Weekend

1068 Kata
Frans bangun lebih pagi dari biasanya. Adam telah membangunkannya dan menunggunya mandi hingga berpakaian hanya untuk jalan-jalan di asrama. Sementara Tony, Jessy dan Sean masih terlelap di kamarnya. Ia memakai celana pendek dan kaos dengan warna senada. Sementara Adam memakai celana training panjang dan juga atasan kaus panjang yang senada. Keduanya berjalan ke asrama putri dan membuat para penghuninya langsung tampil cantik dalam lima menit. Sudah bukan rahasia lagi jika Frans telah diketahui sebagai putra Adam. Pangeran Blue Sky yang kini disorot banyak orang termasuk media. Berita tentang dirinya selalu ada. Meski Frans yang hampir tak pernah menonton Televisi, membaca berita di media online dan cetak itu tidak tahu jika foto dirinya selalu menjadi topik utama. Bahkan saat ini ketika ia berjalan dan mengikuti ayahnya mengunjungi asrama banyak wartawan telah mengabadikan momen tersebut. Adam memeriksa taman. Kebun hydroponik serta berbagai fasilitas yang dikhawatirkan rusak, semua ia periksa. Di belakang nampak Samuel, Hari dan Brian juga turut serta. Rombongan para lelaki tampan Blue Sky itu langsung terlihat mencolok. Kamera tak henti-henti menyorot mereka. Bahkan siaran langsung pun dibuka. "Frans, airnya mampet ternyata di sisi ini," ucap Adam. Frans melihat ke arah yang dimaksud. Namun kemudian petugas kebersihan mendekat dan membantu hingga sampah yang menutupi saluran berhasil di keluarkan. Samuel yang sejak tadi berdiri di belakang keduanya terus terpaku kepada anting Frans yang menjuntai di sebelah kirinya. Brian yang paham dengan tatapan Samuel langsung berbisik "Anting itu ia beli di pasar malam. Tony saksinya," ucap Brian se pelan mungkin. Samuel terdiam. Ia tidak tahu akan percaya atau tidak. Frans dan Adam lanjut memasuki asrama. Semua penghuninya langsung berbaris di depan kamarnya masing-masing. Seperti biasa Adam menyapa mereka semua. Menanyakan kabar lalu pelayanan dan makanan. Tidak lupa ia mengenalkan Frans sebagai putranya. Membuat semua mata hampir tak berkedip menatap Frans. "Hai semua, apa kabar?" tanya Frans saat ayahnya memaksa untuk bicara. "Saya tidak pandai beramah tamah. Jadi sebagai gantinya, hanya berharap ketampanan saya cukup ramah untuk kalian," ucap Frans datar. Semua penghuni asrama tanpa kecuali langsung tersenyum dengan wajah merona. "Sejak kapan kau pandai menggoda para gadis?" protes Adam. "Kalau begitu jangan usik aku, biarkan aku diam," sahut Frans kesal. Seluruh penghuni asrama langsung terpesona. Di belakang keduanya Samuel dan Brian tersenyum tipis. Orang tampan, kesal saja mempesona. Akhirnya, setelah puas memeriksa keadaan asrama. Mereka berlima kembali ke Blue Sky. Frans langsung masuk menuju dapur. Ia sangat haus. Sementara Adam dan yang lain masih melakukan wawancara di halaman depan. "Dari mana?" tegur Tony yang baru bangun seraya mengucek mata. "Jualan," sahut Frans sekenanya. Tony mengernyit, "Jualan apa?" Frans tak menjawab. Ia mengunyah telur yang sudah matang yang memang tersedia di meja. Lalu ia menuangkan lagi s**u vanila dingin ke dalam gelas lalu meneguknya. "Coba kau tengok sendiri di luar," ucap Frans. Ia kembali membuka kulit telur rebus. Tony yang penasaran langsung mengintip. Begitu melihat apa yang terjadi Tony langsung paham apa yang dimaksud dengan jualan. "Tapi sepertinya lelahnya berjualan membuatmu menghabiskan banyak telur," ucap Tony. Frans langsung mendelik. "Pergi sana! Jauh-jauh." Tony nyengir. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan segera ke kamar mandi sebelum mendapat amukan dari Frans. Selanjutnya Sean dan Jessy yang turun dari kamarnya. Mereka pun masih menguap. Frans ingin tertawa melihat Jessy, tapi beruntung mulutnya penuh dengan telur jadi ia masih bisa menahannya. "Astaga. Jadi kamu Jessy?" kejut Samuel yang baru masuk rumah dan langsung terkejut melihat Jessy di tangga dengan rambutnya yang megar. "Ada apa sih Dad," ucap Jessy panik. Ia segera ke kemarnya di belakang. Sementara Sean juga kebelakang. Kini hanya ada Samuel, ia duduk di depan Frans. Masih terpaku dengan anting di telinga kiri pemuda tampan di hadapannya itu. "Aku lihat cincin Blue Sky tidak ada si jarimu," tegur Samuel. "Aku menyimpannya. Takut hilang," sahut Frans beralasan. Padahal cincin tersebut telah ia berikan pada Angel sebagai cincin pernikahan. "Ada acara kemana hari ini? kalau tidak ada ikut kami saja ke pantai. Bagaimana?" tawar Samuel. "Weekend ke pantai?" tanya Frans. "Ya. Tapi bukan untuk liburan. Tapi untuk membangun kembali desa itu setelah dihancurkan beberapa vampir tempo hari. Kau masih ingat kan dengan Luna. Rencananya hari ini kami akan membangun makam semu seperti monumen untuk mengingat kematiannya bersama keluarganya. Juga korban lainnya," terang Samuel. "Aku akan ikut," jawab Frans tanpa pikir panjang. Ia langsung naik ke atas untuk bersiap. Tony, Sean dan juga Jessy turut serta. Adam dan yang lain di mobil depan. Sementara Frans, Sean, Tony dan Jessy di mobilnya sendiri bersama Alferd. Frans sangat tidak sabar mengetahui desa sekaligus rumah Luna. Rencananya monumen itu akan dibangun di bekas rumahnya yang sudah menjadi abu. Butuh beberapa jam tiba di desa yang terletak di tepi pantai itu. Frans jadi ingat bagaimana saat Misha menipunya tempo hari. Bukannya membawa menemui Luna. Misha justru membawa Frans bertemu gadis lain dan akhirnya terpaksa menikahinya. Beruntung wanita itu sudah mati karena ulahnya sendiri, jika tidak Frans yang akan membunuhnya dengan tangannya sendiri. Sampai di lokasi, persiapan sudah rampung. Saat peletakan batu pertama para panitia meminta Frans untuk meletakkannya, karena Frans pernah menjadi bagian dari peristiwa tersebut. Ia meletakkan batu pertama seraya membayangkan wajah Luna. Tanpa disuruh Frans juga membantu para tukang bersama Adam hingga monumen sederhana itu selesai dibuat. Sean dan Tony pun turut membantu. Ketika dianggap selesai sesi berdoa bersama pun dimulai. Frans menaruh karangan bunga di sebuah foto Luna dan keluarganya, Tony pun demikian. Mereka berdoa sesuai keyakinan masing-masing. Frans sangat sedih dan hatinya begitu sakit mengenang semua kenangan manis bersama Luna. Ia tidak akan pernah melupakan senyuman, kecantikan dan ciuman pertamanya bersama gadis itu. "Maafkan aku," gumam Frans dengan suara bergetar. Ia mengusap wajah Luna yang tengah tersenyum di foto. Tony menepuk Pundak Frans. Ia berharap Frans kuat dan mengikhlaskan kepergian Luna. Frans akhirnya bangkit. Kegiatan selanjutnya sebelum pulang mereka mengadakan acara tolak bala dengan kegiatan sesuai adat desa itu yang diakhiri dengan makan bersama hasil tangkapan laut. Ikan tangkapan yang masih segar itu, dagingnya terasa manis dan enak. Semua orang menikmatinya seraya duduk menghadap laut. Semua orang berharap tak ada lagi bencana dan peperangan. Vampir telah dianggap menghilang meskipun sesungguhnya pemerintah dan vampir telah mencapai titik kesepakatan perdamaian. Dengan dicabutnya undang-undang pembasmian vampir akhirnya perdamaian pun dicapai. Meski di dalam berita yang diumumkan ke media adalah peperangan antara penduduk pesisir dan penduduk pedalaman pulau Darkness. Frans menarik napas. Weekend hari ini sangat berarti untuknya. Akhirnya ia bisa melakukan sesuatu untuk Luna. Meski hanya peringatan kematian dan rasa sesal yang berikan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN