10 - Berjuang Aja Dulu

1333 Kata
Hari ini toko tutup sedikit lebih cepat, dan Reyna mampir ke rumah Tasya karena sang suami terlambat menjemput dengan alasan masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Tasya langsung mengajak Reyna ke dapur begitu tiba di rumah untuk memasak makan malam mereka. "Jadi lo beneran bilang gitu ke Kasya?" Tanya Reyna ditengah acara memasak mereka, Tasya baru saja menceritakan pembicaraannya dengan Kasya tempo hari mengenai janjinya pada pria itu. Tasya mengangguk sekilas tanpa menoleh karena sedang sibuk mengiris dan memotong beberapa bumbu masakan. "Yah semoga aja berhasil ya." "Ulang tahun kalian masih beberapa bulan lagi sih, tapi selama berapa tahun aja lo ngga bisa dapat hati Kasya, gimana sekarang yang hanya hitungan bulan?" Tasya menjeda sesaat gerakan tangannya yang memegang pisau, menatap Reyna yang tengah mencuci beberapa bahan masakan, "Beberapa tahun kemarin gue hanya menunggu Rey, bahkan gue sempat pergi sejak lulus SMA. Gue ngga bisa bilang kalau saat-saat itu sedang berjuang. Baru saat ini gue berjuang Rey." "Dan lo rela kalau nanti lo harus menjauh dari Kasya?" Tasya menghela nafas, "Engga sih Rey, tapi ngga tau kenapa gue bisa ngomong gitu dan ngga merasa menyesal." Reyna menoleh pada Tasya, "Kok bisa?" "Entahlah," Tasya melanjutkan kegiatan memotongnya, "Walaupun gue belum yakin apakah bisa meraih hati Kasya tapi gue hanya mau dia tau kalau gue serius sama perasaan gue. Kalaupun memang gagal, gue akan belajar berbesar hati melihat Kasya bahagia bukan dengan gue Rey." "Seperti yang gue bilang Sya, kalau bukan Kasya, lo pasti akan dapat yang lebih baik yang lainnya. Sekarang mungkin lo akan berpikir bahwa lo ngga bisa kalau bukan Kasya, tapi percaya sama gue, nanti pikiran lo akan berubah setelah lo sudah benar-benar bisa melepas Kasya." Tasya tersenyum, "Makasih ya Rey." "Ngomong-ngomong, gimana dengan dokter Alex?" "Hah?!" Tasya menatap sekilas Reyna dengan tatapan heran, "Lo ngga berencana deketin dia kan Rey? Sadar woy udah punya suami!" "Bukan gue woy! Yah gue masih cinta lah sama suami gue! Maksud gue buat lo Sya." "Kenapa harus gue?" "Karena sekarang lo yang jauh lebih butuh." "Kan gue belum selesai berjuang buat Kasya." "Yah jadi sambilan lah, setidaknya kalau ngga dapet Kasya masih ada dokter lain yang ngga kalah ganteng." "Mana ada kayak gitu!" Tasya memanyunkan bibirnya. "Ada dong, selama saran itu dari gue, pasti ada!" "Ngga, gue mau fokus dulu sama Kasya, kalau soal buka hati untuk yang lain, gue belum kepikiran. Lain hal kalau nanti gue harus menyerah soal Kasya." "Yah terserah lo deh," Reyna menyerahkan bahan masakan yang tadi dicucinya pada Tasya, "Karena lo yang tau apa yang paling baik buat lo." "Iya, makanya lo jangan jodoh-jodohin gue dulu sama yang lain!" Reyna mengangkat sekilas bahunya, "Kalau gue liat si dokter Alex ternyata memang lebih baik ya gue lebih dukung lah!" Tasya berdesis sebal. *** Kesibukan Tasya di toko bukan hanya mengawasi proses pembuatan setiap kue dan roti melainkan membantu menangani setiap bahan-bahan yang masuk ke tokonya. Seminggu sekali, Tasya akan datang lebih cepat dari biasanya untuk menyambut kiriman bahan masakannya. Sebenarnya sudah ada pegawai yang memegang bagian ini, namun Tasya seringkali baru merasa puas jika sudah melihat langsung semua barangnya. "Antarkan ke dapur beberapa, sisanya seperti biasa amankan di ruang penyimpanan," Ucap Tasya pada salah seorang pegawainya. "Baik bu," Pegawainya tersebut langsung melakukan apa yang diminta bosnya. Jika Tasya sedang tidak sempat memantau, Reyna juga bisa turun langsung menggantikan. Posisi Reyna memang seperti asisten pribadi Tasya selama di toko. Setelah memantau penerimaan barang, Tasya akan berpindah ke dapur, mengawasi sejenak proses masak. "Bu, cake yang kemarin jadi ditambah hari ini?" Tanya salah satu pegawai Tasya. Tasya mengangguk, "Jadi, buat yang topingnya gula halus aja." "Baik Bu." "Sya," Panggil Reyna yang baru saja masuk ke dapur. "Ya?" "Tadi ada yang lapor kalau stok telur baru sampai, mau lo atau gue aja yang terima?" "Boleh kalau lo lagi senggang Rey, gue mau pantau menu baru dulu ini yang kemarin gue bilang." Reyna mengangguk sekilas, "Oke, gue ke sana dulu." "Sip." Tasya kembali bekerja setelah Reyna meninggalkan dapur. Hampir setiap hari Tasya akan memantau langsung semua proses kerja, ia mau semua kualitasnya seperti yang ia inginkan. Beruntung dirinya mendapatkan karyawan-karyawan yang bisa menerima setiap masukkan darinya, meski terkadang Tasya sedikit cerewet mengenai produksi dan hal lainnya namun semua seolah memahami maksud baik Tasya. Di mata para karyawannya, Tasya tetap merupakan sosok pimpinan yang baik. Setelah cukup banyak kue dan roti yang sudah siap dijual, tokopun dibuka. Tasya tetap mengawasi proses penataan serta kebersihan, agar setiap pelanggan yang datang merasa nyaman di tokonya. Tasya tersenyum puas melihat menu barunya yang terpajang, cake yang beberapa waktu lalu ia buatkan untuk Kasya, hanya berbeda di bagian toping. Tasya tidak mau membuat toping yang sama karena yang sebelumnya merupakan spesial untuk Kasya. "Baru buka?" Tasya menoleh ke arah pintu masuk toko, "Eh Dilon, ngga ke kantor?" "Ini sekalian lewat kok. Ada yang mau gue pesen, mungkin sore baru gue ambil." "Pesan apa?" "Kue untuk Mama gue." "Mau yang bagaimana nih? Custom atau pilih yang ada?" "Mau custom aja untuk ulang tahun." Tasya tersenyum, "So sweetnya, tinggal bilang aja Lon mau yang gimana kuenya." "Lo yang handle pesenan gue? Atau ke karyawan lo?" "Buat lo, gue yang buatin deh." Dilon tersenyum kecil, "Merasa tersanjung gue." Tasya terkekeh pelan, "Buat temen, apa sih yang engga?" Dilon kembali tersenyum lalu menyebutkan pesanannya setelah dipersilahkan oleh Tasya. "Oke," Tasya selesai mencatat pesanan Dilon, "Jadi mau diambil sore nanti?" "Iya," Jawab Dilon, "Nanti lo mampir ke rumah sakit?" Tasya mengangkat sekilas bahunya, "Mungkin." "Kenapa?" "Kalau memang lagi senggang, gue pasti ke sana, lagian gue ngga mau Kasya kesel lihat gue terus, jadi ya gue lagi coba engga tiap hari mampir. Lagipula kadang ada aja kerjaan yang buat gue ngga bisa ke sana." "Lo serius mau kejar Kasya?" Tasya menatap heran Dilon. Seingatnya, dirinya tidak pernah bercerita apapun mengenai perjuangannya belakangan ini untuk Kasya pada Dilon. "Lo sering ke rumah sakit, bawain dia makanan, buat dia mau ke kantin, lo sedang mau deketin dia lagi kan?" Tanya Dilon seolah menjawab pertanyaan dipikiran Tasya. Tasya tersenyum kecil, "Ya, bisa dibilang begitu sih, tapi kayaknya engga semudah yang gue pikirin. Udah berapa tahun lewat, sikap dia masih sama ke gue." "Mungkin lo harus berjuang lebih keras, dia hanya butuh momen di mana kepekaannya harus dipancing." "Hah?" Tasya terlihat tidak paham akan ucapan Dilon. Dilon tersenyum, menepuk sekilas puncak kepala Tasya membuat Tasya sedikit terkejut. "Udah ngga perlu dipikirin sekarang, berjuang aja dulu, kalau ngga kuat jangan dipaksa." Tanpa sadar, Tasya mengangguk samar. Dilon segera pamit dan pergi dari toko Tasya karena harus segera ke kantor. "Uhukk..." Tanpa sadar Tasya sempat melamun, dan Reyna membuatnya sedikit tersentak. "Gebetan baru lagi nih? Lucu amat sih pake usap-usap kepala..." Reyna sedikit menyenggol lengan Tasya. Tasya menatap datar sepupunya ini, "Itu tadi Dilon, sahabatnya Kasya dari SMA. Gue sama dia saling kenal karena dulu sering ketemu sebelum gue kuliah ke luar." "Oh sahabat toh... Tapi ngga ada larangan sih Sya kalau sahabatnya gebetan jadi sahabat hidup kita, kan jodoh ngga ada yang tau. Siapa tau lo berjuang buat Kasya malah dapat sahabatnya kan?" "Engga usah mulai deh Rey," Tasya memasang tatapan sinis, "Ngga bisa kayaknya lo nih liat gue kenal cowok yang baru lo lihat." "Selagi status lo masih single available, siapapun yang menurut gue cocok pasti gue dukung. Ngomong-ngomong kerjaan dia apa? Pakaiannya rapi amat." "Kasya punya dua sahabat, yang satu si direktur utamanya, dan Dilon tadi jadi rekan kerjanya sebagai sekretaris lah istilahnya." Reyna mengangguk paham, "Ngga buruk kok, tampang cakep, kerja kantoran, orangnya kelihatan baik, kalau ngga baik ngga mungkin si Kasya betah sahabatan sama dia, jadi pas lah. Tapi, kalau lo tetep mau punya doi dokter, dokter Alex tetep jadi kandidat menurut gue." Tasya menghela nafas sekilas, "Udahlah, kalau udah bahas kayak begini sama lo ngga akan pernah kelar, ada aja jalurnya." Tasya berbalik badan dan berjalan ke ruangannya karena semua yang harus ia pantau sudah beres, tinggal menyelesaikan pesanan Dilon yang akan diambil sore nanti. Reyna berdecak sebal menatap kepergian Tasya kemudian menyusulnya ikut masuk ke dalam ruang kerja. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN