Almaira!!! Almaira!!! Almaira!!! Jantung Anggara berdetak sangat kencang menelusuri seluruh ruang di rumah hutan itu. Ia masih berpikir positif, Almaira akan memberinya kejutan. "Ternyata kau tak benar-benar mencintaiku. Pandainya kau bersandiwara. Ciih...Bodohnya aku yang percaya. Bahkan dalam mimpi pun, tak mungkin kau mencintaiku, " decak Anggara menatap nanar sekeliling rumah hutan itu. "Meskipun kau berdusta, kenapa kau tak percaya padaku, " gumamnya tatkala matanya kembali ke kamar Almaira yang telah kosong. Ia tahu, gadis itu melewati lubang kaca itu. Darahnya sudah agak mengering. Anggara memukul sisa kaca itu. Tak peduli darah segar mengalir dari jemarinya, pemuda itu menerjang berlari, berteriak... "Almaira!!!! Almaira!!! Keluar dari persembunyianmu!! Kau sudah bebas Almai

