Buku Bulan Sabit Sungsang

2223 Kata
Ruangan seukuran lapangan bulu tangkis dengan dinding bata merah dan rak-rak buku. Itu adalah ruangan yang sama persis dengan apa yang ia lihat dalam mimpinya. Bedanya, ruangan ini sekarang terlihat berdebu dan pengap. Buku-bukunya tak seharum buku di perpustakaan. “Bagaimana, Sean?” tanya Bear lagi. Sean memutar badannya, menatap Bear dan Larissa. “Benar. Ini ruangan yang ada di mimpiku.” Sekarang tidak ada alasan lagi untuk mereka mencari keberadaan buku tua bersampul cokelat dengan gambar bulan sabit sungsang itu. ketiganya segera masuk ke dalam ruangan pengap itu. “Kita berpencar,” ujar Bear. Sean dan Larissa mengangguk. Mereka berpencar menuju sisi rak yang berbeda. ruangan itu setidaknya memiliki lima buah rak. Empat rak di empat sisi dinding dan satu  rak di bagian tengah. Sean ingat bahwa buku itu diletakkan di rak tengah, di bagian yang paling mudah digapai. Namun, begitu ia mengeceknya, ia tidak menemukan apa pun. “Sean, apa bukunya seperti ini?” Larissa mengangkat sebuah buku. Warna sampulnya cokelat, bergambar bulan sabit, tetapi itu tidak sungsang sama sekali. Sean menggeleng. “Bukan itu, Larissa. Gambar bulan sabitnya menyerupai posisi huruf U.” Larissa membuang napasnya dengan berat. Dia mencoba untuk membuka buku itu dan ternyata isinya hanya kertas-kertas kosong. Dia lalu meletakkan buku itu ke tempat semula. Semakin mereka membongkar buku, semakin tebal debu yang menguap ke udara. Ketiganya tidak dapat mengatasi batuk dan sesak pada pernapasan mereka. “Ah ini gudang atau bagaimana? Aku tidak bisa menemukan bukunya!” Sean kembali dengan tabiat lamanya, mengeluh. Meski ia sudah menutup hidung dengan bajunya, tetapi debu itu seolah mengikuti hidungnya, tidak mau lepas. “Aku juga tidak menemukan bukunya. Apa mungkin buku itu dipindahkan, ya?” “Sean, tidak bisakah kamu bermimpi lagi? Mungkin ada petunjuk mengenai bunga itu, Sean.” Larissa menyandarkan kepalanya pada rak  buku. “Apa tidak ada cara lain? Laminad bilang tanpa dicari pun petunjuk itu akan datang sendiri. Bagaimana kalau kita menunggu beberapa hari sambil menunggu keajaiban itu datang?” Usulan Sean sebenarnya masuk akal. Berlama-lama di sini hanya akan membuang waktu mereka. Ditambah lagi ruangan yang pengap dan berdebu, mereka bisa mati kehabisan napas. “Ya sudah. Kita keluar dulu dari sini. Setidaknya kita tahu tentang ruangan ini, kalau sewaktu-waktu kita menemukan petunjuk, kita masih bisa ke sini lagi.” Mereka lalu membereskan beberapa buku yang berantakan, lalu keluar ruangan itu. Bear mengembalikan posisi lemari, memastikan semuanya seperti kondisi semula. Setelah mereka berada di ruangan buku-buku anonim, ketiganya mengemaskan barang-barang di sana, termasuk buku dan raknya. Tempo hari mereka masih beruntung karena tidak ada orang yang masuk ke ruangan itu, tetapi lain kali boleh jadi keteledoran mereka akan berdampak sesuatu yang lain. *** Pria yang memakai jubah dari sutera dengan bordiran benang emas bermotif naga memanjangkan langkahnya untuk menuruni gunung berbatu. Ia sudah terbiasa sehingga tidak perlu cemas kalau-kalau ia terpeleset dan jatuh. Celana putihnya berkibar ditiup angin. Ini bukan pertama kali ia merasa tertekan tinggal di kediamannya. Sebagai anak dari bangsawan negeri ini, ia tidak pernah diperlakukan sebagai orang terhormat. Ia selalu dibandingkan dengan Kres, adik kembarnya yang dikenal cerdas dan memiliki kemampuan bela diri yang lebih dari dirinya. Darke tidak membenci ayah, ibu, atau adiknya, dia justru membenci dirinya yang tidak bisa menjadi sebagaimana yang diharapkan oleh orang-orang. Saat ia sendirian duduk di tepi danau, pikiran buruk menyuruhnya untuk melompat dan mati di dasar air itu. Mungkin ia akan terlahir kembali sebagai seorang dari rakyat biasa yang tidak menerima tuntutan apa pun. Atau bahkan jika harus terlahir sebagai hewan ternak, ia tidak merasa keberatan. Intinya ia hanya melepas hidupnya sekarang. Darke sudah berdiri di tepi danau, disaksikan bulan sabit yang melengkung di langit malam. Tubuhnya sudah condong ke depan, dengan tangan terbuka lebar. Ia memejamkan mata untuk menikmati semilir angin yang menusuk kulit. Jika ia mati pun, tidak ada yang peduli. Saat hampir seluruh jiwanya siap menerima sentuhan air itu, seseorang memeluknya dari belakang lalu menariknya hingga terjatuh. “Aw!” Darke melebarkan matanya saat pantatnya menimpa suatu objek. Ia menimpa seorang perempuan. Pemuda itu lalu bangkit dan menggeser posisi untuk menjauh dari perempuan itu. Dengan wajah masih terlihat kaget ia menatap gadis itu layaknya anak kecil yang diculik orang asing. “Kamu siapa? Berani-beraninya memeluk saya!” “Aw. Sakit.” Gadis itu masih meringis. “Kamu harusnya bilang terima kasih kepada saya karena sudah menyelamatkan nyawa kamu.” “Saya tidak pernah memintamu menyelamatkan saya!” Darke berseru tidak terima. Gadis itu langsung melupakan rasa sakitnya. Bisa-bisanya dia bertemu dengan pria seperti ini. “Oh, kamu berharap saya membiarkan seorang pemuda mati di hadapan saya, begitu? Kalau mau mati jangan di lingkup wilayah ini!” Darke terdiam saat menyadari pakaian wanita yang menolongnya terlihat anggun dan mahal. Wanita ini pasti bukan wanita biasa, kedudukannya tidak akan lebih rendah dari anggota keluarga kerajaan. “Apa kamu dari istana?” tanya Darke takut-takut. Jika gadis ini tinggal di istana, bukan tak mungkin kepalanya akan dipenggal hingga tewas. “Kamu tidak perlu tahu.” Gadis itu terlihat tidak senang saat Darke menyebut istana, ia lalu berdiri dengan agak terburu-buru dan meninggalkan Darke. Gaun panjangnya mengembang hingga menggeret ke tanah. Rambutnya dihias dengan ornamen kawat berbentuk bunga. “Eh, t-tunggu!” Darke menyusul untuk berdiri, ia bahkan belum mengucapkan terima kasih kepada gadis itu. Ia menyesal sudah berbuat buruk kepada orang yang sudah menyelamatkan nyawanya, meski orang itu juga yang menggagalkan rencananya. Darke berhasil menahan tangan gadis itu hingga tubuhnya tertarik dan terputar ke belakang. Darke menahan pundaknya agar tidak terjatuh. Dua pasang mata milik mereka saling bertatapan, semakin lama semakin dalam. “Maafkan aku karena sudah berbuat tidak sopan,” ucap Darke dengan suaranya dalam dan agak berat. “Aku seharusnya mengucapkan terima kasih.” Grey, gadis itu, terpaku beberapa detik saat melihat tatapan milik Darke. Tatapan yang sempurna. Tubuhnya terasa dijalari alir hingga merinding. Pemuda di hadapannya sangat tampan, sempurna. Beberapa lama memaku, Grey akhirnya tersadar dari khayalannya. Ia refleks menggeleng dan menegakkan kakinya. Ia salah tingkah. “Bukan masalah besar,” jawabnya dengan setengah menunduk sembari menyentuh kepalanya. “Apa kamu bisa menjawab pertanyaanku?” Darke bertanya dengan penuh intimidasi. Entahlah, mungkin ia tidak bermaksud untuk mengintimidasi siapa pun, tetapi dari caranya bicara membuat orang-orang merasa kikuk. “Namamu siapa? Apa kamu dari istana?” Grey menelan ludahnya. Dia tidak bisa mengatakan apa-apa. Ia hanya mengangguk lalu berbalik badan untuk meninggalkan Darke. *** Grey menampar-nampar pipinya, merasa tidak percaya dengan apa yang barusan terjadi. Dari cermin yang ada di kamarnya, ia bisa melihat pipinya memerah. Siapa pemuda yang tadi ia selamatkan? Di mana tinggalnya? Dari pakaian sutera yang dikenakannya, pemuda itu juga sepertinya berasal dari keluarga bangsawan. Apa jangan-jangan ia yang menghuni gunung batu? Keluarga tersohor di negeri ini? Jika benar, maka keluarganya tidak akan keberatan jika mereka kemudian akan bersatu. Gara-gara malam itu juga, Grey memutuskan untuk kembali ke danau pada esok malamnya. Namun, ia tidak menemukan pemuda itu. Grey hanya duduk menunggu di tepi danau, menikmati langit yang malam ini tampak gelap. Belum lama waktu yang ia habiskan di tempat itu, ia lantas bisa melihat kemunculan riak air di danau karena tetesan air dari langit. Malam itu hujan gerimis turun rintik-rintik, yang kemudian tiap titiknya terus bertambah menjadi hujan yang deras. Anehnya, Grey tidak kehujanan. Seseorang menghalangi tetes air itu membasahi kepalanya. Begitu mendongak, Grey melihat kain sutera tebal berwarna biru melindunginya dari hujan. “Mengapa hujan-hujan di sini?” tanya suara berat milik Darke. Grey sontak berdiri dan menarik pakaian yang secara tak langsung menutupi si pemilik suara itu. Grey agak terkejut saat melihat pemuda di hadapannya. “Mengapa kamu di sini?” Grey menyampirkan jubah itu ke pundak Darke yang saat ini hanya mengenakan pakaian tipis dari kain mori, membuat pahatan tubuhnya menerawang. Kini mereka berdua kehujanan. “Hanya ingin,” jawab Darke dengan begitu tenang. Air yang mengalir melalui hidungnya lalu turun membasahi bibir yang menggairahkan seolah ada rasa panas yang tersimpan di dalamnya. “Sama, aku juga hanya ingin mandi hujan di sini.” Darke terkekeh hingga gigi serinya kelihatan. “Sebenarnya aku ingin menemuimu.” Jantung Grey seperti berdetak lebih cepat hingga ia berharap jantungnya berhenti bekerja. “Aku belum berterima kasih dengan benar kepadamu malam itu. Dan, maaf, aku membuntutimu saat kamu pulang ke istana. Apakah benar kamu keluarga istana?” Istana berada satu kilometer dari gunung batu tempat tinggal Darke. Itu adalah kompleks khusus yang di bagian depan gerbangnya ada patung naga berkelindan dengan singa. Malam itu Darke melihat gadis yang menolongnya memasuki wilayah istana, maka sudah pasti gadis itu adalah anggota keluarga istana. Mustahil seorang b***k memiliki pakaian sebagus yang dikenakannya.. Alhasil Grey hanya bisa mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Darke. Ia lalu mengulurkan tangan untuk berkenalan. “Aku Greya Etipistiya. Kamu boleh memanggilku Grey.” Darke lalu membalas uluran tangan Grey. “Aku Darkan Kelometra, panggil saja Darke.” *** Bear membuatkan Sean dan Larissa minuman segar selagi keduanya sedang beristirahat. Ia lalu membangunkan kedua temannya yang terlelap di lantai. “Iya Bear, ada apa?” tanya Larissa masih setengah sadar. Matanya memerah, ditambah lagi saat tangan menguceknya mata itu bertambah merah. Saat ini mereka berada di ruangan kumpul asrama. Ruangan itu berada di area depan asrama putra, biasanya khusus digunakan oleh mereka yang ingin mengadakan perkumpulan tertentu. Berhubung saat mereka pulang hari sudah larut, mereka meminta izin kepada penjaga asrama untuk meminjam ruangan itu karena biasanya mereka perlu melakukan reservasi dua hari sebelumnya. Ada beberapa hal yang ingin mereka bahas sebenarnya tetapi Larissa dan Sean justru tertidur di sana. Ruangan kumpul asrama adalah ruangan besar yang lapang tanpa kursi, hanya dialasi permadani lembut dan beberapa gulung matras. Di salah satu sisi ada pantri untuk menyiapkan minuman. Ada termos air panas di atasnya juga kulkas kecil di sampingnya. Bear meletakkan es jeruk di hadapan Larissa. “Minumlah!” Dengan senyumnya Bear menawarkan Larissa. Pria memang sangat peduli kepada teman-temannya, tanpa didaulat secara resmi sebagai kepala tim, Bear sudah menunjukkan bahwa dia layak menjadi pemimpin dalam tim mereka. Larissa meminum minumannya hingga bersendawa selagi Bear menepuk-nepuk kaki Sean. “Sean bangun! Kamu yang pertama kali tidur di sini tetapi yang paling telat bangun.” Semenjak mendapatkan kemampuan melihat masa lalu melalui mimpi, frekuensi tidur Sean menjadi lebih sering. Memang benar sebelum ini pun anak itu sudah sering tidur, tetapi belakangan jauh lebih sering. Sean bahkan tidak kunjung menamatkan buku yang ia pinjam di perpustakaan tempo hari karena tiap malam ia lebih memilih tidur, di samping apa yang mereka hadapi membuat Sean tidak sempat memegang bukunya. Sean mengerang dan mengubah posisinya dari telentang menjadi tengkurap. “Aku Darkan Kelometra,” ceracau Sean. Larissa tersedak mendengar ceracauan Sean. “Dia bilang apa?” “Darkan Kleopatra kalau aku tidak salah dengar.” “Aku juga dengan begitu. Mungkin dia bermimpi sedang hidup di zaman kerajaan Mesir.” Bear menepuk p****t Sean. “Kamu sangat cantik, Greya.” Ini sudah semakin parah, Sean tersenyum sendiri dengan ekspresi yang menjijikan. “Larissa, jangan lihat ini!” “Eh, mengapa?” “Putar badanmu! Jangan lihat dia!” Larissa tidak memahami apa yang dimaksud Bear, tetapi dia tetap menurut. Bear merasakan gelagat aneh dari ekspresi yang ditampilkan Sean. Dengan takut-takut Bear menutup hidung Sean hingga ia kesulitan bernapas. Wajah Sean memerah, ia refleks membuka matanya dan bernapas seperti orang habis tenggelam. “Bear! Kamu mau membunuhku?” tanyanya dengan setengah berseru. “Astaga temanku sendiri ingin mencelakaiku.” “Tidak ada yang mau mencelakaimu. Apa yang kamu mimpikan sampai sebegitunya?” Larissa yang tahu Sean sudah sadar kembali memutar tubuhnya untuk melihat apa yang terjadi. Sean menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia mendadak kikuk. “Anu, aku memimpikan Darken dan Greya.” Seketika Bear melebarkan matanya. “Apa isinya? Kamu tahu letak buku itu berada?” Sean menggeleng. “Aku hanya mengetahui kisah awal pertemuan Darke dan Grey. Sama itu, aku tahu nama lengkap mereka.” Sean lalu menceritakan apa yang ada di dalam mimpinya termasuk nama lengkap keduanya. “Aku pikir kamu bermimpi menjadi Kleopatra. Ternyata Kelometra.” “Larissa, mana mungkin aku bermimpi seperti itu.” Bear memikirkan hal lain. “Sampai sekarang kita belum tahu buku itu berada di mana. Apa iya harus dicek lagi? Ruangan pengap itu. Ah, andai Ge ada, kita bisa meminta bantuannya.” Mereka lalu terdiam dalam pikiran masing-masing. Malam ini awalnya semua berjalan baik-baik saja. Langit malam cerah di luar sana, ruangan lengang, minuman segar yang sudah dibuat Bear siap membasahi kerongkongan mereka. Satu-satunya masalah adalah mereka belum menemukan petunjuk apa pun. Sayangnya teka-teki yang harus mereka pecahkan tidak pernah terlihat sesederhana itu. Seperti teori yang dikatakan Murphy bahwa sesuatu tidak sesederhana kelihatannya. Dari jarak yang sangat jauh, terdengar suara mengaum yang keras hingga posisi mereka duduk bergetar. Air di gelas juga terguncang. Bear, Sean, dan Larissa dengan spontan melihat langit-langit yang mulai retak. “Auuuuuuuummmmm!!” Suara itu mirip dengan suara monster buaya yang mereka temui di terowongan bawah tanah tetapi dalam versi yang lebih kencang dan nyaring. “Kalian memikirkan apa yang aku pikirkan?” tanya Larissa dengan mata memicing. “Kita harus lari dari ruangan ini!” Kalimat terakhir dari Bear disusul oleh berdirinya ketiga remaja itu. langit-langit retak semakin parah karena suara yang begitu nyaring. Mereka lari keluar ruangan kumpul asrama. Di luar ternyata anak-anak lain juga keluar dari kamar mereka, mereka khawatir kalau guncangan akan semakin besar dan menyebabkan kerusakan lebih parah. “Sean, Larissa, pegang tanganku! Kita tidak boleh berpisah!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN