Tabrakan

1027 Kata
Untuk pertama kalinya Frans keluar dari kamarnya. Adam membuka pintu untuknya. "Aku harap kau bisa merenungi perbuatanmu," ucap Adam. Frans memberikan kode agar Tony yang berdiri tak jauh darinya untuk mendekat. Tony menyerahkan amplop ke tangan Frans. Kemudian Frans menyerahkannya ke hadapan Adam. "Ini adalah hasil aku dan teman-teman menjual poster. Aku bermaksud mengganti uang Ayah," ucap Frans. Adam menatap amplop coklat di hadapannya. "Tidak perlu. Aku sudah menemukan gadis itu. Mungkin Hari sudah menyeretnya ke kepolisian," ucap Adam. "Apa? Apa yang Ayah lakukan pada Angel!" kejut Frans membentak Adam. "Lihat! Beraninya kau melawan Ayah hanya demi gadis itu!" bentak Adam. Frans ingin marah dan ingin mendebat ayahnya namun ia harus menemui Angel. Frans langsung mencari Alferd. Ia meminta diantar ke rumah Angel. Melihat anak kesayangannya lebih memilih Angel dibanding dirinya Adam tidak terima. Ia juga menyusul kemana Frans pergi. Alferd yang mengetahui dimana kosan baru Angel terakhir kali langsung menuju tempat tersebut. "Angel!" teriak Frans. Kamar Angel terlihat berantakan. Frans bisa merasakan bau Hari di kamar tersebut. "Oh, syukurlah Hari sudah membawa gadis itu," ucap Adam. Kali ini Frans tidak bisa menahan amarahnya lagi. "Aku tak menyangka Ayah sekejam ini!" bentak Frans. Ia kembali turun untuk mencari Angel di kantor polisi. Namun sampai di bawah Adam sudah menahan lengannya. "Ayo pulang," ucap Adam. Meski telah menjadi manusia, sikap protektif Adam masih melekat dalam dirinya. Ia takut Frans mengalami apa yang dialaminya di masa muda. Dunia di luar sangat kejam. Ia takut Angel akan membuat Frans terluka. "Lepas Ayah, aku berjanji jika Angel sudah aman. Aku akan mengatakan semuanya kepada Ayah," ucap Frans. Mendengar itu Adam melepaskannya. Frans langsung berlari menuju mobilnya. Ia tidak menyadari ada kendaraan yang lewat dengan kecepatan tinggi. Hingga mobil itu menabrak dirinya sangat keras. Tubuh Frans langsung terpental dan jatuh kembali ke jalan. Darahnya langsung berceceran di jalanan. Alferd yang terlambat menyadarinya tidak bisa berbuat apapun. "Frans," kejut Adam. Waktu terasa terhenti. Ia langsung berlari ke tengah jalan. "Frans!" teriak Adam. Ia merengkuh kepala Frans yang terus mengalirkan darah. Darah hitam mengalir dari hidung, telinga dan mulutnya. "Frans!" Adam ketakutan. Adam membuka matanya. Ia terbatuk dan muntah darah. Tangan Frans mencoba menggapai wajah ayahnya. "Maaf," ucap Frans. "Angel... Dia istriku. Kami menikah karena terpaksa. Uang Ayah aku gunakan untuk menafkahinya." Frans terbatuk kembali. "Jangan bicara. Jangan bicara. Alferd cepat telepon ambulan!" teriak Adam seraya menangis. Alferd segera menelpon ambulan. Orang-orang sudah berkumpul. Bau darah Frans yang harum bagi bangsa dunia selain manusia langsung memancing mereka berdatangan. "Maaf, aku terlalu takut kau kecewa padaku. Karena itu aku... tidak...mengatakannya," ucap Frans kemudian matanya tertutup rapat. "Frans! Buka matamu. Kumohon!" tangis Adam. Ambulan pun datang. Mereka memeriksa keadaan Frans. Adam melihat dengan cemas ekspresi para petugas kesehatan itu. Mereka menggelengkan kepala. Adam merasa frustasi. "Tuan Adam. Sebaiknya anda mempersiapkan diri," ucap salah satu petugas. "Tidak. Tidak mungkin," ucap Adam langsung terduduk di jalan. Jasad Frans langsung diangkut ke ambulan. Samuel yang tadi dihubungi datang dan langsung memapah Adam. "Apa yang terjadi?" tanya Samuel yang terkejut melihat darah berceceran. Adam tak mampu menjawabnya. Ia hanya menunjuk ke arah ambulan. Samuel segera memasuki ambulan. Begitu melihat Frans sudah terbujur penuh darah, Samuel tidak bisa berkata apapun lagi. Namun ia memeriksa detak jantung dan napas Frans. Sudah tidak ada harapan. "Bagaimana bisa semua ini terjadi Dam!" bentak Samuel. "Apa kau masih bersikap arogant, keras dan posesive? Haruskah aku berkata berulang kali jangan terlalu keras pada anakmu. Kita sudah bukan yang dulu lagi. Jika seperti ini siapa yang bisa menyelamatkannya." Adam tak menyahut, namun air mata terus mengalir. Alferd menghubungi Sean. Situasi sedang memburuk. Ia meminta Sean untuk mengamankan Angel. Setelah itu ia menghubungi pimpinan vampire yang lain untuk tetap tenang. Mereka juga diminta menunggu perkembangan Frans selanjutnya. *** Jasad Frans sudah dibawa ke rumah duka. Banyak tamu berdatangan dari semua kalangan. Para vampire pun datang. Adam dan Tiara yang berada dalam kesedihan hanya bisa duduk dengan pasrah. Kini yang tertinggal hanyalah penyesalan. Terutama Adam. Kebenaran yang Frans ucapkan menjelang kematiannya menohok kesadarannya. Ia telah terlalu berburuk sangka pada putranya. Harusnya ia lebih berusaha mencari tahu apa yang menimpa Adam di pulau dan menanyakan secara baik-baik tentang gadis dan uang itu. Kini setelah kehilangan yang paling penting, Adam hanya bisa merasakan penyesalan yang mendalam. Frans sudah tiada. "Dam, bersabarlah. Umur manusia biasa memang terbatas. Kita akan merasakan kehilangan dan kesedihan dibanding dulu," ucap Brian. Adam tak berkata apapun. Ia sangat sedih dan sangat merasa bersalah. Sementara itu di sisinya Tiara terus saja menangis. Sejak kembali ke London ia akui tak lagi dekat dengan Frans. Sekarang ia menyesali semua itu. *** Angel mengikuti kemana Sean membawanya. "Kemana kau akan membawaku?" tanya Angel. "Ke kosanmu, tunggulah di sana sebentar. Setelah aku mendapatkan petunjuk kita akan ke tempat aman," ucap Sean. "Tunggu. Apa terjadi sesuatu?" tanya Angel. Sean tak menjawab. Ia terus saja membawa motornya dan menurunkan Angel di kosannya. "Jangan keluar, kecuali aku yang datang menjemputmu," ucap Sean. Angel menurut. Ia segera naik ke kamarnya kemudian mengunci pintu. Namun adanya beberapa polisi dan darah yang sudah mengering di jalan depan kosannya membuat Angel mengintip dari jendelanya. Sepertinya telah terjadi kecelakaan yang melibatkan orang besar. Beberapa wartawan datang meliput lokasi. Sesekali ia juga mewawancarai beberapa orang yang kemungkinan melihat kejadian tersebut. Karena tidak tahu harus melakukan apa Angel membuka handphone-nya berharap Frans menghubunginya begitu mengetahui salah satu pamannya menyeretnya ke kantor polisi. Namun tidak ada pesan apapun. Angel harus menelan kekecewaan lagi. Akhirnya ia mencoba menghubungi lebih dulu nomer Frans, namun tidak tersambung. "Apa kau tidak merindukanku Frans," gumam Angel. Karena bosan Angel membuka internet. Hampir semua berita menayangkan berita kecelakaan yang terjadi di depan kosannya. Saking banyaknya dan menjadi trending topik akhirnya Angel membuka dan membacanya. Judul semua berita mengatakan jika yang mengalami kecelakaan adalah putra Adam, remaja berumur delapan belas tahun itu tertabrak mobil yang melintas lalu kemudian meninggal di lokasi kejadian. Tangan Angel bergetar membaca berita tersebut. Ia mencoba meyakinkan sekali lagi siapa yang mengalami tabrakan. Namun semua berita mengatakan hal yang sama. Angel semakin yakin ketika salah satu berita menyertakan foto korban tabrakan yang meninggal dunia itu adalah suaminya sendiri, Frans Alexandru Cezar. Handphone yang dipegang Angel terjatuh ke lantai. Mata Angel mulai berkaca-kaca.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN