Bear, Sean, dan Larissa terpaksa membolos selama dua hari, tetapi ternyata tidak ada yang mempermasalahkan hal itu. mereka bisa datang ke sekolah dengan aman. Namun, suatu kejanggalan karena merak tidak menemukan keberadaan Ge. Hingga bel pulang berbunyi, sosok yang biasa mencari gara-gara terhadap mereka itu seolah hilang ditelan bumi. Bahkan di asrama putra Bear dan Seaniel tidak pernah berlimpasan dengan mereka.
Bear menunggu Sean dan Larissa di halaman sekolah. Kedua sahabatnya tadi hendak membeli makanan di kantin. Setelah kembali Sean memberikan bungkusan cireng kepada Bear.
“Ambil saja, Bear.” Sean berucap tulus.
Bear menerima pemberian Sean sambil tersenyum. “Ayo pulang!” tawar Bear.
Kedua temannya mengangguk, mereka juga ingin pulang sekarang. Namun, seorang anak SMP yang tempo hari juga sempat mendatangi mereka, kini kelihatan terburu-buru menghampiri mereka lagi.
“Kakak!” seru anak lelaki itu agak ngos-ngosan.
Larissa menoleh. “Ada apa, Dek?”
“Kakak, Laminad memanggil kalian ke ruangan pribadinya.”
Astaga, pasti pria itu menuntut mereka untuk menemukan lokasi tumbuhnya bunga edelia dengan lebih cepat.
Akhirnya dengan berat hati mereka harus menuju lantai lima gedung sekolah, memasuki ruangan kepala sekolah dan menyelinap di balik lemari rak untuk menaiki anak tangga.
Lonceng berbentuk bulan sabit sungsang. Bear menggenggam benda berwarna emas itu membunyikan hingga tiga kali. Setelah itu pintu terbuka, menguarkan aroma buku yang mirip aroma perpustakaan. Pria berbadan tegap, beralis tebal, berahang kokoh, senyum yang dingin, dan tatapan seruncing belati itu duduk di kursi ruangannya.
Ia bersuara, “Silakan masuk!” Suara itu seperti langkah tentara di jalanan aspal kosong, dalam.
Ketiganya menunduk sebagai tanda hormat, lantas duduk di kursi yang telah dipersiapkan.
“Bagaimana kabar kalian, Bear, Sean, Larissa?” Meski sudah berusaha ramah, mereka tidak bisa menampik bahwa yang mereka rasakan adalah dingin yang menjalar. Setiap Laminad mengeluarkan patahan kata, kata-kata itu seperti mengintimidasi mereka.
Mereka menjawab dengan hampir serempak, “Baik, Laminad.”
“Saya yakin kalian sudah tahu alasan saya memanggil kalian ke sini. Ada yang bisa menebak?”
Meski mereka sebenarnya bisa menduga, tetapi mereka memilih diam dan menggeleng. Berpura-pura bodoh di hadapan orang pintar adalah bentuk penghargaan.
Laminad terkekeh seolah ada yang lucu. Giginya terlihat, ada kelonggaran pada wajahnya ketika tertawa, tidak sekaku biasanya. “Kalian pasti tahu, tapi pura-pura tidak tahu. Ya sudah, saya jelaskan. Mengenai lokasi bunga edelia, saya mengharapkan kalian sudah menemukan bunga itu sebelum purnama selanjutnya terjadi. Jika purnama sudah berlalu, apa yang kalian lakukan hanya akan menjadi sia-sia, dan sekolah kita tidak akan baik-baik saja.”
“Tetapi Laminad, kita sama sekali bingung mencari petunjuknya, bagaimana bisa hal sesulit ini kami selesaikan?”
“Bear, ketika saya menyuruh kalian itu karena hanya kalian yang mampu melakukannya. Petunjuk-petunjuk itu akan datang sendiri kepada kalian, tugas kalian adalah mempercepat hal itu terjadi. Bahkan kalian tidur di asrama saja, kalian bisa menemukan petunjuknya, tetapi harus melewati berapa purnama? Tentu akan lebih baik kalau kita secepat mungkin menemukannya. Ah, bukan secepat mungkin, tetapi memang harus cepat.”
“Laminad.” Sean takut-takut mengambil percakapan. “Apa Laminad tahu mengenai Laminad pertama?”
Wajah Laminad kembali menegang, kaku, dan dingin. “Aku hanya tahu kalau dia adalah pendiri sekolah ini. Memangnya ada apa, Sean? Adakah yang kalian ketahui tentang dia?”
Sean hampir mengatakan iya andaikan Bear tidak menginjak sepatunya. Untuk saat ini akan lebih baik jika mereka menyimpang beberapa informasi sendiri. Pura-pura bodoh lebih baik, setidaknya dalam keadaan tertentu musuh tidak akan menganggap mereka sebagai sumber bahaya. Hal itu paling tidak bisa memperbesar peluang mereka menang nantinya.
Bear tidak bisa mempercayai Laminad, ada sesuatu yang disembunyikan pria itu. namun, intuisi Bear tidak bisa menembusnya untuk saat ini karena Laminad mungkin sudah mengantisipasi kemampuannya.
“Tidak, Laminad. Justru itu kami ingin bertanya, siapa tahu bunga edelia berkaitan dengan awal berdirinya sekolah ini.”
“Aku pikir memang ada hubungannya, Sean,” lanjut Larissa. “Tetapi seperti apa hubungannya tidak ada yang tahu.” Perkataan Larissa barusan terdengar cukup dingin, ia seperti mengirim suatu sinyal kepada Laminad, semacam intimidasi balik. Larissa tidak senang dengan seseorang yang banyak memberi tekanan tetapi tidak mau memberi solusi. “Kita di sini akan melakukan yang terbaik sebisa kita, Laminad. Tetapi tidak ada penawaran lain untuk memudahkan kami? Akses dua puluh empat jam menurut kami masih kurang.”
Laminad mengernyitkan dahinya. “Lalu apa yang kamu pinta, Larissa?”
Saat itu senyum miring Larissa terlihat sangat tajam. “Rahasiakan identitas kami untuk semua akses di sekolah maupun di luar sekolah. Kami tidak perlu menggunakan ID, kami bisa melakukan banyak hal tanpa siapa pun tahu apa yang kami lakukan.”
***
Di lapangan voli asrama, ketiganya duduk di kursi panjang yang berada di samping. Mereka menyaksikan anak-anak bermain. Bear dan Sean terlihat gemas ingin bermain. Dulu, mereka bisa bermain di sana meskipun ada kecanggungan dengan anak lain. Tetapi sekarang mereka benar-benar tidak punya keberanian lagi. Bahkan Andrew yang dulu selalu merangkul mereka, kini sudah beberapa hari tidak mereka lihat tampangnya.
“Kalian adalah pemain voli yang hebat, aku sangat menikmati permainan kalian dari balkon kamarku.”
“Ah, aku sudah bilang supaya kamu lihat dari bawah tetapi kamu selalu memilih duduk di atas sana. Bukankah lebih asyik melihat dari dekat, ya?”
“Melihat dari atas boleh jadi lebih keren, Sean.” Bear yang menjelaskan. “Larissa bisa melihat langit, bisa melihat pergerakan kita, bisa menikmati angin. Mengamati dari jauh boleh jadi lebih menakjubkan daripada mengamati dari dekat.”
Sean mengangguk paham. “Sebenarnya aku merindukan kehidupan normalku ketika masih jadi murid yang biasa-biasa saja. Kalau diingat-ingat lucu juga, aku dan Bear sering bertengkar konyol, membentuk kubu yang sering berseteru, dan Larissa hanya menatap kita tidak peduli.”
“Sebenarnya kamu sangat menyebalkan, Sean. Tetapi aku terlalu malas ikut campur, lagi pula sebenarnya aku terhibur dengan kekonyolan kalian. Bear mati-matian untuk bersabar, tetapi Sean terus memancingnya hingga memanas.”
“Dan bodohnya meski aku tahu Sean hanya memancingku, aku tetap terpancing. Hah, masa lalu yang aneh.” Bear melipat kedua tangannya ke belakang kepala.
“Sebenarnya aku hanya ingin berteman dengan Bear, tetapi dengan sifatnya aku bingung bagaimana cara berteman. Makanya aku berpikir dengan mengganggunya dia akan mengenalku dan kita bisa berteman baik.” Dulu Bear sangat membenci keributan, sedangkan Sean adalah biang keributan. Dengan perbedaan itu Sean sengaja mencari cara agar Bear terkesan dengannya. Melalui kesan itu Bear akan mengenalnya dan kemudian akan berteman dengannya. Pemikiran yang sangat kacau.
“Mengapa kita jadi bahas masa lalu? Hahaha. Bagaimana pun saat ini kita harus melakukan sesuatu mengenai bunga itu. Apakah kalian sudah memikirkannya?” Larissa dengan cepat mengubah topik obrolan.
“Aku sudah punya ide, tetapi aku tidak tahu apa akan berhasil.”
Kini, Sean dan Larissa menatap Bear dengan tatapan bingung.
“Apa idemu, Bear?”
“Akan aku jelaskan setelah makan malam, Sean.”
***
Mereka berkunjung ke kamar Larissa dan makan makanan yang sudah disiapkan oleh pemilik kamar. Mereka menyantap tumis sayur kangkung dan tempe goreng. Sean membawa sambal terasi instan dari kamarnya juga.
Usai makan malam mereka selesai, ketiganya duduk serius di atas tikar rotan yang terbentang di lantai. Sesuai perjanjian Bear akan menjelaskan rencananya.
“Aku ingin menemukan buku dengan sampul cokelat bergambar bulan sabit sungsang itu,” tembak Bear tanpa berbasa-basi.”
Larissa dengan es jeruk di tangannya meletakkan gelas. “Di mana kamu akan menemukannya? Kita belum punya petunjuk.”
“Sudah Larissa. Sean bilang kalau di dalam mimpinya Darke dan Grey berada di dalam ruangan dengan rak-rak buku, dindingnya adalah bata merah, dan Darke meletakkan buku bulan sabit sungsang itu di salah satu rak.”
Larissa mengingat bagian itu.
Sean menegakkan duduk. “Rak buku?” tanyanya mengonfirmasi.
Larissa ikut menegakkan posisinya lalu menjentikkan jari. “Dinding bata merah! Aku sepertinya memahami arah pembicaraan, Bear.”
Bear tersenyum senang teman-temannya lebih tanggap dari yang ia duga. “Kita pernah menemukan ruangan itu di perpustakaan, di ruangan buku-buku anonim, di balik laci besar. Ada pintu masuk ke dalam ruang bawah tanah, ruang itu berdinding bata merah, tetapi kosong.”
“Sebenarnya tidak kosong, Bear.” Sean tiba-tiba teringat dengan detail ruangan itu. “Ada lemari di sisi kanan ruangan, kita belum memeriksa isinya.”
Menakjubkan, mereka sudah menemukan petunjuk itu sejak awal tetapi mereka baru menyadarinya sekarang.
“Kalian genius. Aku benar-benar salut dengan kalian, Bear, Sean.”
“Sekarang bukan waktunya memuji, Larissa. Kita harus segera ke perpustakaan dan menemukan buku itu. Aku yakin begitu buku itu berhasil kita temukan kita akan lebih mudah mengetahui lokasi bunga edelia tumbuh.”
Bear langsung menggerakkan teman-temannya untuk bergegas. Masing-masing membawa senter untuk antisipasi siapa tahu ruangan bawah tanah gelap seperti kemarin.
***
Mereka berhasil tiba di perpustakaan beberapa belas menit kemudian. Perpustakaan masih tetap ramai bahkan ketik malam begini. Danau juga dikelilingi remaja-remaja untuk bersantai bahkan berpacaran.
Bear, Sean, dan Larissa masuk ke dalam gedung perpustakaan tanpa menggunakan tanda pengenal atau mengisi data apa pun. Itu adalah hasil kesepakatan Larissa dan Laminad.
Larissa memimpin di depan untuk menuju pintu lemari yang menjadi jalan masuk ruangan buku-buku anonim.
“Pintunya ada yang mengunci.” Larissa memutar kepala ke belakang. “Berarti kemungkinan besar kemarin kita sengaja dikunci.” Kunci yang digunakan adalah kunci selop, sehingga tidak memerlukan anak kunci untuk membukanya. Larissa kemudian menarik kunci selop itu, lalu menarik gagang dan mendorong pintu.
Dari apa yang mereka saksikan, sepertinya belum ada orang lain yang masuk ke sana setelah mereka. Rak-rak masih dibiarkan berantakan, celah menuju ruangan bawah tanah juga dibiarkan terbuka.
Bear sebagai orang yang masuk terakhir langsung menutup pintu dengan rapat. “Larissa, masuklah lebih dahulu.” Ia mempersilakan Larissa.
Gadis itu mengiyakan petunjuk Bear. Dia meluruskan kakinya di celah rak, lalu secara perlahan meluncur turun menuju dasar.
Sean sebagai orang kedua menyusul Larissa. Lalu terakhir adalah Bear sendiri.
Mereka menepuk celana yang kotor begitu tiba di sebuah ruangan seukuran lapangan bulu tangkis. Ruangan itu memiliki dinding dari bata merah yang sudah berlumut berlumut. Warnanya terlihat kusam. Ruangan itu tampak kosong. Hanya ada lemari tua setinggi dua meter di sayap kanan bangunan. Itu pun gagangnya sudah runggas. Beruntungnya penerangan di sini cukup baik, lampunya menyala sebagaimana mestinya.
“Becek,” Sean mengangkat kedua kakinya bergantian, mengamati bagaimana tapak sepatunya menginjak lantai yang basah dan kotor. Ia meringis. “Dan bau.”
“Terakhir kali kamu ke sini kamu juga mengatakan hal yang sama,” pungkas Bear ketus. “Sekarang kita akan coba membuka lemari itu?”
Tidak ada pilihan lain. Mereka hafal betul kalau pintu yang ada hanya akan mengantarkan mereka pada terowongan dengan stalaktit dan stalagmit. Maka satu-satunya yang perlu mereka coba lakukan adalah melihat isi lemari itu.
“Bear, Sean, aku ingin membuka pintu lemari ini.”
Bear pernah berjanji untuk membiarkan Larissa mengambil risiko bahaya. Maka kali ini ia mengizinkannya.
Larissa lantas mendekat ke pintu lemari dan menarik pegangannya. Lemari itu tidak terkunci sama sekali, ia hanya perlu menarik pegangan untuk membukanya.
Begitu pintu lemari ternyata isinya hanya lemari kosong. Itu bukan pintu menuju tempat lain.
Sean menghela napas kecewa. Ia tampak kecewa sekali dengan apa yang dilihat matanya kali ini. “Padahal aku yakin ruangan ini menyimpan sesuatu, ternyata hanya lemari tua yang sudah kosong.”
“Jadi kita harus bagaimana?” Larissa memang tipe perempuan yang sering bertanya bagaimana dan mengapa. Itu adalah pembeda dirinya dengan gadis kebanyakan yang sering bertingkah sok tahu.
Bear mengernyit sembari menggigit ujung jempolnya. “Aku juga yakin ada sesuatu di sini. Instingku kuat sekali rasanya. Tetapi di mana, ya?” Bear kemudian melangkahkan kakinya, mendekati lemari itu. ia berharap menemukan sesuatu, entah tombol atau apa pun di sana.
Namun yang berhasil ia temukan hanya debu dan kulit kayu yang terkelupas. Merasa kesal, Bear menendang bagian dalam lemari itu.
Bunk!
Telinga Bear seketika berdiri. Bunyi yang timbul dari benturan sandal dan papan kayu lemari itu terdengar nyaring. Bear mencoba memukul dengan tangannya.
“Sean! Larissa! Aku sebenarnya mengetahui sesuatu.”
“Apa?” tanya dua temannya serempak.
“Coba kalian pukul bagian dalam lemari ini.”
Awalnya Sean mengernyitkan keningnya karena bingung. Namun, ia tetap melakukan apa yang Bear katakan.
Bunk!
Sean melebarkan matanya. Dia seperti memahami apa yang Bear maksud. Mereka berdua saling pandang dan tersenyum penuh arti.
Merasa penasaran, Larissa ikut mencoba. Ia mengetuk pelan bagian dalam lemari, dan ia ikut tersenyum bersama Bear dan Sean.
Bagian belakang lemari ini pastilah ruang kosong karena resonansi suara yang terdengar ketika mereka memukul bagian dalam lemari terbilang nyaring. Jika bukan ruang kosong, pastilah suara yang timbul akan dialirkan ke padatan dinding dan suaranya akan teredam. Untuk kasus lemari ini hal tersebut tidak berlaku. Suara terdengar jelas tanpa mengalami peredaman.
Mereka bertiga lalu mencoba menggeser lemari itu dengan tenaga mereka. Meski perempuan, Larissa tidak bisa diremehkan. Ia adalah perempuan mandiri yang sebenarnya terlatih. Ia bisa bela diri meskipun semenjak bersekolah di sini ia sangat jarang mengasah kemampuannya.
Saat lemari digeser, mereka dapat melihat sebuah lubang di dinding seukuran pintu. Itu adalah ruangan gelap tanpa pencahayaan. Beruntung cahaya dari lampu ruangan tempat mereka berdiri sekarang berhasil memantul dan masuk ke dalam ruangan itu.
Sean yang kali ini berinisiatif mengecek karena hanya dia lah yang tahu ruangan seperti apa yang ada di mimpinya. Ia menyalakan lampu senter yang ada di saku celananya dan menembakkan cahaya ke dalam ruangan.
Napas Sean tertahan begitu matanya menangkap seperti apa ruangan itu.
Ruangan seukuran lapangan bulu tangkis dengan dinding bata merah dan rak-rak buku. Itu adalah ruangan yang sama persis dengan apa yang ia lihat dalam mimpinya. Bedanya, ruangan ini sekarang terlihat berdebu dan pengap. Buku-bukunya tak seharum buku di perpustakaan.
“Bagaimana, Sean?” tanya Bear lagi.
Sean memutar badannya, menatap Bear dan Larissa. “Benar. Ini ruangan yang ada di mimpiku.”