Blood Card

1065 Kata
Adam terkejut melihat penampilan Frans. Terutama anting yang melekat di telinganya. Anting yang pernah Adam miliki saat menjadi vampir. Bagaimana bisa Frans memiliki anting tersebut. Tidak mungkin anting yang memiliki corak lambang Blue Sky milik keluarga Cezar sudah dijual bebas. "Dari mana kau dapat anting itu?" tanya Adam menyelidik. "Beli di pasar malam," sahut Frans. "Jangan bercanda," timpal Adam tak terima. Frans tak menyahut. Ia segera ke kamarnya untuk ganti baju. "Dia memang membelinya di pasar malam," ucap Tony. Adam tak menyangka jika asesoris yang pernah dikenakannya itu kini menjadi barang murahan di pasaran. "Katakan, kalian makan malam dengan gadis?" tanya Adam pada Tony. Tony mengangguk. Jessy yang belum pulang segera bergabung. "Apa gadis itu cantik?" tanya Jessy penasaran. "Tentu saja, mana mungkin Frans mau kalau jelek," sahut Tony. Jessy langsung cemberut mendengar ucapan Tony. Ia langsung merasa cemburu mengetahui jika acara makan malam itu dengan seorang gadis. Tiba-tiba handphonenya berdering. Sebuah pesan masuk dari temannya. Pesan tersebut berisi foto Frans dan Mauren. Ternyata benar gadis itu memang cantik. Jessy segera naik ke lantai atas. Kebetulan pintu kamar Frans terbuka. Ia mengetuk pintu sembari bersandar di pintunya. Frans yang baru saja selesai ganti baju menoleh. Ia heran melihat Jessy masih di rumahnya. "Mengapa kau masih di sini?" ucap Frans ketus. "Besok kan hari Minggu. Jadi aku mau menginap," ucap Jessy. "Apa kau keberatan?" "Tidak. Asal jangan di kamarku," sahut Frans tepat sasaran. Jessy masuk dan duduk di kursi kamar Frans. Ia kehabisan cara agar bisa dekat dengan keponakan yang diidolakannya itu. Tony masuk dan bergabung dengan Jessy. "Sepertinya malam ini agak panjang. Bagaimana kalau kita bermain kartu," usul Jessy. "Ide bagus," jawab Tony. "Baiklah, kita main kartu berempat. Masuklah Sean." Sean masuk agak malu. Ia merasa kaku apalagi ada Jessy di sana. "Ini Sean, putra Alferd pengawal pribadiku," ucap Frans. Jessy dan Tony segera memperkenalkan diri. "Kau punya ide Sean. Agar permainan kali ini menarik?" tanya Frans. Sean mengangguk. "Malam ini, siapa yang kalah harus menyerahkan darahnya untuk dihisap pangeran," usul Sean. Frans langsung memukul kepala Sean. Karena menurutnya ia berbuat konyol. Namun anehnya baik Tony maupun jessy setuju dengan idenya. Frans tidak bisa berbuat apapun. "Aki menamai permainan ini sebagai kartu darah. Blood Card." "Seru!" teriak Tony dan Jessy. "Kalau aku yang kalah. Apa aku harus memberikan darahku ke kalian?" tanya Frans. "Kalau sama aku dan Tony sih gak masalah. Tapi kalau sama Jessy jangan," ucap Sean. "Kenapa?" tanya Jessy penasaran. "Otomatis akan jadi isterinya," sahut Sean. "Aku mau kalau gitu," ucap Jessy semangat. "Tidak boleh!" putus Sean. "Pangeran tidak boleh bermain. Jadi semua adil." Jessy mendesah kecewa. Tony malah tertawa melihat perubahan ekspresinya. Permainan kartu pun dimulai. Namun kartu yang dibawa Sean sangat unik. Katanya itu kartu bangsawan vampir. "Apa kau juga vampir?" tanya Jessy. Sean mengangguk. "Aku adalah abdi kedua setelah Tony." ucap Sean. Frans pura-pura sibuk dengan handphonenya. Padahal ia menghindari banyak pertanyaan Jessy. Ia sedang malas bicara. Permainan kartu pun di mulai. Frans segera turun ke bawah saat seorang kurir menghubunginya. Setelah tiga menit ia kembali lagi ke atas dengan membawa kantong plastik. Sesampainya di atas ia mengeluarkan beberapa minuman kaleng, snack dan injeksi. Semua pesanan itu ia bagi rata termasuk injeksi. "Ini untuk apa?" tanya Tony mengambil injeksi kosong dan melihatnya. "Kalau kalian kalah, isi injeksi itu sebesar satu mili saja. Terus tambahin setiap kalah. Aku tidak mau menggigit kalian semua. Gigiku bisa sakit," alasan Frans membuat Sean langsung tertawa. Sementara Jessy yang paling kecewa karena apa yang terjadi tidak sesuai bayangannya. Padahal ia berharap terus kalah lalu bisa digigit Frans dalam pelukannya. Permainan kembali dimulai dan diulang. Tabung injeksi yang kosong perlahan-lahan terisi sedikit demi sedikit. Frans yang tadinya cuek akhirnya ikut menonton dan kadang-kadang mengacau. Keseruan keempat remaja itu diintip Adam dan Tiara. Keduanya bahagia melihat putranya menjalani kehidupan normal layaknya manusia kebanyakan. Mereka tidak mengira dibalik semua itu tidak ada kata normal dalam kehidupan Frans. "Lihat, tabungku hampir penuh," ucap Tony. Jessy juga memeriksa tabung miliknya. Sean pun demikian. Tabung miliknya hampir penuh meski lebih sedikit ketimbang yang lain. Sementara Frans tengah tertidur dengan kepala di atas paha Sean. Mereka bermain di lantai. Di beranda kamar Frans. Setelah larut, ketiganya mulai tertidur satu persatu. Sean yang masih terjaga memindahkan tubuh Frans ke atas kasur dengan kekuatannya. Lalu ia menyelimuti Frans dengan penuh hormat. Sementara untuk Tony dan Jessy. Sean menghamparkan kasur lantai. Jessy di paling kiri, lalu Tony terakhir Sean sendiri. Ia merebahkan tubuhnya. Seraya menatap langit-langit kamar ia terus berpikir. Merasa beruntung diselamatkan Frans. Andai pemuda itu kabur dan membiarkan dirinya dan vampir lain yang telah berbuat jahat padanya, pasti Sean, Ayah dan vampir lain sudah menjadi debu sekarang. Frans bukan hanya Kaisar baginya tetapi juga penyelamat bangsa vampir yang tersisa. Ia adalah sang penyelamat. Meski sikapnya dingin, ia baik hati. Sean akan selalu berjanji setia kepadanya. Sean menaruh kartunya di lantai. Ia hendak memejamkan mata sampai sebuah kaki yang tidak menapak lantai melewatinya. Dilihatnya Frans terbang dalam kegelapan. Ia menerbangkan kartu di samping Sean ke arahnya. Entah karena apa Frans duduk menatap jendela di depannya seraya memainkan kartu yang berterbangan mengikuti keinginannya. Sesekali kartu itu terbang seperti kupu-kupu. Sesekali juga membentuk formasi sesuai keinginan Frans. "Yang Mulia, apa yang terjadi," ucap Sean se pelan mungkin. "Aku haus." Sean terkejut. Ia segera mengambil ketiga injeksi yang sudah penuh ke sisi Frans. "Mau ku suntikkan?" tanya Sean. Frans mengangguk. Sean segera menyuntikkan ketiga injeksi tersebut sampai seluruh tabung habis. "Terima kasih," sahut Frans. "Tidurlah, aku sudah tidur tadi," pinta Frans. Sean mengangguk. Ia kembali ke tempat tidurnya semula. Seraya memperhatikan bayangan Frans di depannya tak lama kemudian ia pun terlelap. Frans ke beranda kamarnya. Ia menghidupkan ponselnya dan mendapati foto Luna yang sedang tersenyum di sana. Entah mengapa malam ini ia sangat merindukannya. Kematian Luna yang tanpa jejak membuat Frans selalu ingin menyangkal kematian Luna dan ingin mencarinya ke ujung dunia sekalipun. Akan tetapi, Alferd memberitahunya jika Luna dan kedua orang tuanya meninggal dibunuh oleh bawahan Misha. Padahal saat itu Alferd tidak pernah meminta Misha membunuh Luna dan keluarganya. Karena Luna dan kedua orang tuanya masih dalam naungan perlindungan Alferd. Kenyataan jika Misha membunuh Luna karena kemauannya sendiri membuat hati Frans sakit. Karena ia yakin Misha melakukannya karena Frans menyukai gadis itu. Andai saja Frans tidak menyukainya pasti Luna hidup sampai sekarang. Memikirkan hal itu saja Frans rasanya ingin mati saja. Ia telah menyebabkan kematian gadis yang sangat ia cintai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN