Sean dan Keluarganya

2197 Kata
“Kita harus ke mana lagi? Kita hanya melihat ruang makan, lukisan, dan mendengar percakapan Darke dengan ayahnya.” Sean menggerutu seraya menuruni gunung. “Ya terus kamu mau bertahan sampai kapan? Sekalinya ada orang yang masuk ke kamar dan bertahan di sana, kita tidak akan bisa keluar. Kita akan mati kehabisan napas.” Bear membantu Larissa dengan memegangi tangannya. “Eh, tetapi aku heran, mengapa Larissa bisa tahu bahwa Darke kembali ke kamarnya? Sebenarnya kamu punya kemampuan seperti apa, Larissa?” Selama ini Larissa masih ragu dengan kemampuannya. Ia seperti bisa memprediksi apa yang akan terjadi dengan perantara bayangan di cermin atau media lain sejenisnya. Prediksi itu seperti menyesuaikan kondisinya sehingga tidak selalu bekerja. Larissa sendiri tidak memahami bagaimana cara mengontrol itu. Sewaktu-waktu, mungkin saja kemampuannya tidak bisa bekerja ketika ia sedang ingin menggunakannya. “Aku bisa melihat masa depan melalui bayangan objeknya. Ketika aku memikirkan suatu objek, aku seolah bisa membayangkan apa yang akan dialami objek tadi, tetapi terkadang hal itu juga tidak bekerja dengan baik.” “Oh, jadi tadi kamu membayangkan tentang Darke?” tanya Bear lagi. “Bukan, aku membayangkan kamar itu sendiri, dan aku bisa melihat apa yang terjadi pada kamar.” “Dan kamu melihat Darke kembali ke kamarnya?” Larissa mengangguk atas pertanyaan Sean. Setelah itu mereka lebih fokus untuk menyusuri lereng gunung, tidak mengeluarkan percakapan apa-apa. Mereka baru tiba di dasar gunung setelah menghabiskan waktu hampir satu jam. Gunung itu memang tidak terlalu tinggi, tidak lebih dari satu kilometer, tetapi medannya agak sulit. Sean segera berselonjor di tanah setelah turun, menstabilkan napasnya. “Tolong keluarkan makanan lagi, aku lapar.” “Makan di pondok tadi saja, Sean. Bagaimana?” Usulan Larissa diamini oleh Bear, dan mau tidak mau Sean harus mengikutinya juga. Sean mengulurkan tangannya untuk meminta bantuan Bear. Mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju padang rumput dengan pondok kayu. Malam masih setia bersama bulan purnama yang menggantung di langitnya. Setibanya di pondok, mereka kembali membuka rantang makanan yang sudah berantakan. Kuah di mana, sayur di mana, nasi di mana. Namun, dengan kondisi perut keroncongan mereka tidak peduli lagi dengan apa yang mereka makan. “Larissa, masakanmu sangat enak!” Sean mengisi mulutnya hingga penuh. Beruntung Bear memasak nasi dengan banyak, jadi mereka tidak perlu cemas kelaparan. “Aku menggunakan bumbu instan,” jawab Larissa datar. Mana sempat dia menyiapkan semuanya manual. Waktu mereka pendek, Larissa memasukkan apa pun yang tersedia di kamarnya. “Bear membuat mie instan tetapi rasanya tidak enak.” Bear tersedak mendengar kalimat polos dan tanpa dosa dari Sean. Anak itu mulutnya jebol sekali. Sean buru-buru menawarkan Bear minuman. “Jangan buru-buru, Bear, makannya. Santai saja, kita tidak akan mengambil makananmu.” Bear sengaja batuk di depan muka Sean hingga lelaki itu memejamkan matanya. “Pembawa virus, ah menyebalkan.” Sean mengelap wajahnya yang terkena semburan Bear dengan lengan bajunya. “Pakaianku sudah hilang dimakan anjing, jangan buat hidupku jadi lebih menyedihkan, Bear.” “Maaf, aku hanya sangat tersinggung dengan perkataanmu mengenai masakanku.” “Aku hanya bercanda.” “Tetapi wajahmu sangat ikhlas.” “Berhenti berlaku konyol.” Larissa mengingatkan. “Ah kalian. Ayo habiskan saja makanannya!” Bear dan Sean menurut apa yang dikatakan Larissa. Daripada Larissa marah-marah terus bilang yang aneh-aneh, dan yang gadis itu bilang jadi kenyataan, kan bahaya. Usai menghabiskan makanan mereka, ketiganya terdiam menatap langit malam yang terasa begitu panjang. Bulan dan bintangnya seolah saling bercerita, berbisik melalui angin yang dingin. Di asrama, mereka jarang sekali bisa menikmati malam secara langsung seperti ini. Mereka terpaku pada langit-langit kamar, bergelut sendiri. Namun, kini bisa menikmati alam terbuka dengan kedamaian. “Aku ingin memetik satu bintang dan membawanya bersamaku.” “Bintang ukurannya sangat besar, Larissa. Dan, sangat jauh. Cahaya yang kamu liat sekarang, mungkin sudah terpancar dari bintang bertahun-tahun yang lalu.” “Bear, aku sudah tahu. Aku hanya mengandai.” “Bahkan jika kamu adalah bintang, aku akan tetap menjadi malam yang tak pernah menemuimu Dengan membuatmu ada, itu sudah cukup membuat adaku berharga Dan ketika matahari datang, aku lepas gelap bersama kepergianmu Aku sang Malam, yang menanti bintang dari siang.” Bear dan Larissa sontak menoleh ke arah Sean. Lelaki manis itu sedang termenung sambil menguntai sajak-sajak dari mulutnya. Tak heran jika ia menghabiskan waktu untuk membaca buku, kemampuannya benar-benar terbukti. “Aku tidak bisa berpuisi, tetapi aku menikmatinya, Sean.” “Jika salah satu dari kita harus pergi, jangan ada yang menangis ya. Bagaimana pun kita sudah punya cerita, jangan jadikan masa lalu sebagai penyesalan, jadikanlah masa lalu sebagai kenangan.” “Sean, apa yang sedang kamu bicarakan? Teman sekamarku terlihat melankolis sekali malam ini.” “Bukan melankolis, tetapi bagaimana pun suatu hari pasti kita akan pergi. Entah siapa yang duluan.” “Berhenti berucap yang aneh-aneh. Lebih baik kamu lanjutkan sajak-sajakmu, Sean. Aku benci membahas kata perpisahan.” Sean terkekeh, dia tidak bermaksud membahas hal itu. hanya saja suasana malam ini begitu menyentuh. Sean yang duduk di tengah mengamit tangan Bear dan Larissa lalu mengayunnya berirama. “Terima kasih sudah mau menjadi temanku, terima kasih sudah menjadi orang yang memahamiku.” *** Saat itu usia Sean adalah dua belas tahun. Di momen perayaan Hari Ayah ia dan kakaknya membuat kue spesial untuk pria terbaik dalam hidup mereka. Namun, takdir berkata lain, yang terjadi justru kemalangan yang merenggut semua keluarganya. Sean hidup bersama ayahnya yang bernama Rei, ibunya Vie, dan kakak perempuannya Nesali. Malam itu Sean dan Nesali menyiapkan kue tart dan sudah menghiasnya. Malam ini angin berembus sangat kencang, kain gorden melayang-layang ditiup angin. Sean yang mengenakan piama putih tampak girang melihat kue dengan lilin di atasnya. “Ayah, selamat Hari Ayah buat ayah terbaik di dunia!” Sean memeluk ayahnya. Nesali ikut memeluk ayahnya. “Ayah adalah pria paling tampan di dunia.” Saat Nesali bilang begitu, ia sama sekali tidak berbohong. Rei dan Vie adalah pasangan yang sangat cocok, tak heran jika kedua anaknya juga sangat menggemaskan. “Sehat terus, ya, Mas.” Vie mencium tangan suaminya. Rei mencium kening Sean, Nesali, dan Vie. “Terima kasih, anak-anak, juga ibu dari anak-anakku.” “Sekarang ayo kita makan kuenya, Ayah!” “Iya, Sean. Yang sabar.” Rei tersenyum melihat anak lelakinya kini sudah sebesar ini. Rasanya baru kemarin Sean minta belikan buku dongeng hampir setiap hari. Sekarang dia sudah jadi lelaki remaja. Rei lalu memegang pisau untuk memotong kuenya. Ia memberikan kue itu untuk Nesali, lalu, Sean, dan terakhir Vie. Mereka tertawa bersama, hingga tidak sadar lilin dari kue itu terjatuh dan menyambar alas meja makan. Api itu merambat ke lantai kayu yang memang habis diberi solar. Dalam hitungan cepat api itu membesar, dan suapan kue dari Rei langsung jatuh. Keempatnya sontak berteriak. Api langsung menyambar ke segala arah, mengurung mereka dalam lingkaran api. Dinding-dinding dengan cepat disambar api yang menyala-nyala, juga langit-langit rumah yang seketika rontok. “Ayah! Ibu! Ayah! Ibu!” Sean berteriak. Awalnya mereka berempat saling berpelukan. Namun, kemudian kepala Vie terhantam reruntuhan dan langsung tumbang. Rei sesak napas dan terduduk di lantai. Sedangkan Nesali sudah tidak sadarkan diri. Tinggal Sean yang kini masih sadarkan diri. Merasa api semakin membesar, Sean berinisiatif masuk ke dalam celah lubang dari lantai yang ambruk. Saat itu entah keajaiban atau bagaimana, lantai yang diinjak Sean ambruk, membuat lubang besar di sana. Gara-gara kejadian itu, Sean harus kehilangan semua anggota keluarganya, bahkan rumahnya. Ia harus menyaksikan anggota keluarganya disemayamkan, dan rumahnya diratakan. Ia tidak pernah bisa bertahan saat harus melihat kuburan keluarganya, kesadarannya dengan mudah dicabut saat dihadapkan pada kenyataan. Saat itu perasaan Sean sangat hancur. Ia benar-benar belum bisa menerima apa yang terjadi. Memorinya tertinggal di masa-masa ini, dan membuat otaknya seolah sering berimajinasi. Sean selalu berpikiran bahwa keluarganya masih lengkap, dia sering menelepon ayahnya, ibunya, atau kakaknya, dan berbicara di sana seolah sedang baik-baik saja. Hanya Bear yang memahami masalah ini. Setiap kali Sean menyerahkan teleponnya kepada Bear, ia akan berpura-pura bahwa ia bisa menerima panggilan dari keluarga Sean meskipun itu hanya sebuah hiburan. *** Bulan malam ini berhasil menjadi saksi bagaimana Bear menyerap informasi yang sedang ada di kepala Sean. Selama ini Bear tidak pernah tahu detail kejadiannya, ia hanya bersandiwara untuk menghargai sahabatnya. Namun, malam ini ia mengetahuinya. Bear segera merangkul pundak Sean yang masih terlarut pada desau angin malam. “Sean, apa kamu tahu kalau aku dan Larissa akan sangat senang mendengar semua ceritamu.” Yang menoleh ke arahnya bukan hanya Sean, tetapi juga Larissa. “Maksudmu?” Bear lantas menggeleng. “Bukan apa-apa.” Ketika pagi mulai datang, cahaya matahari mulai mengintip dari belakang gunung berbatu itu. namun, belum cukup menghentikan bulan dan bintang untuk bertengger di sana. Suasana matahari terbit disusul dengan suara debam air, seolah ada air terjun di sekitar mereka. Secara tiba-tiba, muncul kabut tebal di hadapan tiga remaja itu. kabut tersebut bergerak dengan anggun, menyisakan bayangan hitam yang terasa familier. Si Pria berpakaian hitam! Pria itu masih dengan pakaian yang sama dengan apa yang mereka lihat terakhir kali muncul dari sisa-sisa kabut. Matanya sangat dalam, hingga yang terlihat adalah bola kecokelatannya saja. Dia berjalan sambil menghela rambutnya yang basah. Larissa bahkan berdebar lebih cepat melihat sosok itu. ketampanannya bahkan tidak bisa ditutupi oleh masker hitam. “Waktunya kalian pulang.” Suara itu terdengar dalam seolah berasal dari dasar sumur. Waktu seolah bergerak lebih lambat saat pria itu muncul di hadapan mereka, hingga untuk berucap satu kata pun sulit. Seperti sebelumnya lelaki itu menjentikkan jarinya, dan terang yang semula akan muncul seperti ditarik mundur. Kegelapan dikembalikan, bedanya tidak ada bulan atau bintang lagi di langit. Semuanya dibuat pekat seperti kapas yang menyerap tinta. Dalam hitungan detik, ketiga tidak sadarkan diri. *** Bear, Sean, dan Larissa terbangun di dalam taksi. Ketiganya mengerjap karena matahari bersinar cukup terik di atas mereka. “Kalian tidur di sana seharian?” tanya sopir—eh, sopir yang kemarin? “Bapak yang jemput kami?” tanya Bear yang duduk di kursi depan. “Iya, kemarin saya antar kalian, hari ini saya jemput kalian. Tetapi terima kasih uang tip-nya sangat berarti buat saya.” Uang tip? Mereka tidak pernah memberi uang apa pun. Mungkinkah pria berpakaian hitam itu yang melakukan ini semua? Sean menatap tas miliknya. “Tas punyaku juga sudah balik lagi.” Bear dan Larissa benar-benar dibuat terperangah dengan apa yang mereka lihat. Tas milik Sean yang sudah jelas-jelas dilempar ke mulut anjing ganas kini justru kembali di pundaknya. Mereka bertiga benar-benar membawa tas mereka masing-masing dan rantang makanan untuk saat ini, tidak ada barang yang tertinggal. Mobil melintasi jalanan yang panjang seperti sebelumnya, melewati lahan kosong berisi semak-semak. Tiga jam lebih berlalu mereka akhirnya tiba di area depan kawasan Laminad Boarding School. Sean meregangkan tangannya ke atas sembari menghirup udara segar. Sekarang hari mulai sore, secepat itu perubahannya. Mereka pergi pagi kemarin dan kembali sore hari ini, di depan pusat perbelanjaan LBS atau biasa disebut LBS mall. Keramaian seperti biasa cukup mewarnai pusat perbelanjaan itu kali ini. Bear, Sean, dan Larissa memutuskan untuk kembali ke asrama, beristirahat setelah melakukan perjalanan jauh. “Ternyata Laminad pertama, maksudku Darke, melewati hari-hari yang cukup berat. Tetapi aku bisa merasakan kebaikannya.” Bear mengambil sembarangan topik percakapan selagi mereka menyusuri trotoar pejalan kaki menuju asrama. “Tetapi kita belum menemukan jawaban apa pun mengenai ruangan bawah tanah, bunga edelia, alasan Darke dan Grey berpisah—eh, hei, sebentar. Sepertinya aku baru menyadari hal ini. Kita pergi ke suatu tempat dan melihat Darke di sana, artinya kita sudah menembus dimensi waktu yang berbeda.” Larissa baru menyadari esensi perjalanan mereka. Begitu juga Bear dan Sean. Mereka bukan hanya pergi ke suatu tempat, melainkan juga pergi suatu masa yang berbeda dengan zaman sekarang mereka hidup. “Pria berpakaian hitam itu sepertinya ingin memberi kita petunjuk. Meski intuisiku bisa melewati masa lalu, tetapi pria itu seperti ingin mengajak kita untuk menemukan lebih banyak petunjuk langsung di sana. Sayangnya kita tidak sempat melakukan apa-apa. Larissa, aku ingin bertanya padamu lagi, kamu yakin pria yang masuk ke kamar adalah Darke?” “Iya aku yakin, Sean, wajahnya sangat mirip dengan Darke, siapa lagi kalau bukan Darke?” “Bahkan semuanya mirip?” tanya Sean hendak memastikan lagi. Larissa hampir menjawab iya, tetapi tiba-tiba ia teringat bahwa pakaian yang dikenakan pria itu berbeda. Ia mematung sejenak lalu berseru tertahan. “Astaga, Darke mengenakan piama biru, sedangkan pria itu mengenakan piama hijau. Ta-tapi wajahnya sangat mirip dengan Darke.” Mereka sudah melewati persimpangan menuju gedung sekolah, tetapi mereka harus mengambil rute lurus untuk menuju asrama. Bear memikirkan hal lain hingga dahinya berkerut. ”Kalian ingat kalau jumlah kursi di ruang makan itu ada empat?” Ia menghentikan langkahnya tiba-tiba saat hendak mengucapkan hal itu, membuat dua temannya juga berhenti. “Bagaimana kalau ternyata memang ada empat orang anggota keluarga di sana? Dan yang masuk ke kamar Darke adalah saudaranya.” “Menurutmu Darke kembar?” “Agak mustahil kalau aku bilang itu doppelganger miliknya, kan, Larissa. Kemungkinan terbesar adalah Darke punya saudara kembar.” Mendengar argumen Bear berhasil membuat Sean memutar otaknya, seperti ada sepotong percakapan yang masih tersisa di kepalanya. Apa pun yang aku lakukan selalu dianggap salah. Hanya Kres yang benar, sebenarnya apa yang aku perbuat sehingga Ayahanda dan Ibunda begitu membenciku? Sean  sontak menjentikkan jari, membulatkan matanya. “Dan nama kembarannya adalah Kres.”    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN