Pagi itu, setelah ujian terakhir selesai. Frans mengecek bukunya di dalam tas. Salah satu buku tulisnya tidak ada. Seingatnya ada tiga buku yang ia bawa, tetapi mengapa hanya ada dua. Rasanya tidak mungkin ia salah mengingat. Mungkinkah ada yang berani menyentuh barang-barang miliknya.
Frans mengedarkan pandangan ke seluruh kelas. Tidak ada siswa yang terlihat mencurigakan. Adanya hanya siswi yang seperti cacing kepanasan melihat dirinya menatap ke arah mereka. Entah sampai kapan para gadis menyerah berpikir untuk membuatnya tertarik.
"Frans," panggil seorang siswa.
"Apa?"
"Tony diganggu anak kelas lain di depan toilet," lapornya.
Frans segera bangkit. Ia menuju toilet. Di sana Tony sudah di dorong secara bergiliran oleh beberapa siswa. Tony sudah berusaha melawan, namun tubuh siswa itu lumayan terlihat kuat.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Frans setibanya di tempat.
Kehadirannya di sana membuat semua siswa yang kebetulan melihat kini terlihat tertarik untuk menonton.
"Lihat, si paling tampan. Bintang sekolah ini sudah datang," ucap seorang siswa yang lumayan lebih besar tubuhnya dari Frans. Menurut beberapa suara bisikan siswa yang Frans dengar melalui bisikan telinganya siswa itu bernama George. Ia ditakuti dan sering berbuat onar.
"Apa masalahmu? lepaskan dia!" pinta Frans.
George tertawa, diikuti kedua temannya.
"Besar juga nyali mu, huh!' George berusaha mendorong Frans sampai terjatuh, namun anehnya ia sendiri yang terpental hingga jatuh.
Melihat George terjatuh saat berusaha mendorong Frans. Semua siswa tertawa. Menyadari dirinya menjadi bahan tertawaan George semakin murka. Ia meminta kedua temannya menyerang Frans. Ada yang memukul ada yang menendang. Frans hanya menghindar lalu menggunakan kakinya menginjak sepatu kedua teman George hingga kesakitan.
"Rupanya kau pandai berkelahi," ucap George.
"Aku tidak berkelahi, hanya membela diri. Kau yang menyerang kami tanpa alasan," ucap Frans.
"Tanpa alasan?" George tertawa. "Aku kemari mencarimu. Tapi cecunguk ini tak mau mengatakannya." Tudingnya pada Tony.
"Mau apa kau?" tanya Frans.
"Jauhi Mauren. Bos kami kesal menemukan namamu di buku Mauren."
Frans terdiam. Ia mencoba mengingat siapa Mauren. Tapi Frans sama sekali tidak mengingat gadis bernama Mauren. Ia merasa belum pernah mendekati gadis manapun.
"Ton, Mauren siapa?" tanya Frans.
"Itu, yang kau selamatkan di pasar malam. yang tas dicuri orang," bisik Tony.
Mendengar itu Frans baru tahu jika gadis itu bernama Mauren.
"Bilang pada bosmu. Jangan terlalu yakin. Aku bahkan tidak ingat siapa Mauren. Maaf jika semua gadis di sekolah ini memang menyukaiku. Tapi bukan berarti aku menyukai mereka semua," sahut Frans lalu menarik Tony untuk pergi. Ia membawa Tony ke kantin. Membeli minuman lalu memberikannya.
Tony meminumnya seraya terus mengomel sendirian. Ia masih kesal karena dipermainkan tiga siswa tadi. Namun tiba-tiba Tony diam tak bersuara. Matanya membulat menatap ke suatu arah.
"Terima kasih untuk tadi malam," ucap seorang gadis. Kini Frans tahu apa yang membuat Tony menatap tak berkedip.
"Ya, sama-sama," ucap Frans tanpa menoleh.
"Ini hadiah dariku karena telah menyelamatkanku dari pencuri," ucap Mauren lagi. "Ayo cepat kau yang berikan," bisik Mauren entah kepada siapa.
Tiba-tiba sebuah tangan terulur. Tangan yang memakai cincin Blue Sky di jarinya. Tony yang hapal di luar kepala siapa pemilik cincin yang hanya ada satu-satunya di dunia itu langsung mendongak, begitu pula dengan Frans.
Keduanya sama-sama terkejut. Tony yang terkejut bagaimana ada cincin Frans di jarinya. Sedangkan Frans yang terkejut sejak kapan Angel satu sekolah dengannya.
"Ini dari Mauren," ucap Angel dengan suara bergetar. Ia terkejut begitu mengetahui jika sang penyelamat yang membuat Mauren langsung jatuh cinta setengah mati adalah suaminya sendiri.
Frans bangkit dan langsung pergi. Sementara Tony mengejar Frans dan mulai mempertanyakan mengapa cincin miliknya ada di jari manis seorang gadis. Karena tak tahan dengan suara berisik Tony yang terus bertanya. Frans terpaksa menarik sahabatnya itu ke sebuah ruangan kosong.
"Berisik kamu!" geram Frans.
"Bukannya apa. Itu cincin keluargamu. Kau hanya bisa memberikannya jika dia itu..." Tony menahan ucapannya. Ia menatap ke arah Frans dengan tatapan mencari kepastian. "Istrimu?"
Frans meletakkan jari telunjuknya si mulut Tony.
"Ceritanya panjang. Aku terpaksa menikahinya saat di pulau Darkness," Frans mencoba memberitahu Tony.
"Apa? Me...Menikah?" kejut Tony tak percaya. Di usia muda belia dan masih sekolah Frans sudah menikah. Tony shock. Ia tak berani membayangkan apa yang sebenarnya terjadi dengan Frans di pulau itu.
"Ini rahasia. Kau mengerti. Kalau sampai bocor aku tak peduli kau sahabatku atau bukan. Aku tidak akan segan-segan mengirimmu ke neraka," ancam Frans.
Tony menutup mulutnya seraya mengangguk. Frans menghela napas. Ia duduk di sebuah kursi seraya mengacak rambutnya frustasi.
"Mengapa aku baru tahu, jika dia ternyata sekolah di sini," gumam Frans.
"Jadi kau pun tidak tahu?" tanya Tony.
Frans menggeleng. Tony merasa semakin kasihan mengetahui kondisi sahabatnya itu.
"Kau belum pernah menceritakan apa yang terjadi denganmu selama di pulau itu. Tapi menikah, bukan hal yang bisa kubayangkan di usiaku saat ini," ucap Tony.
Frans menghela napas. Keadaan dan semua yang terjadi membuatnya sungguh depresi. Tapi, mengapa Angel mau saja diperintah Mauren. Ia semakin kesal melihat apa yang jadi miliknya terlihat murahan oleh orang lain. Frans meninju pintu.
"Sial,"ucapnya. "Aku sangat membenci pernikahan ini. Tiap mengingat semua yang terjadi aku merasa frustasi. Aku masih belum bisa melupakan Luna. Kau tahu? Perasaan bersalah menikahi gadis lain seolah membuatku merasa mengkhianati perasaan ini. Meski Luna sudah meninggal perasaan ini masih setia," ucap Frans.
"Kalau begitu ceraikan dia. Mumpung tidak ada siapapun yang mengetahuinya," usul Tony.
"Aku ingin. Tapi tidak bisa," jawab Frans.
"Kenapa?" tanya Tony.
Frans terdiam. Ia bingung antara mau mengatakannya atau tidak. Sementara Tony masih menunggu jawaban. Karena tak bisa mengatakan Frans langsung pergi ke luar lebih dulu. Tony langsung mengejarnya.
Tepat beberapa langkah Mauren kembali menghadangnya bersama Angel.
"Frans, maaf aku sudah menyuruh pembantu ini menyerahkan ini. Harusnya aku menyerahkannya langsung padamu," ucap Mauren.
Pembantu? Frans shock seketika. Miliknya jadi pembantu? Harga diri Frans menjerit.
"Maaf, aku tidak biasa menerima pemberian. Kalau kau memang mau berterima kasih, traktir kami. Ajak juga pembantu kamu itu supaya Tony memiliki teman," ucap Frans.
Mauren langsung tersenyum riang mendengarnya. Ia langsung mengiyakan dan membuat janji agar nanti malam Frans datang ke sebuah cafe.
Keduanya pun pergi setelah membuat kesepakatan. Tony langsung mendekati Frans.
"Apa rencana kamu?" tanya Tony.
"Aku tahu kau menyukainya kan? Aku memberimu kesempatan untuk merebut hatinya," ucap Frans.
Wajah Tony langsung bersemu merah. Ia sama sekali tidak menyangka jika dibalik sikap dingin Frans, ia sangat peka.