Anggara merasakan tubuhnya jauh lebih segar. Ia pun mencoba bangkit dan bisa berjalan lagi walau masih sempoyongan. "Aku akan memapahmu, yang penting hari ini kita pulang, " ujar Almaira yang baru saja kembali dari sungai. Tangannya membawa sesuatu, buah berwarna merah. "Kau yakin ini bisa dimakan? " tanya Anggara serius. Gadis itu mengangguk. "Aku melihat beberapa burung sedang memakannya. Aku mencobanya dan rasanya tidak buruk. Setidaknya supaya ada tenaga," ujarnya yakin. Anggara hanya pasrah menerima pemberian gadis itu. Andai ia kuat, ia sudah bisa menemukan makanan yang lebih layak. Ia tahu seluk beluk hutan ini dengan baik. Kedua insan itu selangkah demi selangkah meninggalkan tempat itu. Anggara mencoba berjalan sendiri namun sering kali ia tersungkur. Luka di bagian lutu

