Anggara berbalik menatap Anita. Tak ada lagi rasa hormatnya untuk wanita yang selama ini ia anggap seperti ibunya. "Maafkan aku, Anggara. Aku mohon. Aku benar-benar tak berniat membunuh Ratih! " Anita mencoba mendekati Anggara. "Jangan mendekat! Siincipun jangan kau dekat! Kau tahu, aku sangat membenci diriku yang pernah mengabdi pada pembunuh ibuku! Kau pembunuh! " Anggara mengacungkan telunjuknya di depan wajahnya. Matanya menyala, merah padam. Guratan rahangnya terlihat jelas. Berkedut dan mengeras menahan amarah. Isak tangis Anita semakin kencang. Surya yang sedari tadi mendengar pengakuan Anita merasakan seolah ia kembali ke masa lalu. Tak disangkanya, pemuda yang di depannya adalah anak laki-laki yang ia intip sedang menangisi kepergian ibunya. Rasa bersalahnya semakin menja

