Seharusnya hari ini merupakan salah satu sesi belajar Tasya bersama Adam, suami Reyna mengenai bisnis. Namun karena Adam sedang ada rapat dadakan di kantornya, dan rapat tersebut sangat penting sehingga siang ini Tasya memilih mengisi waktu istirahat dengan mengunjungi Kasya.
Beberapa hari ini Kasya terlihat sulit ditemui, selalu saja sibuk dengan pekerjaan hingga beberapa waktu lalu, Tasya harus rela menerima pengusiran dari ruangan Kasya.
"Lo bawa cupcake lagi?" Reyna memperhatikan gerak-gerik Tasya yang sedang bersiap-siap di ruangannya dengan senyum manis.
Tasya menggeleng sekilas, "Gue bawa kue baru buatan gue, gue harap sih si Kasya suka."
"Kue baru?"
Tasya melirik sekilas Reyna lalu mengangguk, "Iya, rencananya kalau berhasil mau gue jadiin menu baru di sini."
"Memangnya kue apa?"
"Apa yah... Namanya gue buat winter cake aja kali ya?"
"Hah?! Winter apa?"
"Winter cake," Ulang Tasya.
"Lo dapat wangsit dari mana bisa buat kue itu?"
"Yah gue habis bereksperimen di rumah, lalu terbuatlah kue ini, gue coba sih lumayan enak kok."
"Inspirasi lo dari mana?"
"Kasya," Jawab Tasya singkat.
Reyna menatap Tasya dengan tatapan bingung, "Kasya?"
Tasya mengangguk sekilas.
"Bentar-bentar, kenapa lo bisa dapat inspirasinya dari Kasya?"
"Soalnya menurut gue Kasya tuh kayak musim dingin, meskipun dingin tapi banyak yang suka."
"Hah?!" Reyna mengangkat sebelah alisnya, "Gue masih ngga paham."
"Gini lho Reyna cantik, Kasya itu kan dingin orangnya tapi punya daya tarik sendiri kayak musim dingin meskipun dingin tapi ngga sedikit kok orang yang menyukainya, termasuk gue."
"Lalu korelasinya dengan kue yang lo buat?"
"Yah ini kue tuh kalo dimakan ada sensasi dinginnya tapi juga ada manisnya gitu."
"Sumpah ya, lo makin lama makin ngga jelas karena bucin."
Tasya berdesis sebal, "Ya udah intinya gue dapet inspirasi kue ini tuh dari Kasya, itu aja yang harus lo tau!"
"Ya ya ya... Oke oke, jadi sekarang lo mau ke sana ketemu dia? Ngga takut diusir lagi?"
"Nah!" Tasya menjentikan jarinya di depan wajah sekilas, "Fungsinya gue bawa kue ini agar hati dan kepala Kasya tuh adem dari panasnya masalah dan pekerjaan!"
"Ya udah sana lo, sebelum gue makin pusing sama kelakuan aneh lo."
"Iya," Tasya memakai tasnya dan mengambil kunci mobilnya, "Titip toko ya Rey!" Kemudian berjalan pergi.
"Iya!"
***
Sepanjang perjalanan, Tasya terus bersenandung mengikuti irama musik yang dipasangnya di dalam mobil.
Sesekali Tasya melirik pada kotak kue yang ia letakkan di jok mobil di sampingnya. Senyum manis beberapa kali terukir setiap dirinya menatap kotak tersebut. Hatinya berharap dapat melihat Kasya menjadi orang pertama yang menikmati kue buatannya.
"Semoga aja hari ini engga diusir lagi," Harap Tasya lalu tertawa sekilas.
Memasuki kawasan rumah sakit, Tasya langsung memarkirkan mobilnya di pelataran parkir.
Sebelum turun, Tasya lebih dulu memastikan keberadaan Angga dan Dilon untuk berjaga jika saja dirinya tidak dapat lama bertemu Kasya, entah karena pria itu sibuk atau kembali mengusirnya, setidaknya Tasya masih memiliki teman makan untuk siang ini.
Begitu menerima kabar dari Angga bahwa dirinya sedikit terlambat dari mulainya jam makan siang, Tasya segera turun dari mobil dengan beberapa bawaannya, termasuk kue spesial untuk Kasya.
Menyusuri lorong rumah sakit, langkah Tasya terhenti tak jauh dari ruangan Kasya. Tasya segera bersembunyi karena Kasya sedang berada di depan ruangannya namun tidak sendirian, ada seorang gadis sedang bersamanya.
Tasya berusaha mencuri dengar pembicaraan mereka yang terlihat serius.
Beruntung keadaan tidak terlalu ramai sehingga sedikit-sedikit dapat terdengar olehnya.
"Kenapa sih Ka? Kenapa kamu ngga pernah mau ketemu sama aku?" Tanya gadis itu dengan nada kesal.
"Gue sibuk." Sahut Kasya dengan nada dingin.
"Tapi ini udah jam istirahat, sebentar aja temenin aku makan Ka."
"Diva," Kasya terlihat menatap kesal gadis itu, "Lo masih bisa gue ajak bicara dengan bahasa Indonesia kan? Gue bilang gue lagi sibuk, lo ngga dengar?!"
"Iya aku--"
"Sya?"
Tasya memberanikan diri keluar dari persembunyiannya. Ia merasa bahwa saat ini Kasya membutuhkan sedikit bantuan.
Kasya dan gadis bernama Diva itu menoleh bersamaan ke arah Tasya. Dilihat demikian, membuat Tasya tersenyum kaku sambil berjalan mendekat.
"Lo lagi ada tamu?"
"Ada apa?" Tanya Kasya tanpa menjawab Tasya.
Tasya mengangkat plastik bawaannya di depan dadanya lalu kembali memasang senyuman, "Mau antar pesanan lo tadi pagi. Sekalian ada urusan pekerjaan yang mau gue bahas." Bohong Tasya.
Awalnya Kasya tidak paham maksud Tasya namun tidak lama Kasya mengerti akan arti ucapan Tasya.
"Sekarang lo pulang sana Va," Usir Kasya pada Diva, "Gue masih sibuk."
Tasya cukup terkejut saat tiba-tiba Kasya menggenggam pergelangan tangannya lalu membawanya masuk ke dalam ruangan.
Meski hanya sebentar karena setelah pintu ruangan tertutup, Kasya melepas pegangannya, namun hal tersebut berhasil membuat jantung Tasya berdisko gembira. Sedikit sentuhan Kasya memang berefek cukup besar pada Tasya.
"Setelah perempuan tadi pergi, lo boleh pergi juga." Ucap Kasya dingin sambil duduk di kursinya.
Tasya masih berdiri di dekat pintu sambil memanyunkan bibir mendengar Kasya kembali mengusirnya.
"Jadi gitu cara lo berterima kasih pada orang yang udah bantuin lo?" Tasya bersidekap, "Lo tau ngga kalau bohong itu dosa?! Gue udah rela berdosa banget demi lo tapi malah diusir?!"
"Jadi mau lo apa?" Kasya lebih memilih menatap laptopnya dari pada menatap Tasya, "Gue harus bilang terima kasih?"
Tasya berjalan mendekat, duduk di hadapan Kasya, membuat Kasya menatapnya sekilas, "Apa?" Tanya Kasya dengan nada dingin.
Tasya meletakkan kotak kuenya di atas meja yang berada diantara dirinya dan Kasya, "Lo harus mau jadi tester pertama gue."
"Gue ngga berminat."
"Harus mau dong! Kan gue udah bantu lo lolos dari cewek tadi."
"Gue ngga minta."
"Tapi lo butuh kan?" Tasya tersenyum membuat Kasya semakin menatapnya kesal.
"Lo taruh aja disitu," Kasya memilih untuk mengalah, "Nanti gue makan setelah makan siang."
"Dikit aja dulu," Tasya menangkup kedua tangannya di depan wajah, "Pliiisss dokter Arka yang tampan dan rupawan."
Kasya menghela nafas sekilas, "Iya iya!"
Senyum senang Tasya kembali terbit, segera dibukanya kotak kue tersebut dan mengambil piring kecil serta pisau yang ternyata sudah dibawanya. Kue bulat berukuran sedang dengan krim biru langit dan taburan keju diatasnya.
"Seharusnya sih topingnya tuh gula halus, tapi karena lo ngga suka terlalu manis jadi gue ganti keju," Terang Tasya sambil memotong sedikit kue tersebut.
Tasya menggeser potongan kue yang sudah berada dipiring ke arah Kasya lalu memberikan sendok kecil dipiring tersebut.
Perhatian Kasya segera teralih dari laptopnya. Perlahan Kasya menyendokan sedikit potongan kue tersebut ke dalam mulutnya. Ada rasa manis yang tidak terlalu mencolok bercampur sensasi dingin ketika kue tersebut hancur di dalam mulut Kasya.
"Gimana?" Tasya menatap dengan tatapan menunggu dan senyuman.
Kasya berdeham sedikit setelah kue di dalam mulutnya ditelan, "Lumayan."
"Lumayan?"
"Ya."
Tasya menatap kue dihadapannya, "Cuma lumayan ya?"
Kasya menangkap tatapan sedikit kecewa dari gadis itu, membuatnya kembali berdeham, "Udah cukup enak." Ralat Kasya membuat Tasya kembali menatapnya.
"Rating dari satu sampai sepuluh?"
Kasya kembali memegang laptopnya, "Delapan," Jawabnya tanpa menatap Tasya membuat Tasya tersenyum sumringah.
"Aaahhh... Syukurlah!" Tasya terlihat lega akan jawaban Kasya. "Gue sih rencananya mau pajang ini di toko, tapi yang versi manis. Kalau yang ini gue buat spesial buat lo," Tasya kembali membungkus kue yang tersisa, "Nanti dimakan lagi ya Sya, boleh kalau mau di rumah aja makannya."
"Hm."
"Kalau gitu sekarang gue mau ajak lo ke kantin."
"Gue masih sibuk."
"Bentar aja dong, makan siang dulu Sya."
"Gue bisa makan sendiri nanti."
Tasya bersidekap, "Gue heran deh sama lo, lo dokter, kerjanya memikirkan kesehatan orang lain tapi kesehatan lo sendiri engga dipikirin."
Kasya tidak merespon.
"Ayo dong Sya, makan bareng temen tuh lebih enak tau dari pada makan sendirian."
"Sya... Sya...."
Kasya menutup laptopnya, "Lo suka maksa ya?"
"Yah kan gue maksanya buat kebaikan lo juga."
"Gue ngga butuh."
"Tapi gue mau!" Tasya berdecak sekilas, "Lo ngga akan makan berdua doang kok sama gue, ada Angga dan Dilon juga."
Tanpa menjawab, Kasya berdiri dari kursinya dan berjalan mendahului Tasya keluar dari ruangan. Tanpa diperintah, Tasya pun mengekori Kasya.
"Sya," Panggil Tasya setelah berhasil mensejajari langkahnya dengan Kasya.
"Hm." Jawab Kasya tanpa menoleh.
"Kapan ya gue bisa jalan disamping lo kayak gini?"
"Memangnya sekarang lo lagi apa? Ngesot?"
Tasya tertawa kecil, "Maksud gue, kapan ya lo bisa sediakan tempat buat gue di samping lo? Selama ini gue merasa selalu berjalan di belakang lo, yang gue lihat hanya punggung lo, gue mau bisa lihat lo dari dekat kayak gini."
Kasya melirik sekilas Tasya, "Kalau ngomong ngga usah yang aneh."
"Gue kan serius Sya, memangnya lo ngga bisa punya perasaan ya ke gue?"
"Ngga."
Tasya tersenyum masam, "Padahal gue udah lama lho nungguin lo Sya."
"Gue ngga peduli."
"Tapi gue ngga akan menyerah kok agar lo mau terima gue."
"Terserah."
Tasya memanyunkan bibirnya, "Ketusnya."
Kasya kembali tidak merespon ucapan Tasya.
"Sya, gue serius akan usaha gue buat lo bisa buka hati buat gue sampai sebelum hari ulang tahun kita nanti. Tapi kalau lo nantinya memilih yang lain atau usaha gue gagal, gue janji akan mundur, tapi..." Tasya menatap Kasya yang masih belum mau menatapnya sambil terus berjalan ke arah kantin rumah sakit, "Sampai hari itu tiba, jangan usir gue dulu ya Sya, biarin gue tetep sering menghampiri lo, gue pasti akan pergi sendiri kok nantinya kalau gue gagal meraih lo."
Kasya hanya diam. Tasya tersenyum tipis, menatap ke depan dan ikut terdiam hingga keduanya tiba di kantin. Sudah ada Angga dan Dilon di sana menunggu mereka.
Senyum Tasya kembali muncul saat bertemu Angga dan Dilon. Kasya duduk di salah satu kursi sambil sesekali menatap sekilas Tasya yang sudah kembali bersuara, mengobrol bersama Angga. Diam-diam dirinya terus teringat akan ucapan Tasya tadi, entah kenapa, ada sedikit rasa tidak suka akan janji yang diucapkan Tasya padanya. Namun saat ini, Kasya memilih untuk mengalihkan sejenak pikirannya. Merasa masih banyak hal yang lebih harus ia pikirkan.
"Kenapa?"
Pertanyaan dadakan Dilon membuat Kasya menatap sahabatnya itu.
"Apa?"
"Lo dari tadi melirik Tasya terus," Dilon menatap sekilas Tasya yang masih asik berbicara dengan Angga, "Lo juga mau ngobrol gitu sama Tasya?" Dilon kembali menatap Kasya.
"Ngga berminat."
"Tapi mata lo bilang hal lain."
Kasya menatap datar Dilon, "Lo jangan jadi sok tau kayak Angga."
Dilon mengangkat sekilas bahunya.
"Jadi lo ngga bawa kue buat gue?!" Suara Angga yang tiba-tiba cukup keras membuat Dilon dan Kasya menatapnya bersamaan.
"Harus ya lo nanya pake gas gitu?" Tasya menatap sinis Angga yang duduk di hadapannya.
"Karena gue ngga terima! Tadi lo bilang habis bawain Kasya kue, berarti lo ngga bawain gue kan?!"
Tasya berdesis sebal, "Ngga! Gue cuma bawa buat Dilon!"
"Kok lo gitu?!"
"Karena gue ngga gini!"
"Kalian kayak anak kecil lagi rebutan mainan," Dilon menengahi.
Tasya bersidekap, "Atasan lo nih Lon," Tasya mengambil sebuah bungkusan plastik dari tasnya. Tas yang Tasya bawa memang cukup besar karena bawaannya yang cukup banyak.
"Tadinya gue mau kasih lo tapi karena lo udah nuduh gue, jadi..." Tasya menggeser bungkusan tersebut pada Dilon, "Buat Dilon aja."
Angga mendelik menatap plastik yang sudah berpindah dari hadapan Tasya ke hadapan Dilon.
"Lho kok?!"
Tasya akan kembali menjawab namun deringan ponselnya mengalihkan. Tasya berdiri dari kursinya dan sedikit menjauh untuk menjawab panggilan di ponselnya.
Usai menerima telepon, Tasya kembali mengambil tasnya, "Maaf ya, gue harus pergi, ada urusan mendadak di toko... Pamit ya semua!"
"Woy Sya! Kue gue--" Tasya sudah menjauh saat Angga meneriakinya. Angga hanya bisa berdesis kesal lalu menatap Dilon.
"Iya tenang aja, ini pasti buat lo juga," Ucap Dilon dengan nada menghibur. Senyum Angga kembali terbit mendengarnya.
***