Kehilangan

1337 Kata
Frans terkejut mendengar cerita kedua vampir dihadapannya. Ia memang telah memiliki seorang istri. Mungkinkah perasaannya yang gundah ada kaitannya dengan wanita itu. "Kemana mereka berdua pergi?" tanya Frans. "Mereka berencana keluarga negeri. Tapi tidak tahu lagi. Kondisi saat itu sangat kacau," jawab salah satu vampir. Frans terdiam. "Begini saja. Kalian berdua aku utus untuk menjemput mereka. Kabari apapun yang terjadi. Biaya perjalanan kalian aku yang tanggung," ucap Frans. "Baik Yang Mulia. Namun, jika seriagala menyerang kami—" "Tenang saja. Jika dia isteriku dia pasti memakai cincin Blue Sky. Naga Biru yang bersemayam di dalamnya akan melindungi kalian," ucap Frans. Kedua vampir tersebut segera mohon undur diri untuk melaksanakan perintah. Keduanya pun diurus Brian untuk memulai perjalanan mereka dan kebutuhan keduanya. Selanjutnya Frans keluar dari ruangan yang selama ini tidak pernah ia tinggalkan. Instingnya mengatakan dirinya harus keluar. Ia tidak bisa terus menghindar dari tanggung jawab dan melimpahkan semuanya pada Brian. *** Sean menatap ke sekeliling dengan waspada. Sesekali dilihatnya keadaan Angel yang kesakitan. Perutnya semakin hari semakin membesar dengan cepat. Baru kali ini ia melihat kehamilan yang tidak wajar. Pertumbuhan janin yang sangat cepat membuat ibunya kekurangan banyak bobot tubuhnya. Berulangkali Sean harus membawanya ke dokter untuk diinfus. Namun bau serigala sering memaksa Sean membawa Angel lari untuk sembunyi. Sama seperti hari ini. Angel baru menghabiskan satu kantong infus dan darah. Namun Serigala itu kembali membuatnya membawa Angel dengan paksa. Namun, entah mengapa kali ini Angel kesakitan. Ia harus mencari seorang dokter kehamilan. Tidak peduli itu siapa yang jelas Angel harus dibantu. Sepertinya ia akan melahirkan bayi pertamanya. Sean kembali mengawasi sekitar. Ia menemukan klinik dokter kehamilan di sebuah desa yang tak begitu ramai penduduk. Setelah yakin situasi aman. Sean langsung merengkuh tubuh Angel. Ia terbang menuju klinik tersebut. Dengan tergesa diketuknya pintu. Beruntung dokter langsung membuka pintu. "Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya. Begitu melihat Angel ia langsung meminta Sean membaringkannya di kasur yang tersedia. Sean menunggu di luar. Ia harus berjaga. Jangan sampai proses kelahiran pangeran diganggu oleh para serigala itu. "Sean," bisik sebuah suara. Sean langsung melihat ke arah suara. Dua vampir datang mendekat. "Kalian?" kejut Sean. "Mengapa kau masih di negara ini?" tanya salah satunya. "Keadaan Angel tidak memungkinkan untuk membawanya menaiki pesawat. Kehamilannya berbeda," ucap Sean. "Astaga! Sekarang dimana dia?" "Di dalam. Sepertinya akan melahirkan." "Yang benar saja. Ini baru sembilan hari," kejut keduanya. Belum sempat menjelaskan. Terdengar suara serigala di kejauhan. Ketiganya waspada. Lambat laun bau serigala semakin terasa. "Tampaknya kali ini kita harus melawan mereka." Sean mempersiapkan dirinya. *** "Namaku Mira, apa ini kehamilan pertamamu?" Angel mengangguk. Dilihatnya Mira mendesah. "Tekanan darahmu buruk sekali. Aku harus membawamu ke rumah sakit. Kau tidak bisa lahir di klinik ini," ucap Mira setelah melakukan pemeriksaan yang cukup intens. Angel menahan lengan Mira. Ia menggeleng. "Plis. Aku ingin bayi ini selamat. Jika ke rumah sakit, kami semua tidak akan selamat. Saya mohon, selamatkan bayi ini!" pinta Angel. Saat itu terdengar suara serigala dan suara benturan keras di luar. Mira hendak melihat keadaan, namun sekali lagi tangannya ditahan Angel. "Operasi secepatnya dan bawa ini pergi." Angel memohon sekali lagi. "Tapi di sini alatnya tidak lengkap," ucap Mira. "Aku tak peduli. Ini permohonan terakhirku. Jika kondisi memburuk bawa pergi bayi ini bersamamu. Aku mohon!" pinta Angel. Mira yang tidak tega dan merasakan sesuatu yang tidak beres dan berbahaya segera menyiapkan alat-alatnya. Ia menyuntikkan obat bius area yang membuat Angel mati rasa di area perut sampai kaki, namun ia masih sadar. Sementara di luar pertempuran semakin sengit. Ledakan demi ledakan terdengar. Bahkan bagian lain bangunan klinik telah hancur. Meski tak mengerti apa yang terjadi Mira segera bergegas. Seperti permintaan ibunya yang penting bayinya selamat. Saat pembedahan perutnya dimulai. Angel menitikkan air mata. Terbayang wajah suaminya yang sangat ia rindukan. Meski tahu Frans tak mencintainya, namun lelaki itu memperlakukannya dengan baik dan terus berusaha melaksanakan kewajibannya sampai akhir. "Frans," bisik Angel. Tiap kali menyebut nama suaminya, ia merasa damai dan tenang. "Frans," bisik Angel lagi. Di luar, Sean dan kedua vampir lainnya terpental, tersungkur, bahkan terluka. Namun mereka berhasil membunuh beberapa serigala. Sayangnya, bantuan langsung datang, jumlah serigala yang tadinya hanya empat ekor, kini bertambah banyak. Sean khawatir jika mereka bertiga menyerang siapa yang akan menjaga klinik. Jangan sampai serigala itu berhasil masuk ke dalam klinik. "Aku yang akan menjaga klinik," ucap sebuah suara besar dan mengerikan, Naga Biru. Sean langsung merasa lega mengetahui kemunculannya. Ia dan kedua vampir lainnya langsung menyerang serigala-serigala itu. Mereka bertiga siap mati demi melindungi isteri dan calon pangeran junjungan mereka. *** Langkah Frans terhenti saat menyusuri hutan mencari jejak serigala. Ia seperti merasakan sesuatu. Dadanya mendadak sesak. Ada kepedihan yang menyayat hatinya. "Frans." Frans terkejut. Suara perempuan memanggil namanya. Ia merasa tidak asing dengan suara tersebut. Instingnya mengatakan ia harus menuju asal suara tersebut. Frans menghilang dan muncul di tempat yang sudah jauh dari Blue Sky. "Frans." Suara tersebut terdengar lagi. Kali ini terasa lebih dekat. Frans menghilang dan muncul lagi di sebuah tempat. Kali ini ia bisa mencium darah bercampur dengan bau serigala dan vampir. Frans segera melesat terbang cepat. "Frans..." Suara itu kini sangat terdengar jelas dan dekat. Dan yang lebih membuatnya tegang kali ini suara yang memanggilnya diikuti suara tangisan bayi. Jantung Frans seolah berdetak lebih cepat. Ia merasa ada ikatan batin antara mereka. Mendadak bayangan masa lalu muncul di benaknya. Ia ingat suara yang memanggilnya suara siapa. Itu suara Angel. Menyadari hal itu Frans semakin mempercepat laju terbangnya. Ia terkejut melihat Sean dan kedua vampir yang disuruhnya mencari Angel tengah bertarung melawan serigala. Sementara Naga Biru terlihat berjaga di depan sebuah klinik, sesekali ia menyerang kawanan serigala besar itu dengan api dari mulutnya. Frans langsung terbang di atas arena pertarungan itu. Melihat kedatangannya para serigala sedikit mundur dan takut. Frans turun perlahan. Ia menyentuhkan jari jempol kaki kanannya ke tanah. Saat itu sebenarnya ada kekuatan tak kasat mata dari jempolnya itu yang mengikat semua serigala di depannya. Saat Frans mengatakan, "Mati." Semua serigala di hadapannya langsung meledak menjadi abu. Kekuatan Frans tersebut merupakan kekuatan yang mampu membuat siapapun yang dikehendakinya mati menjadi abu. Kekuatan tersebut di sebut Lidah Maut. Kelihatannya mudah dilakukan namun separuh energi Frans terkuras habis. Kekuatan semacam itu juga hanya bisa dilakukan sekali dalam sehari. Karena bisa membahayakan Frans sendiri jika sering menggunakannya. Setelah membunuh semuanya Frans menghilang dan muncul di dalam ruangan. Bau anyir langsung memenuhi rongga hidungnya. Hatinya seakan hancur saat itu juga melihat Angel terbaring di atas kasur perawatan dengan perut terbelah. Darah segar masih mengalir di sana. Ia juga menemukan ari-ari di atas perutnya. "Angel, aku datang," bisik Frans. Angel membuka matanya perlahan. Wajahnya sangat pucat dan cekung. Ia sangat kurus dan tak terawat. Kecantikannya berubah menjadi penderitaan mendalam yang Frans lihat. Tak terasa air mata jatuh dari kedua mata Frans melihat isteri yang seharusnya ia lindungi kini terkapar menunggu ajal datang. "Kau tampan sekali," lirih suara Angel. Air mata mengalir dari sudut matanya. "Kau juga sangat cantik," puji Frans. Angel tersenyum seraya menggeleng pelan. "Bohong," ucapnya pilu. "Maafkan aku," bisik Frans. Kali ini air mata mengalir deras tanpa bisa dicegah. Air mata darah. "Jangan menangis. Aku merindukan pelukanmu," ucap Angel. Frans segera naik dan memindahkan Angel ke dalam pelukannya. "Selamat, kau sudah jadi ibu. Apa anak kita cantik?" tanya Frans. "Dia lebih tampan darimu. Tapi maaf, aku meminta dokter itu membawanya," Angel menggigil. Ia menangis. "Tidak apa sayang. Aku bisa mencarinya. Kau hebat sudah menyelamatkannya," puji Frans seraya mengecup kepala Angel. "Maukah kau menciumku terakhir kali?" pinta Angel mencubit perasaan Frans begitu sakit. Frans menatap wajah isterinya. Dengan perlahan dilumatnya bibir Angel. Ia juga mengeluarkan aroma tubuhnya yang seperti candu. Agar Angel merasa tenang. Keduanya saling pagut dalam kehangatan dan kerinduan yang selama ini tertahan. Saat tak ada balasan dan gerakan, Frans melepas bibir isterinya. Ia sudah terpejam dalam damai untuk selamanya. Frans merasa hancur seketika. Semua orang yang ia cintai meninggalkannya dengan cara yang tragis. Frans menangis dan berteriak. Teriakan pilunya terdengar di setiap vampir dan makhluk lain selain manusia. Naga Biru dan Sean turut serta menitikkan air mata. Sementara kedua vampir yang tadi membantu Sean telah tewas dalam pertarungan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN