Larissa segera memberikan perawatan pertama pada luka akar di tangan kiri Sean. Ia membasuhnya dengan desinfektan dan memberinya obat merah. Larissa juga melilitkan kasa steril sebagai perban kepada tangan laki-laki itu.
“Bagaimana, Sean? Apa masih sakit?”
Tentu saja masih sakit. Tangannya terasa panas karena terbakar, ditambah lagi ada perasaan gatal yang ikut menjalar di tangannya. Namun, Sean tidak mengeluh. Ia hanya meringis sedikit dan menggeleng. “Tidak usah mengkhawatirkanku, Larissa. Sekarang yang justru perlu kita khawatirkan adalah Bear. Dia belum kembali juga hingga saat ini.”
Larissa mengangguk. Ia lalu membantu Sean berdiri dengan memegang tangan kanannya. Bear bahkan belum menghubungi mereka hingga sekarang, juga tidak kunjung kembali.
Mereka dengan agak terburu-buru pergi ke area samping kiri tembok. Meski berbatu dan agak gersang, ada beberapa perdu yang tumbuh di sekitar sini.
Bagian samping tembok kini dibatasi oleh lereng yang terjal, dan mereka belum menemukan Bear. “Ke mana anak itu? Mengapa tidak ada?” Sean menatap cemas sekelilingnya. Bear tidak ada di sana.
Larissa berinisiatif untuk melihat lereng gunung itu. Barangkali Bear terjatuh atau sengaja turun dari gunung. Menyadari apa yang tengah dilakukan Larissa, Sean melakukan hal yang sama.
“Bahkan tidak ada tanda-tanda kalau Bear ada di bawah sana. Larissa, kamu tunggu di sini, aku akan coba menyisir lereng.”
“Eh, aku harus ikut.”
Sean menggeleng lalu menepuk pundak Larissa. “Di sini saja, kalau ada apa-apa, baru kamu tolong aku.”
Larissa tahu bahwa Sean hanya mencemaskannya. Larissa jadi merasa lemah sekarang. Sebagai seorang perempuan dia memang sangat dijaga oleh Bear dan Sean. Mereka selalu membantunya, memperlakukan dia dengan baik. Namun, Larissa tidak ingin terus begini. Ia harus berperan dalam perjalanan, bukan hanya sebagai penumpang yang tidak memahami apa pun. Hanya saja dia tidak bisa gegabah dan mengambil inisiatif sendirian. Risiko yang timbul karena salah mengambil keputusan tidak hanya berdampak pada dirinya melainkan pada timnya juga. Makanya untuk saat ini Larissa memilih menurut apa yang Sean katakan.
Sean dengan berhati-hati menyusuri lereng yang terjal, menapakkan kakinya pada bebatuan.
“Bear! Kamu di mana?!” Sean berseru. Tangannya menopang dinding gunung sedangkan kakinya mencari pijakan.
“Bear? Jika mendengar suaraku tolong berteriaklah!”
Di lain tempat ternyata Bear sudah kembali memanjat gunung, ke titik awal mereka. Tubuhnya lecet-lecet, tetapi bukan masalah besar karena Bear bisa mengatasinya. Dengan sedikit tertatih-tatih ia mencari keberadaan dua temannya. “Sean! Larissa!”
Teriakan Bear berhasil didengar oleh Sean. “Bear! Di mana kamu?! Larissa, kamu dengar?!” Sean mendongak, bertanya kepada Larissa yang mengawasinya dari atas. Gadis itu mengangguk.
“Iya, sepertinya aku mendengar suara Bear!”
“Bear kamu di mana?!” Sean kembali menyusuri lereng gunung tetapi hasilnya nihil.
Saat berteriak memanggil nama Bear, tak sengaja Sean menginjak bebatuan yang rapuh. Kakinya terpeleset.
“Astaga Sean!” Larissa menutup mulutnya spontan. Sean berpegangan pada batang salah satu perdu dengan tangan kanannya. Larissa yakin Sean tidak akan bertahan lama karena tangan kirinya masih terluka.
“Larissa jangan turun! Aku bisa! Arrghh!” Sean berusaha sekuat tenaga untuk naik ke atas. Dia menekan matanya, memaksakan agar bisa selamat.
Sedangkan Larissa sudah berupaya turun untuk membantu Sean. “Sean tunggu!”
Gadis itu mulai gesit untuk menginjakkan kakinya ke bebatuan. Dari posisinya sekarang ia bisa melihat muka Sean yang memerah dalam gelap. Pantulan bulan yang cukup terang satu-satunya pencahayaan yang bisa mereka andalkan saat ini.
“Larissa cukup di sana! Aku yang akan menolong Sean!” Dari arah yang tak jauh dari posisi Sean, Bear sudah menuruni lereng gunung dengan sangat gesit. Larissa menghentikan langkahnya karena ia sadar sekuat apa pun ia berusaha, Bear lah yang akan pertama kali sampai.
Akar perdu sudah melonggar dari bebatuan, hampir tercabut. Urat tangan kanan Sean sudah berkeluaran, giginya bergemeletuk, wajahnya memerah seperti kepiting rebus. Ia hampir menyerah dan membiarkan tubuhnya jatuh menghantam batu-batu.
Hap!
Bear segera meraih pergelangan tangan Sean. “Tangan kirimu, Sean!”
Sean mengangkat tangan kirinya sehingga Bear bisa memegang pergelangan tangannya. Dengan sedikit penekanan yang tampak pada wajah Bear, Sean berhasil diselamatkan.
***
Ketiganya kini menghabiskan air minum yang tersisa. Larissa juga sudah menyiapkan obat-obatan dan membuka rantang makanan. Setidaknya Bear dan Sean harus mendapatkan nutrisi yang cukup malam ini.
Sekali lagi Larissa melihat kondisi dua temannya. Bear yang tubuhnya lecet-lecet, bajunya robek, juga Sean yang kedua tangannya kini cedera. Tanpa sadar air mata Larissa menetes, ia merasa sangat buruk.
Menyadari perubahan ekspresi pada wajah sahabat perempuannya, Bear kebingungan. “Hei, mengapa menangis? Apa ada yang sakit? Apa kamu terluka?”
Bahkan dalam keadaan yang buruk, Bear masih sempat mengkhawatirkan kondisinya.
“Eh, ada apa Larissa? Maafkan aku, gara-gara hendak menolongku, kakimu sakit, ya?”
Larissa menutup mata dengan tangan kanannya. Sekarang Sean membuatnya tambah sedih. Baru sekarang ia merasa begitu diperhatikan oleh temannya sendiri, apalagi temannya sekarang adalah laki-laki. “Mengapa kalian justru mengkhawatirkanku? Di sini kalian lah yang berkorban banyak, tubuh kalian cedera. Aku benar-benar merasa buruk karena tidak bisa berbuat apa pun.”
Kini Bear dan Sean memahami situasinya. Mereka terlalu khawatir dengan Larissa hingga memperlakukannya seperti perempuan lemah. Sedikit banyak apa yang mereka lakukan sudah membuat rasa tidak nyaman bagi Larissa.
“Maaf—“
“Mengapa harus minta maaf, Sean? Harusnya aku yang meminta maaf karena terlalu membebani kalian.”
“Tidak ada yang membebani kami, Larissa. Kamu sangat membantu. Lihat! Luka-lukaku kamu yang obati. Jika tidak ada kamu siapa lagi? Sean tangannya cedera dan dia tidak bisa mengobati lukaku dengan kakinya.”
“Juga tadi, siapa yang dengan cepat tanggap memahami pesan dari Bear? Aku yang kebingungan dengan arah sinar bulan tetapi kamu dengan cepat menunjuk seekor anjing yang sebenarnya. Kalau kamu menungguku yang memilih, mungkin Bear sudah mengalami masalah berat, dan kita tidak akan bisa bersama seperti ini.” Sean melanjutkan.
Bear menatap Larissa lamat-lamat. “Bukan masalah siapa yang sakit, siapa yang terluka, ketika kamu ada untuk yang lain, kamu lebih dari berharga, Larissa. Setiap orang punya perannya masing-masing, dan untuk menjadi istimewa kamu tidak perlu menjadi orang lain. Mulai sekarang aku dan Sean akan memberi kamu kebebasan untuk ikut andil dalam bahaya, tetapi pikirkan juga bahwa di antara kita bertiga harus ada setidaknya satu orang yang bertahan. Kalau aku, Sean, dan kamu sakit, siapa yang akan membantu kita?”
***
Perkataan Bear barusan cukup untuk membuat perasaan Larissa lega. Setiap orang punya perannya masing-masing. Sangat klise, tetapi justru hal klise itulah yang sering dilupakan manusia. Mereka sibuk dengan pembaruan, terobosan hebat, hingga lupa hal sesederhana itu yang seharusnya mereka pahami.
Kini Bear, Sean, dan Larissa sudah di mulut tembok. Ada celah kotak seukuran pintu yang muat untuk mereka masuki. Begitu kaki Bear menginjak bagian dalamnya, sebuah halaman luas dengan bangunan berbahan kayu berdiri megah di hadapannya. Itu semacam rumah panggung, bercat hijau dan kuning, teras dan halamannya dihubungkan dengan anak tangga.
Di halaman rumah ada kolam ikan dengan air mancur. Rumah ini terlihat kuno, klasik, sekaligus antik.
“Ini rumah siapa? Dan, siapa pemiliknya?” tanya Bear retoris. Ia melongo, mengakui kalau apa yang dilihatnya sekarang sangat berkelas.
“Bear, jangan terlalu terpana, kita harus cepat menemukan sesuatu.” Larissa memperingatkan. Ia lalu mengamit tangan Bear dan Sean lalu mengajak mereka menaiki anak tangga.
Rumah panggung itu terlihat sepi, tetapi Sean menahan tangan Larissa agar tidak gegabah melalui pintu depan. “Lewat pintu belakang saja. Tidak lucu kalau baru masuk sudah tertangkap.”
Ketiganya lalu mengendap melalui bagian bawah rumah panggung itu. Sangat gelap. Bear menyalakan lampu senter dengan pencahayaan kecil. Kalau diingat-ingat menyedihkan juga, mereka kehilangan salah satu tas yang dibawa Sean, yang artinya perbekalan mereka juga berkurang banyak.
Tiba di bagian belakang rumah panggung, mereka dapat melihat halaman luas dengan gazebo-gazebo yang menghadap kolam di tengahnya. Ada teratai di atas kolam itu, dan di samping kanan dan kirinya ada lampu-lampu redup.
Bear menggesek kedua telapak tangannya yang diterpa angin dingin.
Mereka menaiki anak tangga secara perlahan, berusaha keras agar tidak menghasilkan bunyi berisik yang membuat keberadaan mereka disadari oleh orang lain. Ternyata masih sepi.
Sean mengintip melalui kaca jendela berukuran besar—sepertinya rumah-rumah klasik memang memiliki jendela sebesar ini. “Sepertinya tidak ada orang.”
Bear lalu mencoba mendekati pintu dan mencoba gagangnya. Dia mencoba menariknya. “Tidak terkunci juga.” Ia menatap kedua temannya.
Aneh memang, rumah sebesar ini dibiarkan tidak terkunci, mana kondisinya sangat sepi. Bear mencoba mendorong pintu, membukanya perlahan. Di dalam rumah lampu-lampu berpijar kuning yang digunakan. Ia membuat isyarat dengan telunjuknya untuk menyuruh Larissa dan Sean masuk.
Mereka mengendap-endap masuk, mengira bahwa rumah ini sedang kosong. Ruangan pertama yang mereka lihat begitu masuk melalui pintu belakang ada ruangan makan karena di sana ada sebuah meja besar dengan kursi-kursi jati. Di atas meja ada keranjang rotan berisi buah-buahan seperti pisang, apel, manggis, delima, lengkeng, dan kedondong. Sudah lama mereka tidak melihat buah-buahan ini kecuali pisang dan apel.
Sean melihat Bear memperhatikan meja dan kursi di depan mereka. “Apa yang kamu lakukan, Bear?”
“Aku memikirkan jumlah kursi ini. Ada empat buah kursi, berarti jumlah anggota keluarga di sini ada empat orang.”
“Lalu?”
“Bukan apa-apa.” Bear menutup percakapan. “Ayo kita masuk ke dalam! Eh, Larissa mana?”
Ternyata Larissa sudah berjalan lebih dulu. Dia melintasi salah satu koridor yang membentang seperti lorong. Dia menatap lukisan yang melekat di dinding kayu susun sirih itu.
Bear dan Sean ikut melihat foto yang Larissa lihat. Ada seorang pria berumur lima puluh tahunan dengan pakaian khas kerajaan, juga seorang wanita yang sepertinya adalah istrinya di lukisan berbeda. Di sampingnya ada foto laki-laki berumur dua puluh tahunan, tampak gagah dan tampan. Saat melihat foto itu mata Sean terkunci. Itu orang yang ia lihat di mimpinya.
“Itu Darke,” gumam Sean, sontak membuat Bear dan Larissa sedikit terkejut.
“Hah? Apa kamu yakin, Sean?”
Sean mengangguk dengan matanya yang melotot. “Aku yakin, Bear.”
Larissa lalu mendekatkan wajahnya ke lukisan itu. Seorang pria gagah dengan hidung mancung, alis tebal, rahang yang kokoh, juga sedikit bintik di lehernya seperti t**i lalat. “Aku percaya kalau orang ini adalah Laminad pertama. Wajahnya mirip dengan Laminad yang sekarang, sempurna.”
“Tuhan memahatnya dengan sempurna,” ucap Bear.
“Bahkan di dalam mimpi sosoknya jauh lebih memukau dibanding lukisannya.” Sean menjelaskan. Tatkala mereka sedang terpesona dengan lukisan di depannya, seseorang dengan langkah berat dan berirama terdengar berjalan mendekat.
Bear, Sean, dan Larissa membulatkan mata.
“Tewas! Kita harus ke mana?”
Larissa dengan cepat menarik tangan Bear dan Sean dan memasuki kamar yang ada di dekat mereka. Beruntung kamar itu kosong. Salah-salah mereka justru terperangkap di kandang singa.
“Bagaimana kalau orang itu akan masuk ke sini” Pertanyaan Bear sangat tepat karena orang tadi memang akan memasuki kamar yang mereka tempati sekarang. Langkah kakinya sudah berhenti di depan pintu kamar.
Pikiran mereka bertiga mulai kocar-kacir. Mereka melihat sekeliling dengan cepat.
Sean akhirnya memutuskan untuk bersembunyi di bawah tempat tidur. Meski itu bukan pilihan terbaik, tetapi Bear dan Larissa tetap mengikuti Sean. Mereka tidak punya pilihan lain.
Pria berpostur sempurna itu memasuki kamarnya dengan wajah kusut. Ia mengenakan piama khas bangsawan berbentuk terusan dengan warna biru laut. Dadanya yang bidang dibiarkan separuh terbuka. “Apa pun yang aku lakukan selalu dianggap salah. Hanya Kres yang benar, sebenarnya apa yang aku perbuat sehingga Ayahanda dan Ibunda begitu membenciku?” Pria berbicara pada dirinya sendiri. Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Tidak ada cacat di wajahnya, begitu juga tubuhnya. Katakanlah ia tidak secemerlang Kres, tetapi ia punya kemampuan bela diri yang tak kalah hebat.
“Darke! Buka pintunya! Apa yang kamu lakukan pada tamu kita barusan sangat lancang!” Ayahnya berteriak dari luar. Ia tidak bisa masuk dan menghajar Darke dengan tangannya karena pintu kamar dikunci.
“Aku hanya membela diriku ketika Ayah terlalu membanggakan Kres dan menghina posisiku. Biarkan saja kolega Ayah menyadari bahwa Ayah hanya akan peduli pada mereka yang menguntungkan Ayah. Ayah adalah orang tua paling pilih kasih yang pernah ada di negeri ini.”
“Kurang ajar! Berani kamu berbicara begitu padaku?”
“Mengapa Ayah begitu cemas dengan perkataanku? Kalau Ayah menganggap aku hanya anak bodoh yang tak bisa apa-apa seharusnya Ayah langsung mengabaikan saja omonganku. Pergilah Ayah, kolegamu lebih membutuhkanmu! Aku mau tidur.”
Ayahnya benar-benar murka tetapi ia tidak akan memberikan hukuman kepada Darke untuk saat ini. Tunggu saja besok, Darke akan mendapatkan hukuman yang setimpal.
Tiga remaja yang bersembunyi di bawah tempat tidur itu menutup mulutnya rapat-rapat. Mereka separuh terkejut karena obrolan singkat dengan nada tinggi yang mereka dengarkan.
Darke membuka pintu jendelanya lebar-lebar, membiarkan tiupan angin berembus menyelinap ke kamarnya. Suara isak tangis Darke terdengar. Rasanya aneh mengingat Darke adalah pria yang terlihat tangguh tetapi bisa menangis seperti ini.
“Bahkan untuk menolak penghinaan itu pun aku tidak bisa.” Darke lalu berinisiatif untuk mengemaskan beberapa pakaian dan barang yang ia punya ke dalam tas kecil. Ia menyerah, cepat atau lambat ayahnya mungkin akan memberikan hukuman pancung kepadanya. Ia akan pergi dari rumah ini sekarang juga.
Setelah barang-barangnya siap, Darke lalu melompat dari jendela kamarnya dan lari sejauh-jauhnya dari rumah.
“Darke pergi dari rumahnya. Sekarang apa yang akan kita lakukan?”
Larissa menatap cermin besar yang ada di depan tempat tidur Darke. Ia melihat Darke dengan pakaian berbeda kembali ke kamarnya setelah mendobrak pintu. Artinya sebelum itu terjadi mereka harus segera keluar dari rumah ini.
Larissa merangkak keluar tanpa berucap apa pun. Ia lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Bear dan Sean keluar dari lorong tempat tidur.
“Mengapa kamu terlihat buru-buru? Kita bahkan belum mendapat cukup informasi,” tanya Bear.
“Darke akan kembali ke kamar ini. Kita harus segera pergi.”
Darke akan kembali ke kamar ini? Sebenarnya apa yang dikatakan Larissa sangat tidak masuk akal. Bagaimana mungkin Darke yang sudah memutuskan kabur dari rumah kembali ke rumahnya dengan suka rela? Namun, mereka tidak sempat bertanya-tanya lagi. Karena benar, seseorang sudah berada di depan pintu kamar Darke sekarang.