Persiapan

1015 Kata
Terdengar suara ketukan di pintu. Padahal di pintu sudah ada pengumuman tidak ingin diganggu. "Siapa?" tanya Frans. "Ini ibu!" teriak Tiara. Frans tidak memiliki pilihan lain selain membiarkan ibunya masuk. Dengan malas ia bangkit lalu membuka pintu. Begitu pintu terbuka, Tiara langsung memeluk Frans. "Kau lapar? Mengapa tidak makan? Apa kakimu sakit?" tanyanya Khawatir. "Aku baik saja," sahut Frans. Tiara menarik tangannya untuk duduk di tepian ranjang. "Maafkan ayahmu. Dia begitu karena khawatir dengan keadaanmu. Semalaman ia menelpon siapa pun di sekolahmu dan bertanya kau bertengkar dengan siapa? Namun tidak ada seorang pun tahu bahkan tak ada yang melihat," cerita Tiara. "Maaf, aku hanya jatuh saat naik pohon di hutan," ucap Frans. Meski alasan itu terdengar konyol di telinganya sendiri. Tiara merapikan rambut Frans. seraya berkata, "Kau sudah dewasa. Jadi, tolong mngerti lah. Jika ada apa-apa katakan saja pada kami," ucap Tiara. Frans mengangguk. Sekali lagi Tiara memeluk anaknya. *** Hari itu merupakan hari yang ditunggu, yakni kenaikan kelas. Pengumuman sudah di pasang di papan informasi. Mulai dari yang juara sampai yang tidak, namun semuanya naik kelas. Frans langsung malas begitu melihat kerumunan siswa di depan papan. Ia memilih menunggu dan membiarkan Tony melihat hasil di papan. Butuh waktu sepuluh menit agar Tony bisa mencapai papan, melihat semua nama lalu keluar. "Selamat, kita naik. Dan seperti biasa kau juaranya," ucap Tony. Sementara Frans biasa saja menanggapi. Tiba-tiba ia mengingat wajah seseorang. "Hmm, Angel?" "Owh, dia juga naik. Nilainya beda tipis denganmu," jawab Tony. "Ya sudah, Ayo pergi," ajak Frans. Frans langsung melangkahkan kaki. Ia ingat sesuatu. Saat itulah ia berpapasan dengan seseorang, Mauren. Ia berjalan sendirian. "Hai," sapa Mauren. Tony yang menjawab. "Sendiri?" tanya Frans. Mauren mengangguk. Rasanya aneh melihatnya tidak bersama Angel. "Selamat ya, nilaimu yang terbaik," ucapnya. Frans tidak menanggapi. Sedangkan Tony mengatakan Nilai Angel juga hampir mengalahkan Frans. Sepertinya Angel memang sangat cerdas. "Yah, harus aku akui. Memang dia cerdas, tapi nasibnya malang," ucap Mauren. "Apa maksudmu?" tanya Tony. "Tadi pagi neneknya datang ke rumah menangis. Ia berharap meminjam uang dari kami. Katanya mereka punya hutang pada rentenir. Karena memang miskin dan tidak sanggup membayar para rentenir itu membawa Angel dan memberikan waktu pada si nenek selama tiga hari. Jika neneknya ini tidak mampu membayar maka Angel akan dijual," ucap Mauren. Seperti mendengar petir di siang bolong Frans mendengarnya. Ia tidak berani membayangkan miliknya di sentuh banyak orang. Apalagi tangan kotor para rentenir. "Kau tidak membantunya?" tanya Tony. "Hutangnya terlalu besar. Kurasa aneh sekali. Hutang sedikit jadi besar. Sepertinya Edward memakai cara licik agar Angel menjadi miliknya," cerita Mauren lagi. "Edward?" kejut Frans. "Yah, dia putra sari si rentenir ini. Anak kelas berapa aku lupa. Sepertinya ia menyukai Angel," sahut Mauren lagi. Mulai mengerti apa yang terjadi Frans tidak bisa tinggal diam. Beraninya serigala itu memakai cara licik untuk merebut miliknya. Tanpa kata Frans meninggalkan Tony dan Mauren. Kebetulan hari itu sekolah bebas, jadi Frans bisa langsung pulang. Sampai di rumah ia tidak menemukan siapa pun. Sepertinya semua orang tengah pergi. "Kemana semua orang?" tanya Frans pada Alferd yang kebetulan duduk di beranda. "Semua ke kota untuk menghadiri sebuah acara. Tumben, pulang sepagi ini?" tanya Alferd. Frans tak menjawab. Ia lari ke dalam rumah menuju kamarnya sendiri. Ia ingat jika memiliki tabungan. Meski tidak tahu apakah itu cukup atau tidak. Setelah dicari tabungan sekaligus kartu debit dan kredit miliknya tidak ada. Sepertinya Adam telah mengambil semuanya. Ia tidak main-main saat mengatakan tidak ada uang untuk Frans yang tidak mau mengaku bertengkar dengan siapa. Frans mendesah. Ia kembali turun, mondar mandir di ruang tengah dan akhirnya memutuskan untuk ke rumah Angel. Frans meminta Alferd mengantarnya ke rumah Angel. Saat wanita tua membuka pintu, dengan tak sabar Frans menanyakan dimana Angel. Seperti kata Mauren anak buah ayah Edward membawanya. Jika ingin membebaskannya sang nenek harus menebusnya dengan uang tiga kali lipat hutang aslinya. Sepertinya mereka sengaja membuat si nenek tidak bisa membayar dan mendapatkan Angel. "Licik," geram Frans. Ia berjanji pada si nenek untuk menyelamatkan Angel. Frans kembali ke rumah. Mencari kartu debit yang pernah ayahnya berikan dan belum pernah ia gunakan. Setelah ketemu ia kembali turun. Bersama Alferd ia mengecek isi atm miliknya. "Tuan, anda tak perlu menggunakan uang anda seperti ini. Kita bisa memberi mereka pelajaran. Jangan lupa jika anda seorang Kaisar," tegur Alferd. "Astaga!" Frans menepuk jidatnya. Mengapa ia lupa. "Kalau begitu, ajak Sean dan beberapa orang. Yang akan kita hadapi ini bukan manusia biasa. Tetapi kawanan serigala." ucap Frans. Alferd mengangguk. Ia memutar kembali mobilnya memasuki hutan. Menelpon beberapa orang termasuk Sean untuk menemui mereka di tempat yang telah disebutkan. "Kita harus mengatur strategi. Mereka bersembunyi di tepian kota. Bagaimana pun caranya jangan sampai manusia mengetahui apa yang terjadi, aku akan menyusup dan menyelamatkan Angel kemudian membawanya kemari, mereka pasti mengejar aku jadi aku akan memancing mereka kemari," ucap Frans. Alferd menekuk lutut. "Mohon maaf Yang Mulia. Biar hamba yang melakukannya. Anda menunggu saja di sini," pinta Alferd. "Tidak Alferd. Dia istriku, aku tidak suka dia ada dalam gendongan orang lain. Kau mengerti," ucap Frans tegas. "Baik Yang Mulia," ucap Alferd. Frans tidak akan terima isterinya di sentuh siapa pun meski orang kepercayaannya sekalipun. Ia akan menghajar siapapun yang akan menyentuhnya. Tak lama Sean dan beberapa vampir yang dianggap kuat sudah datang mereka pun bermusyawarah dan mengatur strategi. Meski vampir bisa terbang sesuka hati serigala bukanlah makhluk yang bisa dianggap enteng. Mereka juga kuat dan cerdas. Apalagi jika sudah dalam satu kawanan. "Beraninya Edward tidak mengindahkan peringatanku dan memakai cara licik ini menculik isteriku, andai saja tidak terikat perjanjian untuk menjaga dua alam. Aku pasti akan membunuhnya saat ini juga," geram Frans. Matanya merah sesaat. Alferd dan yang lain tahu jika dirinya sedang benar-benar marah. Antingnya berbunyi begitu bergerak. Menandakan letupan kekuatan besar yang sedang ditahan. Meski masih remaja. Kekuatannya saat menghancurkan rudal sudah menjadi tanda seberapa hebat kemampuan Frans. Jika saat ini ia bersabar tidak meluluhlantakkan markas Serigala dan memakai cara lebih lama itu hanya karena kebijaksanaan Frans semata untuk tidak membunuh sembarangan dan membuat kericuhan. Perjanjian bangsa dua alam dengan manusia membuat Frans sebagai Kaisar disumpah untuk menjaga keseimbangan alam dan menciptakan perdamaian dua dunia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN