Bungkam

1017 Kata
"Frans," tegur Adam. Frans terus melangkah ke dalam rumah. Tony berdiri takut di belakangnya. "Berhenti di situ," ucap Adam lagi. Kali ini Frans berhenti. Ia menunggu ayahnya menghampiri dan tentu saja akan menjadi urusan panjang saat melihat beberapa luka ditubuhnya. "Kau bertengkar?" tanya Adam. Frans mematung. Tidak sepatah kata pun ia ucapkan. "Ton, kau tahu dia bertengkar dengan siapa?" tanya Adam. Tony menggeleng. Ia sungguh tidak tahu apa yang terjadi. "Ya sudah, biarkan Frans di sini. Kau masuk ke dalam," putus Adam. Tony segera masuk. Sementara Frans di suruh berdiri tanpa sepatu di halaman rumahnya. Dengan patuh ia menaruh tas sekolahnya. Lalu membuka sepatu dan mulai berdiri. "Kau tidak akan Ayah hukum jika saat ini mengaku dengan siapa kau bertengkar," pinta Adam. Frans tak menjawab. Ia langsung berdiri di halaman tanpa diminta. Ia tak punya banyak alasan untuk menjawab. Hal yang mustahil jika ia mengatakan bertengkar dengan seekor werewolf karena mempertahankan harga diri isteri yang dinikahinya secara terpaksa. Saat berdiri Frans hanya menatap tanah di depan kakinya. Ia tidak ingin melihat ekspresi wajah ayahnya lalu merasa bersalah. Semua sudah terlanjur kacau. Frans siap untuk selalu dihukum ataupun dijuluki anak pembangkang dan tidak menurut pada orang tua. Lebih baik begitu ketimbang ia memberitahu kenyataan yang terjadi lalu malah mengecewakan kedua orang tuanya karena ternyata anaknya seorang monster permanen. "Kau masih tidak ingin mengaku!" bentak Adam. Suaranya mulai terdengar tinggi. Frans tetap pada pendiriannya. Ia melakukan semuanya dan merasa benar dengan keputusannya. Ayahnya pun tidak bersalah. Ia hanya melaksanakan tugas sebagai seorang Ayah. "Baiklah, kau berdiri di sana Tidak boleh kemana pun apalagi makan sampai ku suruh atau kau mengakuinya," ucap Adam. Frans mendongak saat Adam masuk ke dalam membawa sepatu dan tasnya. Ia sangat sedih tidak bisa mengatakan apapun kepada ayahnya. Frans tidak ingin ayahnya kecewa jika mengetahui semua kebenarannya. Luka ditubuhnya juga tidak boleh lekas sembuh. Frans menahan tubuhnya sendiri untuk melakukan penyembuhan diri yang biasa dimiliki seorang vampir. Ia harus tampak se normal mungkin. Atau orang lain akan curiga dengannya. Dua jam. Tiga jam. Frans tetap berdiri. Ia tahu sesekali ayah atau ibunya melihatnya dari jauh. Aroma darah mereka sudah ia hafal di luar kepala. Tidak hanya itu, penciumannya yang tajam membuatnya tahu siapa yang ada di sekitarnya meski tidak melihatnya. Ia merasakan Tony yang terus berjalan bolak-balik di ruang tamu. Ia juga merasakan Alferd yang sesekali juga mengecek keadaannya. Sementara Sean sesekali melintas di dalam. Sedangkan sisanya mereka berkumpul di meja makan karena jam makan malam telah tiba. Mungkin bagi manusia biasa. Di hukum seperti itu sangatlah berat, namun Frans tidak bisa merasakan apapun. Ia hanya haus. Namun melihat keadaannya. Pasti Tiara yang paling mengkhawatirkannya. Andai saja Frans boleh meminta. Ia ingin kehidupannya di Australia. Ia merindukan kehidupan normalnya yang dulu. Sejak pindah ke London semua keanehan terus terjadi padanya. Frans ingin kehidupan normalnya kembali. Menjadi seorang Kaisar atau pimpinan suatu koloni, suami dari seorang isteri yang tidak ia cintai, bukanlah impian remaja seperti dirinya. Apalagi jika mengingat ia belum menafkahi Angel. Sementara hak batin telah Angel penuhi. Cinta atau tidak, ia tidak ingin mangkir dari kewajiban. Frans mendesah. Memikirkan semuanya membuat kepalanya pusing. Ia berpikir terlalu berat di usianya yang muda. Sebentar lagi akan ada banyak keriput di wajahnya karena terlalu banyak pikiran. Semua yang sudah terlanjur terjadi harus ia pertanggung jawabkan dengan baik. Meski masih muda ia juga lelaki sama seperti ayahnya atau lelaki lain. Harga diri lelaki ada pada kewajibannya. "Frans, kau masih tidak ingin mengatakannya?" tanya Adam. Frans tak bergeming. Adam semakin bingung menghadapinya. Ia tidak menyangka jika Frans betah dihukum seperti itu. "Masuklah dan makan. Mulai saat ini kau tidak mendapat uang saku," ucap Adam. Frans langsung masuk ke kamarnya. Ia membuka baju dan langsung mandi. Segarnya air membuat pikirannya yang tadinya kalut kembali segar. Setelah mandi Frans langsung memakai baju santai. Ia menulis sesuatu di kertas lalu menempelnya di pintu. Setelah selesai Frans mengunci pintu. Dari tempatnya berdiri Frans berlari ke beranda kamarnya lalu melompat terbang melesat ke dalam hutan. Di belakangnya muncul Alferd dan Sean. Mereka mengikuti tiap gerakan Frans. Hingga berhenti di sebuah bangunan tua yang sudah tidak berpenghuni. Beberapa perwakilan vampire telah hadir di sana. Malam itu memang jadwal pertemuan rapat pertama setelah kejadian di pulau Darkness. "Hormat kami yang mulia!" ucap mereka serempak. Frans yang hanya memakai baju santai celana panjang dan kaus panjang meminta mereka semua berdiri. "Maaf, aku sengaja membiarkan tubuhku tetap luka. Karena aku tidak ingin ada yang curiga," jelas Frans menjawab tatapan penasaran seluruh vampire yang hadir. "Asal kalian tahu. Aku mendapatkan luka ini dari seorang Lycan," ucap Frans mengejutkan semua vampir. "Benarkah Yang Mulia?" tanya Alferd. Frans mengangguk. "Dia memintaku untuk menjauhi isteri ku sendiri. Menurut kalian bagaimana caranya agar koloni lain selain kita mengetahui jika gadis itu adalah milik kita?" tanya Frans. "Ampun yang Mulia. Anda harus menggigitnya. Bau taring anda bisa mereka cium meski bekasnya menghilang," ucap salah seorang vampir. Frans baru mengetahuinya dan berniat akan mencobanya. "Lalu, apakah kalian ada masalah lain?" tanya Frans membuka sesi tanya jawab dan sebagainya. Sean mencatat tiap pertanyaan. Sementara Alferd membantu menjelaskan maksud dari perkataan vampir dan aturan yang terhubung di dunia vampir dan manusia. Alferd dan Sean membantu pekerjaan Frans di malam itu dengan cepat. "Aku harap kalian bisa mengatakan keinginan kalian atau masalah kalian melalui pesan singkat. Kirim ke nomer ini. Sean yang akan jadi admin untukku. Jika mendesak aku akan segera merespon jika hal biasa aku akan menjawabnya di malam hari. Sewaktu-waktu jika kita tidak bisa bertemu seperti ini, kita bisa melakukan video conference. Artinya apa, meski kita kuat dan sakti. Hemat lah, tenaga kita. Manfaatkan teknologi yang ada. Kalian paham?" tanya Frans. Semua vampir mengangguk paham. Mereka segera mengeluarkan ponselnya dan menyimpan nomer yang disebutkan Sean. Lalu setelah banyak nomer tersimpan Sean segera membuat grup chatting para pemimpin vampir. Pertemuan pun segera ditutup, semua bubar kecuali Frans, Alferd dan Sean. Mereka bertiga masih membahas mengenai grup message. "Kalau boleh tahu. Siapa yang berubah jadi serigala?" tanya Alferd. "Dia masih seusiaku. Juga teman di sekolah," ucap Frans. Karena malam semakin larut Frans segera memutuskan pulang. Ketiganya kembali terbang dan melompat di antara dahan kayu yang besar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN