12 - Ceroboh

1273 Kata
Setelah seharian bekerja, Angga mengajak Dilon dan Kasya bertemu di salah satu restauran untuk makan malam bersama. Sekedar quality time untuk persahabatan mereka. "Malam ini gue yang traktir," Ujar Angga, "Pesan aja semau kalian." "Apa aja?" Tanya Dilon. "Apa aja!" "Oke." Dilon segera memanggil pelayan dan menerima buku menu yang diberikan. Seolah memanfaatkan keadaan, Dilon memesan makanan termahal di restauran itu. Setelah semua pesanan disebutkan, pelayan tersebut kembali ke tempatnya. "Bagus banget lo ya pesannya," Angga menatap datar Dilon. "Kan lo bilang apa aja." "Iya iya." "Oh iya Sya," Dilon menatap Kasya, yang dipanggil pun menatap balik. "Apa?" "Lo mending jauh-jauh deh dari Diva." "Memang selama ini gue gimana sama dia?" Dilon mengangguk sekilas, "Jangan sampai lo suka sama dia." Kasya menatap datar Dilon. "Memangnya kenapa?" Tanya Angga, "Kok lo tiba-tiba bahas dia? Kenapa lo mendadak suruh Kasya jauhin dia?" "Kemarin gue ketemu Diva di tokonya Tasya." "Hah?" Angga sedikit terkejut, "Kok Diva bisa tau Tasya?" "Gue lupa tanya sama Tasya." "Mereka pernah ketemu," Sahut Kasya membuat Dilon dan Angga menatapnya. "Kapan?" Tanya Angga. "Beberapa hari lalu di rumah sakit." "Kok mereka bisa ketemu?" "Diva ke rumah sakit ketemu gue tapi gue ngga mau, tiba-tiba Tasya datang--" "Dan Tasya bantu lo menjauh dari Diva?" Terka Dilon. Kasya mengangguk sekilas. "Lalu gimana Diva bisa tau kalau itu Tas-- astaga!" Angga menepuk keningnya sendiri. Dilon memicingkan matanya menatap Angga, tangan Dilon terulur meremas bahu Angga yang duduk di sampingnya, "Jangan bilang lo melakukan hal yang gue pikirin?" Angga menatap ngeri Dilon, memasang wajah merasa bersalah, "Sorry Lon, sumpah gue ngga sengaja! Gue baru bangun tidur dan ngga fokus!" "Apa?" Dilon menatap Kasya, "Dia yang buat Diva tau siapa Tasya." "Tapi gue ngga ada kasih tau dia kalau Tasya buka toko kue dan roti!" "Lo ini asisten pribadinya Diva?!" "Engga gitu Lon, waktu itu pagi-pagi banget Diva telpon gue, dia tanya siapa cewek yang suka ketemu Kasya di rumah sakit! Gue yang ngga fokus langsung bilang itu Tasya karena memang dipikiran gue cuma nama Tasya yang muncul!" Dilon melepas cengkramannya, "Gara-gara kebodohan lo sekarang Diva jadi tau di mana tokonya Tasya! Jaman sekarang ngga sulit mengetahui seseorang hanya dengan modal nama! Apalagi Diva bisa dengan mudah memakai segala cara mencari Tasya!" Dilon terlihat kesal, Angga tau itu setelah mendengar pengakuan Dilon beberapa waktu lalu mengenai Tasya. "Iya gue minta maaf Lon, Diva udah lakuin apa ke Tasya?" "Dia labrak Tasya." Angga cukup terkejut, "Diva? Labrak?" "Iya, kenapa? Lo ngga percaya?" "Lo liat dia labrak Tasya?" "Gue ngga perlu liat, Tasya sendiri yang bilang dan gue tau dia lagi ngga bohong." Angga menatap Kasya yang sejak tadi diam menyimak, "Gue ngga nyangka fans lo yang keliatannya manis ternyata punya sisi barbar Sya." "Gue udah tau." Angga mendelik, "Dari mana?" "Lo ngga perlu tau, karena itu salah satu alasan gue ngga suka ketemu dia." "Kenapa lo ngga cerita?" Tanya Dilon. "Karena buat gue itu ngga penting." Obrolan mereka terjeda sejenak karena pesanan makan malam yang datang. "Gue ngga yakin kalau Diva akan berhenti, dia sampai mengaku sebagai calon istri Kasya ke Tasya." Ucap Dilon setelah pelayan yang mengantar pesanan mereka pergi. Angga kembali mendelik, "Segitunya dia terobsesi sama Kasya? Tapi si Tasya ngga percaya kan?" "Mana mungkin dia percaya kalau Diva aja panggil Kasya dengan nama Arka." "Oke Sya," Angga menatap Kasya, "Mulai sekarang lo jangan mau ketemu Diva lagi! Jangan mau!" "Memangnya sejak kapan gue mau ketemu dia?" Nada bicara Kasya terdengar datar. "Oke oke," Angga mengangguk, "Tapi gue ngga yakin kalau Diva ngga akan ganggu Tasya lagi karena dia pasti masih mau mengejar Kasya, apa perlu gue sewa penjaga buat Tasya? Hitung-hitung sebagai permintaan maaf gue ke dia." "Ngga perlu," Jawab Dilon lalu menatap Kasya, "Gue yang akan jaga dia." Kasya hanya diam membalas tatapan Dilon. Angga kembali menepuk keningnya melihat Dilon seperti sedang mengibarkan bendera perang pada Kasya. "Oke guys," Angga menengahi suasana, "Kalau gitu kita makan malam dulu gimana? Sebelum makanannya jadi dingin. Makanan mahal lo nanti ngga enak Lon kalau dingin, sementara kita tutup dulu pembahasan soal Tasya dan Diva, malam ini waktu untuk kita bertiga." Dilon dan Kasya saling memutus tatapan, "Oke," Jawab Dilon, "Gue ngga mau makanan mahal gue sia-sia." Angga menatap datar Dilon, "Iya makanan mahal lo itu nanti ngga enak!" Suasana kembali tenang, ketiganya menikmati makanan mereka sambil membahas hal lain diluar topik mengenai Tasya. Saat Kasya dan kedua sahabatnya sedang makan malam diluar, Tasya mengunjungi rumah Reyna sepulang dari toko. Siang tadi seharusnya ia bertemu Adam namun karena Adam banyak pekerjaan dan kebetulan Tasya ada banyak pelanggan sehingga pertemuan ditunda menjadi malam hari. Saat ini keduanya sedang duduk berhadapan di ruang makan. Reyna juga ikut menyimak di samping Adam. "Kita ulang sebentar yang sebelumnya ya Mas, hanya untuk memastikan aja." Pinta Tasya. "Iya boleh," Adam mengangguk sekilas, "Supaya kamu lebih ingat apa yang sebelumnya kita bahas." "Kalau gitu aku siapkan makan malam dulu ya mas," Izin Reyna. Adam tersenyum, "Iya boleh." "Yang enak ya," Request Tasya dengan cengiran. "Tenang aja, kemampuan masak gue ngga kalah jago dari lo." Reyna mengerling sekilas. Tasya terkekeh, "Iya deh percaya gue mah." Reyna segera beranjak ke dapur meninggalkan Tasya dan Adam yang melanjutkan pembahasan mereka. Kurang lebih setengah jam, Reyna kembali ke ruang makan membuat kegiatan belajar Tasya terjeda sesaat. "Kalian mau makan malam atau beresin belajarnya dulu?" Tanya Reyna. Adam dan Tasya saling bertatapan sejenak lalu kembali menatap Reyna bersamaan, "Kami beresin bentar ya sayang," Jawab Adam, "Tinggal sedikit lagi kok ini, malam ini memang ngga bahas banyak." Tasya mengangguk membenarkan, "Gapapa kan Rey?" Reyna tersenyum, "Ya ngga masalah, dari pada kalian tanggung selesainya, kalau tadi masih lama sih mending makan malam dulu tapi karena kata mas Adam dikit lagi yah diselesaikan aja belajarnya baru makan." Adam menggeser kursi di sampingnya yang tadi di tempati Reyna, "Kamu duduk dulu aja di sini, nanti baru bawa makan malamnya kemari." Reyna menurut tanpa menjawab, duduk di samping Adam, suaminya. "Lihat kalian jadi mau menikah juga," Tasya menopang dagunya dengan kedua tangannya sambil menatap Reyna dan Adam. "Makanya buruan cari calon, gue udah kasih pilihan malah ditolak sih!" Sewot Reyna. Tasya memanyunkan bibirnya, "Kan gue masih berjuang Rey buat Kasya!" "Terlalu bucin sih lo." "Enak aja! Eh... Tapi iya sih." Reyna berdecak sebal, "Coba sih Mas bilangin ke adik iparnya itu, jangan bodoh-bodoh banget." "Enak aja!" Adam terkekeh, "Gak apa-apa sayang, itu kan udah pilihannya Tasya, Mas yakin Tasya sudah cukup dewasa untuk menentukan jalan hidupnya," Adam menatap Tasya, "Yang penting apapun hasilnya nanti kamu ngga akan menyesal Sya." Tasya tersenyum mengangguk, "Iya mas, aku udah pikirin sampai ke sana kok. Pastinya kalau ngga sesuai akan terasa sakit Mas, tapi setidaknya aku udah mulai mempersiapkan hati untuk semua kemungkinan yang terjadi." Adam ikut tersenyum lalu menatap Reyna, "Kamu udah dengar sendiri kan? Mas tau kamu khawatir sama Tasya tapi kamu harus percaya Tasya pasti bisa, kamu cukup ada di samping dia kalau hal yang terburuk terjadi dalam keputusannya." Reyna pun mengangguk, "Iya mas, aku pasti seperti itu kok." "Beres kan?" Adam menatap Tasya dan Reyna bergantian, "Kalau gitu kita selesaikan dulu pelajarannya setelah itu makan malam, Mas udah laper soalnya." Tasya dan Reyna terkekeh bersamaan. "Ayo Mas kita beresin dulu." Ajak Tasya. Pelajaran kembali dimulai karena memang tidak banyak lagi yang akan diajarkan Adam malam ini. Reyna masih duduk di samping Adam menyimak suaminya yang sedang mengajari sepupunya. Hanya beberapa menit hingga keduanya selesai. Setelah beres, Tasya mengikuti Reyna ke dapur untuk membawa semua masakan yang dibuat sepupunya itu ke ruang makan. Usai makan malam, Tasya berpamitan pulang sebelum malam semakin larut karena besok pagi mereka masih harus bekerja. Jadi lebih cepat istirahat, lebih baik. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN