Penyelamatan

1027 Kata
Frans menginjakkan kaki di atap rumah yang menyembunyikan Angel. Wangi tubuh isterinya sudah tercium. Ia juga bisa merasakan bau beberapa serigala yang sedang berjaga di pintu. Dalam sekejap Frans sudah di dalam. Ia memeluk Angel dari belakang. "Menungguku?" bisik Frans. "Frans?" kejut Angel. Frans mengendus tubuh isterinya. Ia mencoba memastikan serigala jadi-jadian itu tidak menjilati isterinya. Jika sampai ada bau se inci saja yang menempel Frans tidak mau berpikir lagi. Ia akan merontokkan gigi serigala itu sampai ompong. Setelah yakin tidak ada bau lain selain aroma Angel sendiri Frans melepas ikatan tangan Angel. "Ayo pergi dari sini," ucap Frans. "Bagaimana caranya?" tanya Angel. "Tutup matamu." Angel langsung memejamkan mata. Frans memeluknya dan dalam sekejap mereka sudah di atap. Serigala yang kebetulan melintas melihat keduanya. "Angel, naik ke punggungku cepat!" pinta Frans. Angel langsung naik. Ketika serigala mulai mengejar. Frans terbang dari atap ke atap. Ia tidak boleh terlalu cepat tetapi jangan sampai tertangkap. Ia harus menggiring seluruh kawanan ke tempat penyergapan. Ketika memasuki hutan. Kawanan serigala itu langsung berubah wujud menjadi serigala besar. Angel yang tidak menyangka sama sekali berteriak ketakutan. Ia sangat shock mengetahui mereka yang tadinya manusia berubah wujud menjadi serigala termasuk temannya sendiri Edward. Frans berhasil sampai di tempat yang ditentukan. Kawanan lycan telah bertemu dengan vampire mereka bertarung. Angel yang melihat langsung pertarungan itu langsung berpegangan pada lengan Frans. "Tunggu di sini. Aku akan buat perhitungan," ucap Frans. "Jangan! Bagaimana jika kau terluka," ucap Angel. "Aku akan baik-baik saja," sahut Frans. Ia langsung melompat turun, kemudian mendarat di satu dahan pepohonan. Frans khawatir banyak pohon tumbang atau hewan tak bersalah mati karena pertarungan itu. "Bersujud semua!" teriak Frans. Semua yang sedang bertarung termasuk kaum Lycan langsung menekuk lutut tanpa terkecuali. Kaum lycan yang berlutut di luar kehendaknya sendiri kebingungan. "Edward, aku sudah memberimu kesempatan. Jika kau masih mengusik isteriku apa aku harus mengubahmu menjadi abu," ancam Frans. "Apa bukti jika dia isterimu!" bentak Edward. Serigala bermata hijau dengan bulu berwarna abu dan cream. Frans menjemput Luna. Ia menunjukkan cincin Blue Sky di jari tangan Luna. "Apa ayahmu tidak pernah memberitahumu cincin ini. Ini adalah cincin Blue Sky." "Palsu," bantah Edward lagi. Namun serigala yang lain sudah berubah jadi manusia biasa pertanda mereka menyerah. "Oh ya, jika saja aku memperturutkan kemarahanku aku pasti sudah meminta naga di dalamnya menyerangmu. Dragon! tunjukkan dirimu," perintah Frans. Cahaya biru memancar dari dalam cincin di tangan Angel. Lambat laun cahaya itu semakin membesar kemudian berbentuk Naga Biru. "Hormat saya yang mulia," ucap Dragon. Edward terkejut. Akhirnya ia mengubah dirinya menjadi manusia kembali. "Ampuni hamba Yang Mulia," ucap Edward mengakui Frans. "Berapa hutang isteriku padamu. Aku yang akan menggantinya," tanya Frans. "Sebenarnya, itu uang Ayahku. Beliau selalu marah karena uangnya belum kembali. Aku menggunakan kesempatan ini untuk mendapatkan Angel. dan berniat mengganti hutang Angel dengan uangku sendiri." Frans menghela napas. "Kirim angkanya ke nomerku jangan lupa nomer rekeningmu," ucap Frans. Edward sekali lagi menekuk lutut. Kemudian ia bersama yang lain meninggalkan tempat. Frans mengucapkan terima kasih pada beberapa vampire yang telah turut bergabung. Mereka semua menyatakan dengan bangga karena telah diberi kesempatan. Karena malam telah larut Frans segera mengantar Angel ke rumahnya. Sang nenek langsung berterima kasih kepadanya. "Nek, berhentilah bekerja di rumah Mauren. Aku yang akan menanggung kalian berdua," ucap Frans. "Tapi mengapa kau ingin menanggung kami?" tanya Sang nenek. Frans tak tahu harus bicara apa "Biar nanti Angel yang bercerita pada nenek. Aku pamit dulu," ucap Frans. Angel mengantar Frans sampai di depan. "Tunggu!" teriak Angel begitu Frans hendak keluar. Ketika Frans menoleh dilihatnya Angel berlari ke arahnya, kemudian ia berjinjit, mengalungkan tangan dan mencium Frans. "Terima kasih," ucap Angel dengan wajah merona. Frans tak bisa berkata apa-apa. Ia hanya diam lalu melangkah pergi. *** Adam berang melihat tagihan kartu kredit Frans yang lumayan besar. Ia tak mengerti untuk apa uang sebanyak itu. Padahal Adam tak pernah melihat Frans berbelanja sesuatu. Bisa dibilang belum pernah berbelanja sama sekali. "Tony! Tony!" teriak Adam. Tony segera mendekat, "Ada apa Om?" tanyanya. "Kau tahu, Frans membelanjakan uangnya untuk apa?" tanya Adam. Tony menggeleng. Ia memang tidak tahu, sementara Sean yang mengetahui kejadian itu bersembunyi di balik tembok. Sean yang mengirim uang ke Edward untuk melunasi hutang Angel. Sean juga yang mengirim uang banyak untuk belanja Angel setahun. Ia sudah menghitung kebutuhan Angel dan neneknya per hari lalu ia perkirakan menjadi setahun. Sean lalu mengirimnya ke rekening Angel atas perintah Frans. Wajar jika tagihan uang dalam jumlah besar dan mendadak itu membuat Adam mengamuk. "Kau kenapa Dam?" tanya Tiara. "Males. Aku ingin sendiri," ucap Adam menjauhi isterinya. Frans yang mengintip dari dalam kamarnya mulai berpikir untuk mencari pekerjaan. Tapi dimana ia bisa bekerja sementara dirinya belum lulus sekolah. Frans menjambak rambutnya sendiri, frustasi. "Tuan, bagaimana ini. Tuan Adam pasti menghukum Tuan kembali," ucap Sean yang masuk ke kamarnya. "Mau bagaimana lagi. Yang terjadi maka terjadilah," sahut Frans. Sean sangat prihatin dengan keadaan Frans. Sebagai seorang Kaisar, ia tidak berdaya menghadapi kedua orang tuanya. Pepatah benar adanya, sehebat-hebatnya seorang anak, ia tetap anak yang tidak bisa melawan kedua orang tuanya. "Coba carikan aku pekerjaan. Atau bisnis mungkin," ucap Frans. Sean berpikir. Namun otaknya buntu sama sekali tidak ada ide. "Aku ada ide," ucap Tony yang baru masuk dan mendengar ucapan Frans. "Apa itu?" tanya Frans dan Sean penasaran. "Kau kan punya banyak penggemar. Gimana kalau jual poster kamu yang bertanda tangan. Kita cetak," usul Tony bersemangat. Mendengar usulan Tony, wajah Frans langsung merah karena malu. Ia yang bukan idol apalagi artis mana mungkin menjual wajahnya sendiri. "Siapa yang mau beli posterku. Kau gila. Jangan malu-maluin," ucap Frans kesal. "Kau hanya tidak tahu banyak wanita mengimpikanmu di luar sana," rayu Tony lagi. Sejak dulu Tony selalu ingin menjual poster Frans. "Monster sepertiku? Diimpikan? Cari ide lain. Istri dan mertuaku butuh makan," ucap Frans. Tony dan Sean terdiam. Mereka berdua berpikir begitu serius namun kembali buntu. "Masalahnya gini, Kau kan putra Adam. Jadi gak mungkin kerja jadi pelayan, pedagang apalagi yang lain. Orang sedunia mengenalimu. Kalau postermu sendiri ada Jessy yang siap jadi bagian pemasaran," ucap Tony lagi. Frans tak menyahut. Ia justru menenggelamkan dirinya si balik selimut. "Sekali lagi kau mengucapkan ide gilamu itu. Ku jitak kepalamu," ucap Frans.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN