang harus aku lakukan padamu Sean," ucap Frans. Sean menunduk dalam. Ia sadar kesalahannya amatlah besar. Jika saja sampai Sean menyentuh Angel pasti hukuman mati telah dijatuhkan kepadanya. Sean sangat menyesal telah terlalu larut memerankan pesan sebagai Frans. "Aku tahu kau peduli. Tapi dilihat dari sudut manapun apa yang kau lakukan ini salah," ucap Frans. "Hamba tahu Yang Mulia. Hukumlah hamba," ucap Sean. "Kemarilah, aku akan membuatmu setia kepadaku," ucap Frans. Sean mendekat. Sesekali ia menengok ke arah Frans yang sama sekali tidak menunjukkan ekspresi apapun. Setelah dekat Frans menangkup wajah Sean dengan kedua tangannya. Kedua mata mereka bertemu. Sean menatap manik mata biru laut di hadapannya. Mata Frans sangat indah. Ketampanannya luar biasa dan wangi tubuh Frans yang kini keluar memenuhi rongga hidung Sean. Memabukkan, menggairahkan, memikat, dan terasa manis. Mata Sean berubah merah. Kini fokusnya berubah arah ke leher Frans. Frans yang mengetahui hal itu sengaja berdiri menjauh. Ia berdiri di depan pintu beranda yang terbuka. Angin yang berhembus pelan menyegarkan wajahnya dan membuat wangi tubuh Frans semakin kentara. Wangi candu dari kutukan Cezar yang diturunkam Adam padanya. "Yang Mulia, ampuni hamba," ucap Sean lagi seraya merangkak ke arah Frans. Frans yang saat itu memunggunginya tersenyum tipis. "Bersumpah setia padaku," ucap Frans. Sean mengucapkan sumpahnya. Ia akan mati dan menderita jika melanggar sumpahnya. "Gigitlah," ucap Frans menjulurkan tangannya. Sean menerima tangan Frans dengan suka cita. Ia langsung menggigit dan menghisap darah tuannya. Di tempat lain Angel sedang mencium aroma tubuh Frans yang menempel di kaus yang dibawa Naga Biru untuknya. Kaus itu milik Frans. Angel bisa mencium bau keringat suaminya yang harum. Ia terus memeluk kaus tersebut hingga tidur. Untuk pertama kalinya Angel akan bisa tertidur dengan lelap ditemani kaus lelaki yang amat dicintainya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN