Pagi itu Frans dipanggil Adam di halaman belakang. Ia ditanyai kemana uang yang digunakannya, untuk apa dan sebagainya. Frans yang terus bungkam membuat Adam semakin marah.
"Frans, katakan sesuatu. Atau ayahmu semakin berburuk sangka padamu," bujuk Tiara saat Adam ke dalam rumah. Sebenarnya Frans bukannya ingin berbohong tapi ia tidak mungkin memberitahukan alasannya.
"Jadi gini ya, setelah kau kuberi kebebasan berkeliaran, uang mu menjadi tidak jelas pergi kemana. Apa kamu pergi ke club?" tanya Adam.
Frans menunduk.
"Apa kamu bermain perempuan?" tanya Adam lagi. Ia sudah mulai kehilangan kesabaran.
Sebuah pukulan keras menerpa punggungnya. Hampir saja Frans terjatuh antara terkejut karena dipukul mendadak dan sakit karena sabetan cambuk.
"Ayo bicara!" teriak Adam.
Tiara histeris melihat anak semata wayangnya dicambuk Adam menggunakan sebuah cambuk kuno yang entah darimana didapatnya.
"Sudah Dam, hentikan!" pinta Tiara.
"Ini akibat kalau kamu terlalu memanjakannya!" teriak Adam.
Tiara tidak terima. Selama ini Frans mandiri dan tak pernah manja kepadanya. Namun Adam terus saja menyalahkannya. Keduanya pun bertengkar, yang satu membela dan yang satu menyalahkan. Melihat semua itu Frans sedih. Baru kali ini ia melihat kedua orang tuanya bertengkar dan semua itu karena dirinya. Frans mendadak serba salah dan tertekan.
"Apa kau sudah bisu hingga tidak bisa bicara! Diam-diam ternyata kau melawan orang tuamu!" bentak Adam seraya kembali memukul Frans.
Pukulan baru berhenti setelah Tiara memeluk Frans. Melihat hal itu Adam semakin kesal, ia melempar cambuknya ke sembarang arah. Melihat Adam pergi dengan marah, Tiara menyusulnya. Hari yang sejak tadi diam memperhatikan semuanya, langsung mendekat ke arah Frans. Dengan penuh kasih diperiksanya bekas cambukan di tubuh Frans.
"Mengapa kau tidak mengatakan sesuatu? Om tahu betul kau tidak akan pernah melakukan hal yang Adam tuduhkan. Sejak kecil Om sudah merawatmu dan tentu hafal tabiatmu," ucap Hari seraya memeluk Frans. Ia tidak tega melihat punggung putih mulus Frans kini penuh dengan noda merah memanjang di berbagai sisi.
Frans hanya diam membisu. Ia melepaskan pelukan Hari lalu pergi ke dalam kamarnya. Mandi dengan cepat untuk ke sekolah. Tony telah menunggu di bawah sementara Sean hanya mengantar sampai di depan.
Sepanjang perjalanan tidak ada yang bersuara. Baik Frans maupun Tony semua sibuk dengan jalan pikiran masing-masing. Hari itu sekolah bebas pelajaran, karena hari itu hari terakhir di sekolah sebelum liburan kenaikan kelas. Frans memilih duduk menyendiri di bangku taman. Sementara Tony berdiri tak jauh darinya. Ia sengaja menjaga jarak dari sahabatnya itu karena tahu Frans sedang ingin menyendiri.
"Hai," sapa Edward.
Frans hanya melihatnya sekilas. "Mau apa?" tanyanya dengan wajah menghadap ke depan.
"Ini," Edward menyerahkan amplop coklat. "Ayahku minta untuk mengembalikannya. Dia memintaku minta maaf dan menganggap semua hutang sudah lunas. Anggap sebagai kado pernikahan," ucapnya.
Frans mengambil amplop tersebut dan meminta Hari untuk menyimpannya. Setelah uang diterima, Edward tak juga beranjak dari samping Frans.
"Kau beruntung memiliki Angel," ucap Edward.
Frans hanya tersenyum. Ia tersenyum bukannya bangga. Tapi menertawkan hidupnya. Beruntung? Frans tersenyum lagi. Baginya Angel hanyalah sebuah kesalahan yang terpaksa harus dipertanggungjawabkan.
Karena Frans tidak bicara apapun akhirnya Edward memilih pergi. Saat itulah Angel melintas. Ia hanya menatap Frans sekilas. Perjanjiannya mereka berdua harus terlihat tidak akrab satu sama lain supaya tidak ada yang curiga. Di sisi lain beberapa siswa membuntuti Angel. Melihat itu Frans mendesah. Ia memukul kursi yang didudukinya hingga membuat sebelah kaki kursi patah.
"Sial," umpat Frans.
***
Entah sudah berapa kali Frans mencapai puncak kenikmatan. Ia selalu merasa ketagihan dan ingin selalu dipuaskan. Namun melihat Angel sudah kelelahan, akhirnya Frans memilih merebahkan dirinya di samping Angel. Ia merengkuh tubuh isterinya ke dalam pelukannya. Sekali-kali diciumnya rambut dan kepala Angel. Aromanya selalu berhasil membuat Frans tenang dan damai, seperti candu.
"Aku akan membunuhmu jika sampai kau mengijinkan lelaki lain menyentuh tubuhmu," bisik Frans.
Mendengar ucapannya Angel berbalik. Ia menatap wajah suaminya yang menjadi idaman banyak wanita.
"Bukankah seharusnya aku yang khawatir. Aku tahu kau tidak mencintaiku, suatu hari nanti kau akan meninggalkanku ketika kau menemukan wanita yang kau cintai," ucap Angel dengan suara bergetar menyimpan kesedihan dalam hatinya.
Frans menatap Angel. Bibir isterinya yang bergetar saat bicara mendorongnya untuk kembali melumat dan merasakan sensasi yang terus membuatnya kecanduan. Sampai keduanya kehabisan napas Frans baru melepasnya.
Angel terlihat sedang berusaha menetralkan napasnya. Ia tak pernah bisa menolak tiap sentuhan Frans padanya.
"Tidurlah, sudah malam," ucap Frans tidak menjawab ucapan Angel sebelumnya. Ia ingin tidur sebentar sebelum pulang ke kamarnya sendiri.
"Beritahu aku jika kau menemukan gadis yang kau sukai. Setidaknya, jangan pergi mendadak, beri aku waktu untuk menyiapkan diri," ucap Angel. Tangannya melingkar di perut Frans. Deru napasnya yang hangat terasa di d**a bagian kirinya.
Frans kembali memilih tidak merespon ucapan Angel. Namun tubuhnya kembali menegang saat Angel menggerakkan tangannya.
"Jangan memancingku," ucap Frans dengan napas berat.
Namun tanpa disangka Angel naik ke atas tubuhnya. Otomatis Frans yang tadi memejamkan mata langsung terjaga. Ditatapnya Angel penuh tanda tanya. Dari posisinya ia bisa melihat seluruh lekuk indah tubuh isterinya. Frans menelan ludah, sebagai vampir gairahnya tersulut dengan mudah dan tak pernah ada habisnya.
"Selama kau belum menemukan gadis yang kau cintai. Aku memutuskan menikmati kebersamaan kita. Maukah Kau juga melakukannya?" tanya Angel.
Frans mengangguk. Keduanya pun kembali melakukan penyatuan untuk kesekian kalinya.
"Kau milikku," bisik Frans di telinga Angel.
Keduanya berhenti saat fajar menyingsing. Frans segera memakai bajunya tidak lupa ia memberikan amplop berisi uang ke tangan Angel.
"Kelola dengan baik. Aku akan cari kerja," ucap Frans. Lalu ia keluar melewati jendela seperti biasa.
Dalam sekejap Frans sampai ke beranda kamarnya. Ia sangat kelelahan. Bermain semalaman membuat tenaganya terkuras habis.
"Dari mana kau? Sampai pagi baru pulang," tegur Adam dari sudut kamarnya.
"A...aku," Frans bingung harus menjawab apa. Sebuah tamparan langsung mengenai wajahnya.
"Aku tak menyangka diam-diam kau keluyuran," geram Adam.
Frans hanya mengelus pipinya. Untuk ukuran manusia biasa. Tamparan ayahnya sangat terasa sakit sampai di hatinya.
"Katakan siapa gadis itu. Dengar, mereka hanya menginginkan uangmu!" bentak Adam.
"Ini tidak seperti yang ayah bayangkan. Aku hanya..."
"Hanya apa? lelaki tak bertanggung jawab?" tanya Adam. "Mulai saat ini kau tidak kuijinkan kemana-mana meski liburan," putus Adam.
Frans tidak tahu harus berkata apa. Handphone, kartu, seluruh dompet miliknya dirampas. Frans hanya bisa pasrah. Ia memilih mandi lalu tidur kembali, ia sudah terlanjur lelah. Namun sebelum ke kasurnya ia mendengar keributan di bawah. Ketika dilihat, ayahnya sedang sibuk dengan pekerja untuk memotong dahan kayu yang sangat dekat dengan beranda kamarnya. Adam mengira Frans menggunakan dahan itu untuk menyelinap keluar dan masuk dari kamarnya.