BAB 45_EMPATI

1009 Kata

Keenam preman itu pun berhenti, meludah dan mengumpat. Mereka masih mengelilingi Anggara dan Almaira. "Bodoh! Laki-laki bodoh! Mengapa kau biarkan mereka menghajarmu?! Bukankah kau berani melawan seekor harimau!? Kenapa sekarang kau menjadi pengecut?!! Hah! " teriak Almaira membangunkan tubuh Anggara yang lemah. Diguncang-guncangkannya bahu Anggara namun tak banyak respon dari pemuda itu. Bahkan untuk membuka mata, Anggara kesulitan. Terdengar deru nafas berat Anggara seperti suara sapi yang digorok. Dengan sisa tenaganya, ia mengeluarkan suara. "Untuk apa aku mempertahankan hidupku? Bukankah ini yang kau mau, Almaira. Tak perlu kau merasa kasihan padaku. Biarkan mereka membunuhku. Seperti katamu, aku tak pantas untuk apapun. " Anggara terbatuk dan memuntahkan darah. Laki-laki itu t

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN