Jika Sudah Selesai

1118 Kata
"Sudah berapa hari hingga sekarang? Apa kau ingat, Haruka?" Mendengar pertanyaan barusan, Haruka terdiam sebentar. Entahlah, ia sendiri tidak yakin dengan angka yang terlintas di kepala. Dari yang diingat, dua musim sudah dilalui dengan cepat. Itu berarti, bukankah tak lama lagi semuanya akan berakhir? "Entahlah. Tapi kurasa kita masih punya banyak waktu." Entah kenapa, tetapi jawaban itulah yang akhirnya dikatakan oleh Haruka. Mungkinkah ia mencoba menepis kekhawatiran dalam diri? Sakura tersenyum saat mendengarnya. Sebuah senyum yang terlihat bahagia, tapi juga membawa luka yang tidak terlihat. "Jika tidak salah, kita sudah menghabiskan 249 hari, Haruka," ucap gadis itu pada akhirnya. Haruka kembali terdiam. Angka di kepalanya seakan terhenti. Ia hampir tidak percaya, benarkah sudah selama itu semenjak pertama kali mereka memutuskan untuk melakukannya di akhir musim semi. Langit di atas masih terlihat gelap, seperti ada gumpalan salju yang menutupi. Namun bagi Sakura, hamparan luas di sana adalah yang terbaik. Wajah gadis itu mendongak, menatap ke atas dengan sebuah senyum yang terlihat sedikit dipaksa. "Tidak terasa sebentar lagi kita akan menyelesaikannya, kan?" ucap Sakura dengan suara tenang, terdengar seperti ada sesuatu yang tertahan. Haruka sedikit terhenyak, memikirkan bagaimana janji yang dokter katakan pada Sakura. Satu tahun, hanya waktu itu yang dimiliki gadis dengan jantung yang kurang baik. Namun meski begitu, Haruka tetap mengangguk. "Kau benar. Waktu berjalan tanpa kita sadar," jawabnya. Pandangan Sakura masih di titik yang sama. Entah apa yang menarik dari langit yang suram, tapi gadis itu terlihat sangat menikmatinya. Tak lama, ia berkata, "Aku penasaran apa yang akan terjadi setelah 365 hari selesai." Kalimat itu, bukan hanya sekadar ungkapan belaka. Setelah satu tahun berlalu, bayangan apa yang ada tepat di mata Sakura? Kepergian. Gadis itu sudah mempersiapkannya, meski dalam hati masih berharap dunia akan lebih lama untuknya. Namun Haruka, tentu ia juga langsung terbayang tentang apa yang ia temukan di perahu kertas milik Sakura saat itu. Ketika angin tidak sengaja membawanya ke hadapan Haruka. Sebuah harapan juga keadaan yang ditulis dengan lantang. Kedua remaja yang masih duduk di tepi sungai, memikirkan hal yang tidak jauh berbeda. "Kita bisa mengulang dari awal, dengan harapan yang sama, atau berbeda." Itulah yang akhirnya dikatakan oleh Haruka. Benar, pria itu sebenarnya juga sangat penasaran dengan apa yang akan terjadi setelah semua selesai. Setelah perahu kertas terakhir mereka hanyutkan. Mungkinkah ia bisa sampai hingga saat itu tiba? Akan tetapi, seburuk apapun bayangan yang ada di depan mata, mengakuinya secara gamblang hanya akan menambahkan rasa takut. Namun mengelak juga tidak bisa selamanya mereka lakukan. "Kita bisa mengulang melepas perahu kertas dari awal. Bukankah tidak masalah?" ucap Haruka lagi. Ya, ia hanya mencoba lari dari kenyataan yang ada di depan mata. Terdengar sangat kejam. Saat bayangan kepergian menyinari seperti matahari, tapi Haruka seolah telah melupakannya. Menyakitkan, bagaimana dengan perasaan seseorang yang telah putus asa? Namun, saat Haruka mengatakannya, Sakura justeru tersenyum. Entah ia juga berusaha lari dari bayangan itu, atau memang harapan untuknya hidup lebih lama semakin ada. "Aku sangat ingin melakukannya." Wajah Sakura menoleh, beralih pandangan dari atas ke pria di samping. Setelahnya berkata, "Kalau hal itu bisa terjadi, kamu mau melakukannya lagi, Haruka?" Bulir air terlihat mengalir dari sudut mata yang menyipit. Ia tersenyum, tapi terlihat menyedihkan. Wajah yang terangkat ke atas, ternyata bukan serta-merta menikmati langit yang luas. Saat melakukannya, sesekali Sakura mengigit bibir bawah. Rupanya gadis itu tidak menatap susunan awan yang kelam, tetapi itu adalah cara untuknya menahan air mata agar tidak jatuh dengan cepat. Meski akhirnya semua sia-sia. Air mata tidak menurut, ia tetap luruh bahkan setelah sekian banyak senyum yang Sakura paksa. Untuk sekarang, berharap waktu berjalan sedikit lambat. * Sementara di sisi yang lain, beberapa waktu semenjak pertemuan di taman, Nami dan Takei semakin sering berbalas kabar. Tentu sangat membahagiakan, terlihat dari gadis yang kerap tersenyum riang saat memberi pesan. Lalu di pertengahan musim dingin, Takei mengirimkan pesan bak api yang menghangatkan tungku saat suhu turun dengan drastis. Pria itu mengajak Nami bertemu, di sebuah cafe yang berada cukup jauh dari sekolah. Anehnya, cafe yang Takei sebutkan adalah tempat nongkrong dengan nuansa musim semi yang ditawarkan. Bahkan ada gambar kelopak sakura di setiap sudut meja. "Tapi kenapa kamu memilih tempat ini?" tanya Nami. Semenjak keduanya dekat, ia bisa berbicara sedikit santai. "Tidak ada alasan khusus," ujar Takei, "apa kamu tidak menyukainya?" lanjut pria itu. Tentu dengan cepat Nami menggeleng. "Bukan begitu. Aku tidak masalah di manapun kita bertemu. Hanya saja, aku sedikit penasaran kenapa kamu memilih cafe musim semi saat musim dingin," jelas gadis itu. Takei mengerti, wajar bagi gadis di depannya berpikir demikian. Namun memang tidak ada alasan khusus untuknya dalam memilih cafe tempat mereka bertemu. Meski dengan nuansa musim semi, keduanya bisa memesan makanan khas musim dingin. Itulah yang mereka lakukan. Hingga di tengah keheningan menyantap masakan, Takei tiba-tiba mengawali obrolan. "Temanmu, apa mereka berdua berkencan?" tanya pria itu. Nami yang tengah menyeruput sup dari mangkuk menoleh. "Maksudmu, Sakura dan Haruka?" Ia segera tahu, sebab tidak ada temannya yang pernah bertemu dengan Takei selain dua itu. Takei mengangguk ragu. "Apakah mereka menjalin suatu hubungan istimewa?" tanya pria itu lagi. Entah apa maksudnya bertanya hal itu tiba-tiba, tetapi Nami dengan cepat menggeleng. "Kurasa mereka hanya teman," ucapnya. Tak lama melanjutkan, "Kenapa memangnya?" Ia sedikit curiga. "Tidak. Aku hanya merasa mereka berdua sangat dekat," ujar Takei yang setelahnya meminum kopi sembari memejamkan mata. Tak ada jawaban apapun dari Nami. Mungkin Takei hanya melihat sekilas tentang Sakura dan Haruka. Sebab baginya, keduanya tidak cukup dekat. Hanya sesekali Sakura terlihat bahagia saat mengganggu Haruka. Setelah percakapan singkat itu, Nami dan Takei kembali fokus dengan hidangan masing-masing. Namun, ada sedikit hal yang ingin gadis di sana pastikan. Sebenarnya ia sedikit ragu jika pertanyaan Takei hanya sekadar basa-basi penasaran. Bukankah pria itu terlihat cukup tidak tertarik membahas hal yang menurutnya tidak menarik. Akan tetapi daripada hal itu, ada sebuah kepercayaan diri yang seketika muncul dalam diri Nami. Ia berpikir jika pria di depannya mencoba memberi kode atau semacamnya dalam sebuah hubungan? "Ah, pasti sangat menyenangkan jika keduanya benar berkencan," ungkap Nami tiba-tiba. Takei segera menoleh, tatapan matanya seolah mempertanyakan maksud dari yang Nami katakan. Namun dengan segera gadis itu melanjutkan, "Maksudku, sepertinya menyenangkan memiliki seorang kekasih, benar, kan?" tanyanya, sedikit berharap jika pria di depannya mengindahkan. Seperti harapan jadi kenyataan, Takei mengangguk. "Kau benar." Tetapi setelahnya kembali menyambung kalimat, "Aku juga berharap suatu saat nanti kami akan bisa menjalin hubungan seperti itu." Seketika setelah kalimat Takei selesai, seperti ada pisau yang menguliti hati Nami. Sakit, perih, padahal ia sendiri belum yakin dengan siapa yang pria itu maksud. Namun, bukankah sudah jelas jika gadis itu bukan dirinya? Lantas kenapa Takei ingin bertemu dengannya lebih sering dari sebelumnya? Mungkin, pria itu hanya tidak tahu bagaimana cara mengawali sebuah hubungan. Nami menarik napas dalam, lalu tersenyum dan mengangguk tanpa sepatah kata yang terlontar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN