Brian kembali merapikan baju Frans. Sebentar lagi acara penguburan akan dimulai. Ia memeriksa sekali lagi takut ada sesuatu yang masuk ke dalam peti. Sementara itu, dua belas jenazah sudah siap dan dikebumikan satu persatu. Brian merasa sedih. Kini keluarga Cezar hanya tinggal dirinya dan Ronny seorang.
"Mengapa, setelah menjadi manusia. Banyak derita yang terjadi. Bahkan kau pun tidak tumbuh dengan baik. Andai aku tahu akhirnya akan seperti ini. Takkan pernah aku biarkan Adam menjemputmu ke Australia. Setidaknya jika kau di sana masih ada turunan pangeran yang tersisa," ucap Brian sendirian.
Keadaan peti Frans aman dan rapi. Tinggal menunggu giliran untuk dikebumikan. Brian menyulut rokoknya. Ketika menghirupnya Brian langsung terbatuk. Ia tak pernah merokok, jadi ini pertama kalinya ia mencoba.
"Bahkan merokok pun aku tidak tahu," sungut Brian.
Brian berdiri untuk menutup peti mati. Namun ia sangat terkejut karena mayat Frans di dalam peti menghilang. Ia menengok ke kanan dan ke kiri. Tidak mungkin mayat yang mati akan berjalan sendiri. Begitu mendongak, alangkah terkejutnya Brian menemukan mayat Frans terbang ke atas.
"Astaga!" teriaknya sampai terjatuh ke lantai.
Frans yang tadi terbang telentang berubah berdiri namun masih mengambang. Matanya terpejam. Muncul tulisan bercahaya di dahinya. Tanda kekaisaran vampir yang dimiliki oleh setiap keturunan Cezar yang terpilih sebagai generasi kaisar vampir berikutnya.
"Tidak mungkin," kejut Brian. Selama ini Frans tak pernah menunjukkan tanda bahwa dirinya vampir. Lagipula dia meninggal karena kecelakaan, bukan karena gigitan vampir.
Mata Frans terbuka, mata birunya bercahaya ditimpa cahaya lilin di ruangan tertutup tersebut. Ia memandang Brian dengan tatapan dingin yang begitu menusuk. Tanpa ekspresi, tanpa berkedip.
"Berikan darahmu!" ucap Frans.
Brian membeku. Suara Frans seolah mengandung sihir yang mampu membuat tubuhnya menggigil.
"Mendekat," ucapnya pelan. Jari telunjuknya bergerak. Tanpa diduga tubuh Brian melayang ke arah Frans. Bukannya tidak pernah digigit atau pernah merasakan manisnya darah. Tentu Brian lebih berpengalaman dari Frans menjadi vampir selama ratusan tahun. Namun kali ini aura yang dirasakannya jauh berbeda. Begitu dingin, mendominasi, gelap, kejam, mengerikan semua bercampur aduk. Brian yang sudah menjadi manusia seutuhnya juga mulai takut, akankah ia menjadi vampir lagi setelah digigit.
Frans menatap mata Brian begitu dalam. Mata birunya seolah berpendar. Brian tahu itu adalah tatapan penakluk yang membuat siapapun tidak berdaya dalam dekapannya. Apalagi ditambah aroma candu yang keluar dari tubuh Frans. Menghirupnya membuat Brian terperangkap dalam ilusi. Ia tak berdaya dan tak mampu keluar dari jebakan. Candu pangeran memang berbeda dengan vampir biasa.
Frans menancapkan taringnya di leher Brian. Ia menghisap banyak darah, karena sudah beberapa hari tubuhnya beristirahat. Rasa manis darah membuatnya semakin merasa lapar.
"Hentikan!" teriak Ronny. Ia terkejut melihat Brian digigit oleh Frans. Reflek tangannya mengambil tongkat bendera di ruangan itu lalu mengarahkannya ke arah Frans. Ketika dipukulkan tongkat itu langsung patah menjadi dua.
Frans menatap Ronny. Ia mengernyit dan berpikir sesaat. Tidak ada bayangan siapa Ronny dalam sisa ingatannya. Tapi wangi darahnya ia suka. Frans melepaskan Brian hingga langsung terjatuh di lantai dengan tubuh lemas.
"Kemari Kau," ucap Frans.
Tubuh Ronny otomatis bergerak sendiri. Ia melawan dengan berpegangan ke benda yang ditemuinya, namun ia tetap bergerak sendiri.
"Frans, hentikan. Aku putra Samuel, kakak Jessy. Kita belum pernah bertemu," ucap Ronny berharap dengan mengetahui siapa dirinya Frans akan melepaskannya. Namun Frans semakin menariknya kuat. Hingga akhirnya Ronny berakhir di dekapan Frans.
"Jangan lakukan ini," ucap Ronny takut.
Frans tersenyum miring, menunjukkan taringnya yang mencuat di sela giginya. Sementara tangan kirinya mengibas membuat pintu ruangan tertutup dan terkunci sendiri.
Ronny menatap mata biru Frans. Ia seperti tenggelam di dunia biru yang menenangkan seperti air yang tenang, damai. Wangi khas juga tercium, begitu melenakan. Ia sama sekali tidak sadar jika Frans telah menghisap darahnya dengan rakus.
Setelah puas, Frans menjatuhkan tubuh Ronny di lantai. Kemudian dengan santai ia menarik kursi mendekat ke arahnya, lalu duduk. Ia hanya memperhatikan dua lelaki di hadapannya sedang kesakitan merasakan perubahan menjadi vampir.
"Frans, harusnya kau tidak mengubah kami. Tolong, ambil virusmu ini. Kau bisa menghisap darahku tapi jangan mengubahku," pinta Brian.
"Jangan memerintahku. Mau aku bunuh atau... jadi vampir ?" geram Frans tidak memberi Brian pilihan.
Brian terdiam, ia sangat kesakitan. Ia merasakan adanya benda yang bergerak cepat berjalan mengikuti aliran darahnya lalu dengan cepat menyerang seluruh anggota tubuhnya kecuali jantung. Hal yang sama juga dirasakan Ronny.
"Bukankah ayahmu menginginkan kita berubah menjadi manusia Frans!" teriak Ronny.
"Itu karena ayah bodoh. Jika semua menjadi manusia biasa. Siapa yang akan menjaga manusia lemah itu. Jangan banyak membantah, sejak buyutku kalian sudah disumpah untuk mengabdi padaku. Menentang atau menerima?"
Frans melukai tangannya dengan kuku telunjuknya yang tiba-tiba memanjang atas keinginannya.
"Jika menerima. Aku ijinkan kalian menghisap darahku. Jika tidak, aku akan biarkan kalian menjadi vampir biasa dan terus merasakan haus darah. Bukankah Brian tahu dengan pasti hal itu." Frans tersenyum licik.
Brian tidak memiliki pilihan. Ia langsung mendekat dan menghisap darah Frans begitu taring di giginya tumbuh. Ronny yang melihat Brian melakukannya terpaksa juga mengikutinya. Begitu Brian melepas tangan Frans ia menggantinya untuk menghisap darah di tangan Frans.
Tak lama kemudian mata Brian bersinar, ia merasakan kekuatannya yang dulu hilang kini kembali padanya. Sementara Ronny juga merasakan adanya kekuatan dalam dirinya meski tidak sebesar Brian.
"Selamat datang di dunia vampir Paman Brian. Selamat datang kembali," ucap Frans.
"Salam hormat hamba Tuanku," ucap Brian seraya menekuk lutut.
Ronny yang belum berpengalaman juga mengikutinya.
"Berdirilah. Mari bangun kembali kekuatan Cezar. Aku sudah tidak sabar untuk meremukkan tulang-tulang serigala itu. Beraninya mereka menghancurkan keluargaku," ucap Frans seraya menggemeretakkan giginya. Menahan amarah yang luar biasa di dalam dirinya yang bisa meledak kapan saja.
Setelah itu Frans masuk ke dalam peti lalu membuat kehebohan berita tentang dirinya yang mati suri. Bahkan dokter pun dipanggil untuk memeriksa keadaannya. Brian dan Ronny terus bersandiwara meyakinkan jika Frans terbangun begitu peti ayahnya hendak dibawa. Pemakaman ditunda sementara untuk melihat kesehatan Frans. Setelah dokter yang mereka bayar mengatakan jika Frans selamat dari kematian banyak orang yang menitikkan air mata. Mereka sudah sangat sedih dengan meninggalnya seluruh keluarga Cezar. Dengan adanya satu anggota yang selamat seolah mereka turut berbahagia. Terutama para pejabat, kolega, para dosen dan mahasiswa serta penghuni asrama.
Pemakaman kemudian dilanjutkan dengan penuh duka. Frans hadir dengan didorong Brian di atas roda. Melihat banyaknya yang meninggal. Ayah, Ibu, sahabat dan seluruh orang yang dicintai membuat Frans tidak bisa menangis. Saking sedihnya ia tidak bisa menitikkan air mata setetes pun. Namun dalam hati ia tidak akan memaafkan mereka.