Frans menghela napas lega. Akhirnya ujian pun selesai. Ia ke toilet sendirian namun langkahnya terhenti melihat Angel bersama lelaki lain. Keduanya nampak serius berbicara. Siswa di hadapannya menatap Angel dengan tatapan berbeda. Tatapan itu seperti tatapan memuja. Frans melangkahkan kakinya memasuki toilet. Ia melaksanakan hajatnya lalu mencuci tangan. Saat itulah siswa yang berbicara dengan Angel masuk juga ke dalam toilet.
Ia nampak berseri. Sesekali terbit senyuman kecil di wajahnya.
"Sepertinya senang sekali hari ini," ucap Frans.
Siswa tersebut terkejut menatap Frans. Lalu tersenyum.
"Kau Frans si Pangeran itu kan?" ucapnya. "Tentu saja senang. Untuk pertama kalinya aku bisa bicara dengan Angel."
"Angel?" ucap Frans pura-pura tidak tahu.
"Iya, sekilas dia terlihat biasa saja. Tapi asal kau tahu gadis itu adalah siswi yang diam-diam paling diincar di sekolah ini. Namun ya itu, tidak mudah merayu gadis yang memang berkualitas. Jika kau melihatnya, kau pasti mengerti. Kulitnya mulus alami. Wajahnya bak rembulan. Bibirnya, apalagi," ucapnya memuja kecantikan Angel.
Mendengar seorang lelaki memuja Angel. Frans ingin mengamuk setengah mati. Hingga tanpa sengaja saking marahnya ia tidak bisa mengatur pegangannya pada kran hingga kran terlepas dan membuat air muncrat kemana-mana.
Keduanya segera memperbaikinya, namun baju keduanya terlanjur basah.
"Astaga. Maafkan aku," ucap Frans.
"Tidak apa-apa," ucapnya.
"Siapa namamu?"
"Aku Martin,"
"Aku Frans."
"Yah, aku sudah tahu. Kau dijuluki pangeran. Kurasa semua orang tahu itu," ucap Martin seraya mendorong kacamatanya yang sedikit melorot.
Frans pun keluar lebih dulu.
"Dasar, culun begitu, Apa selera Angel lelaki seperti itu," omel Frans.
Ia hanya tak menyangka jika Angel disukai banyak siswa.
Frans berjalan menuju kelasnya. Tak sengaja ia kembali melihat Angel yang berjalan di belakang Mauren. Semua siswa menggoda Mauren tapi mata mereka tertuju pada Angel. Benar kata Martin, mereka diam-diam menyukai dan mengincar Angel.
"Mengapa wajahmu ditekuk begitu?" tanya Tony.
Frans tak menyahut. Ia merasa sangat kesal. Tapi tidak tahu apa yang membuatnya kesal dan marah tak karuan. Moodnya jadi berubah, yang tadinya baik mendadak merasa buruk. Mendadak ia ingin pulang dari sekolah.
Frans segera memakai tas ke punggungnya. Ia merasa malas. Tadinya ia ingin menghabiskan waktunya di sekolah. Tapi semua sudah tidak menarik lagi.
"Frans, mau kemana?" teriak Tony.
Frans tak mau mendengarkan. Ia berjalan meninggalkan Tony, namun arah yang dituju justru bukan rumah. Ia berjalan memutar ke tepi hutan. Di antara pepohonan Frans melempar tasnya dengan kesal.
"Sial!!!" teriak Frans.
Suaranya membuat burung yang bertengger di pepohonan sekitarnya beterbangan seketika. Frans tak mengerti dengan apa yang terjadi dengannya.
"Dia yang ada di foto itu bersama Mauren," ucap George. Entah sejak kapan ia sudah ada di sana bersama seorang siswa tampan bertubuh kekar.
Frans mencium bau menyengat dari pemuda tersebut.
"Apa peringatan ku tidak cukup membuatmu menjauhi Mauren dan Angel?" tanyanya.
"Siapa kamu?" geram Frans. Ia merasa menemukan seseorang yang tepat untuk dijadikan pelampiasan. Lagipula menurut penglihatannya siswa di hadapannya itu memiliki aura dan mata yang terasa tak asing.
"Namaku Edward. Aku akan membuat dirimu mengingat namaku selamanya," Edward menyerang Frans dengan tinjunya.
Frans menghindar. Edward cukup gesit saat menyerang.
"Katakan padaku, kau menyuruhku menjauhi Mauren. Karena kau menyukainya atau karena gadis yang ada di sampingnya, Angel?"
"Tentu saja karena Angel. Hanya aku yang berhak dekat padanya!" teriak Edward. Ia memukul pipi Frans dengan keras.
George tertawa senang melihat Frans terkena pukulan Edward hingga ia terpelanting jatuh masuk ke dalam hutan. Edward menyusul dengan mencekal leher Frans. Saat Frans menendang Edward dengan lututnya, siswa itu langsung jatuh tersungkur.
Frans berdiri. Ia merasa senang ada yang bisa diajaknya bertengkar. Apalagi moodnya sedang buruk. Dan Edward sangat tepat menjadi sasaran kemarahannya. Mendengar ia datang karena Angel, Frans semakin bersemangat untuk menghajarnya. Namun tanpa diduga, saat Edward mulai kalah dan keduanya masuk ke dalam hutan, mata Edward berubah. Ia menjadi serigala besar seketika.
"Lycan?" kejut Frans. Pantas saja bau Edward sangat tajam.
Edward yang telah berubah jadi serigala besar menampakkan barisan giginya yang tajam.
Frans mulai waspada. Ia tidak pernah berhadapan dengan makhluk di hadapannya. Konon dari buku yang pernah ia baca. Lycan atau werewolf adalah makhluk mitos yang sangat kuat dan berbahaya. Ia sama sekali tidak mengira makhluk itu benar-benar ada.
"Grrhhh," Edward menggeram.
"Cakar saja wajahnya. Biar dia jera dan tidak sombong!" teriak George.
Edward mulai menyerang, ia mengangkat cakarnya dan mengincar wajah Frans. Membaca gelagat itu Frans terbang dan mengambang. Edward dan George terkejut melihatnya.
Frans tertawa. Ia menukik tajam dan menghantam kepala Edward. Serigala besar itu terpelanting jauh kemudian jatuh di dasar jurang. Melihat Edward kalah George hendak melarikan diri, namun Frans tidak melepaskannya. Ia menghadang langkah George yang tengah ketakutan.
Frans menampakkan mata merah dan taringnya yang tajam. "Aku adalah kaisar vampire. Jika kau membocorkan rahasiaku akan ku pastikan kau mati kehabisan darah mengerti?" ancam Frans.
George mengangguk ketakutan. Saking takutnya ia ngompol di celananya.
"Katakan pula pada temanmu itu, jauhi Angel," ucap Frans. Ia kembali ke wujudnya semula lalu mengambil tasnya dan kembali ke sekolah.
Frans menuju UKS ia tidak ingin pulang dalam keadaan wajah lebam karena terkena pukulan. Angel yang kebetulan piket jaga di UKS langsung terkejut melihat keadaannya.
"Kau kenapa?" ucap Angel panik.
Frans yang tak menyangka petugas jaga adalah Angel langsung melihat ke arah lain. Ia terlanjur duduk di kasur UKS.
"Frans," ucap Angel mencoba menyentuh luka di wajah Suami rahasianya itu.
Frans langsung menghalau tangan angel. Ia masih marah.
"Tunggu sebentar," Angel mengambil beberapa kapas dan obat, tidak lupa plester. Ia menuangkan alkohol lalu mulai membersihkan beberapa luka di wajah dan tubuh Frans. Tidak lupa obat luka kemudian menutupnya dengan kasa dan plester.
Wajah Angel sangat dekat. Frans tak berkedip menatapnya. Aroma napasnya mengusik pertahanan Frans untuk menjauh dan tidak menyentuhnya. Ketika mata mereka bertemu Frans hilang akal. Diraihnya kepala Angel untuk mendekat. Lalu dengan pasti Frans mencium bibir Angel dengan lembut. Manis. Frans menginginkannya lagi. Lagi. Dan lagi. Sampai Angel menahannya.
"Ini di sekolah. Kau tidak ingin ketahuan kan," bisik Angel menyadarkan Frans.
Frans melepaskan Angel. Wajahnya memerah, ia kelepasan lagi. Mengapa segala hal yang berurusan dengan Angel Frans langsung tidak bisa berpikir. Yang ada hanya Angel dan Angel.
Frans meraih tasnya, "Kau masih sah isteri seorang Kaisar vampire. Ku harap kau tahu diri," ucap Frans sebelum pergi.