13 - Terkejut

1575 Kata
Tasya merasa senang hari ini karena dirinya bisa berkunjung ke rumah sakit. Siang ini toko sedang tidak terlalu ramai, banyak pembeli namun tidak dalam satu waktu sekaligus datang sehingga masih dapat ditangani oleh para karyawannya. "Gue mau ke kantor suami gue Sya," Izin Reyna, "Gapapa kan? Jarang-jarang gue bisa makan siang bareng Mas Adam." Tasya mengangguk, "Gapapa kok, lagian toko lagi senggang, ada Ajeng yang bisa diminta tolong buat pantau," Jawabnya menyebut nama salah satu pegawai yang biasa ia percayakan untuk membantunya dan Reyna menangani toko. "Lo mau ke rumah sakit?" Reyna melihat Tasya juga sedang bersiap-siap. "Iya, mumpung lagi bisa nih." "Bawa kue lagi? Lo kenapa bawa kue terus? Ngga bosen mereka?" "Engga kok, malah kalau gue ngga bawa, tuh si Angga bawel banget mulutnya." Sungut Tasya, "Lagian kalau gue mau bawa makanan berat, di kantin udah banyak yang jual, kan ngga mungkin kami hanya numpang makan di sana." "Yah iya sih," Reyna mengangguk sekilas. "Nanti gue mau sih bawain masakan gue buat Kasya," Tasya tersenyum, "Kalau dia lagi sibuk di ruangannya." "Yah terserah lo deh, yang penting lo bahagia." "Yang penting bahagia tapi gue dijodohin mulu sama orang lain." Cibir Tasya. "Namanya juga usaha, lagian siapa tau aja mereka ternyata naksir sama lo kan? Secara lo cantik gini." "Halah," Tasya membereskan tasnya, "Gue berangkat dulu deh, lo mau gue anterin ngga ke kantor Mas Adam? Mumpung muternya juga ngga jauh dari sana ke rumah sakit." "Boleh deh," Reyna mengambil tasnya, "Gue juga lagi males naik taksi." "Tapi gue mau ngomong ke Ajeng dulu buat titip toko." "Oke." *** Setelah mengantar Reyna dengan selamat ke kantor suaminya, Tasya langsung menjalankan mobilnya ke rumah sakit. Namun di tengah jalan sesuatu terjadi, mobilnya mogok. "Lha?" Tasya menatap heran mobilnya yang mendadak menurun kecepatannya. Sebelum mesinnya benar-benar berhenti, Tasya segera menepikan mobilnya. "Yah... Kok mogok sih?" Tasya keluar dari mobilnya lalu membuka kap mesinnya. "Gue ngga paham soal mesin!" Keluh Tasya sambil mengacak rambutnya. Tasya kembali ke mobil untuk mengambil ponselnya lalu menelpon bengkel langganannya barulah dirinya berniat untuk memesan taksi online, namun baru saja akan memesan, bunyi klakson mengalihkan perhatian Tasya dari ponselnya. Sebuah mobil berhenti di depan mobilnya, pintu bagian supir terbuka dan turunlah sang pemilik mobil. "Lho Sya?" "Eh Alex? Dari mana?" "Tadi gue keluar sebentar beli makan siang, ini mau balik ke rumah sakit." "Ngga beli di kantin?" Alex tersenyum, "Gue jarang beli di kantin, lebih suka beli di tempat langganan," Alex menatap sekilas mobil Tasya, "Mobil lo kenapa?" Tasya ikut menatap sekilas mobilnya dan kembali menatap Alex, "Gue juga ngga paham, mendadak mogok, tapi udah hubungi bengkel langganan, mungkin bentar lagi datang buat ambil." "Ini lo mau ke mana memangnya?" "Mau ke rumah sakit." "Ketemu dokter Arka?" Tasya mengangguk, "Mumpung lagi bisa mampir ke sana." "Bareng aja kalau gitu." "Eh, ngga usah, gue mau nunggu dari bengkel dulu soalnya nanti lo kelamaan ke rumah sakitnya." "Ngga masalah, jam istirahat masih lama kok jadi santai aja dari pada lo nunggu di sini sendirian, gue ngga mungkin biarin seorang wanita yang gue kenal sendiri di pinggir jalan begini." Tasya terkekeh pelan, "So sweet banget, makasih lho... Ngga masalah sih kalau ngga keberatan." Keduanya mengobrol sebentar hingga petugas bengkel tiba membawa mobil milik Tasya, setelah itu Alex mengajaknya pergi bersama ke rumah sakit. Alex mengantar Tasya masuk ke kantin begitu sampai. "Lo ngga mau gabung?" Tanya Tasya beberapa langkah dari meja di mana Kasya, Dilon dan Angga berada. Ketiga pria itu sudah menyadari kehadiran Tasya dan Alex sejak mereka masuk ke dalam kantin. Alex menggeleng sekilas, "Gue mau langsung aja ke ruangan, makan di sana aja. Lain kali ya gabung sama kalian." Tasya tersenyum dan mengangguk, "Makasih ya udah antar ke sini." Alex mengerling sekilas, "Ngga masalah," Kemudian berpamitan meninggalkan kantin. Tasya bergabung bersama Kasya dan yang lain setelah Alex pergi. "Kok kalian bisa bareng?" Angga langsung bertanya saat Tasya baru saja menduduki kursi di samping Kasya yang kosong. "Mobil gue mogok tadi di jalan, pas banget Alex lewat, jadi diajak bareng deh." "Tapi ngobrolnya seru banget tadi," Angga memicingkan matanya, "Lo ada apa-apa ya sama tuh dokter? Dicuekin Kasya beralih ke dokter lain lo?" Tasya menatap sebal Angga, "Mulut lo ya minta gue giling!" "Lho ya siapa tau ternyata tuh orang ada rasa sama lo kan?" "Jangan jadi kayak sepupu gue deh! Ngga bisa banget liat gue kenal sama cowok." Tasya bersidekap. "Memangnya kenapa dengan sepupu lo?" Tanya Dilon yang sejak tadi menyimak dengan Kasya. "Yah itu liat gue sama dokter Alex langsung dijodohin, kemarin juga waktu lo datang, ngomongnya juga gitu, entah nanti siapa lagi yang dijodohin ke gue," Tasya menopang dagunya memasang wajah sebal. Ucapan Tasya barusan tanpa ia sadari membuat Dilon tersenyum kecil menatap Kasya yang juga menatapnya. Angga pun ikut menatap kedua sahabatnya ini bergantian lalu menghela nafas. "Lalu lo nanti pulang sama siapa ke toko?" Tanya Angga mengganti topik obrolan. "Bisa pesan taksi online kok." "Gue antar aja," Tawar Dilon. "Heh," Angga menatap sinis Dilon, "Lo harus ikut gue." Dilon menatap datar Angga, "Kan bisa sekalian." "Habis ini kita ada rapat di luar, beda arah sama tokonya Tasya!" "Udah dong malah pada ribut," Tasya menengahi, "Gue udah gede Lon, bisa pergi ke mana-mana sendirian, tenang aja." "Ngga masalah Sya," Sahut Dilon, "Gue bisa--" "Udah Dilon," Potong Tasya lalu meletakkan plastik yang sejak tadi dipangkunya, "Mendingan kalian cicip oleh-oleh gue, yang toping keju spesial buat Kasya," Tasya menatap Kasya dengan senyum. Kasya membalas tatapan Tasya dengan ekspresi datar. "Gue yang mana aja doyan!" Angga mencomot salah satu kue. Tasya memisahkan bagian Kasya dan meletakkannya di depan Kasya, "Gue harap lo suka," Ucap Tasya dengan nada tulus. Dilon hanya diam menatap adegan tersebut di hadapannya. "Nanti kapan-kapan, lo mau gue bawain masakan gue Sya?" Tanya Tasya. Kasya membuang tatapan ke arah lain, "Ngga perlu." "Ngga masalah kok, kalau lo lagi ngga mau makan di kantin, gue bisa bawain masakan buat lo." "Memangnya lo bisa masak Sya?" Tanya Angga setelah menelan kue yang dikunyahnya. "Dih, jangan remehkan kemampuan masak gue! Gue memang kuliah baking dan pastry tapi selama tinggal di luar, gue apa-apa masak sendiri dan belajar dari temen gue yang boga." "Kalau gitu gue harus cicip juga!" Tasya menatap sinis Angga, "Ogah amat gue masak buat lo." "Kok gitu?!" Angga terlihat tidak terima, "Ngga gue restuin nanti lo sama Kasya!" "Gue bisa dapet restu langsung dari orang tuanya!" Tasya tidak mau kalah. Angga tidak dapat membalas ucapan Tasya, "Bodo ah!" Tasya tersenyum penuh kemenangan. "Oh iya Sya," Tasya kembali menatap Kasya, "Helen rajin di kantor kan?" "Iya." "Gue boleh minta alamat kantor Papa lo? Gue mau sesekali ke sana berkunjung gitu sekalian ketemu Helen, gue udah kangen sama dia." Kasya mengambil ponselnya lalu mengarahkannya pada Tasya membuat Tasya bingung, "Apa?" "Masukkan nomor lo yang sekarang." "Buat apa?" Tasya antara terkejut dan bingung namun tetap mengambil ponsel Kasya dan memasukkan nomornya di sana. "Nanti gue kirimin alamatnya," Jawab Kasya setelah Tasya mengembalikan ponselnya. Tasya tersenyum senang, antara dirinya dapat bertemu Helen serta Kasya mau menyimpan nomor ponselnya. Angga menyaksikan kejadian barusan sedikit terkejut, seorang Kasya yang ia kenal selama ini merupakan sosok yang dingin pada kaum wanita kecuali terhadap mamanya dan adiknya, akhirnya mau menyimpan nomor seorang gadis. Meski Tasya merupakan gadis yang Kasya kenal sejak kecil namun mengingat Kasya tidak menyukai Tasya menjadi alasan keterkejutan Angga. "Oke deh," Jawab Tasya dengan senyum sumringah, "Makasih ya Sya!" "Hm." "Oh iya," Tasya menatap sekilas layar ponselnya, "Gue harus ke toko sekarang nih, soalnya tadi sepupu gue yang biasa bantu handle lagi ke kantor suaminya. Udah gue titip ke karyawan sih, tapi ngga enak juga kalau kelamaan ditinggal." Tasya berdiri dari kursinya, "Gue balik duluan ya semua." Pamitnya. "Bareng aja Sya," Ucap Dilon. "Ngga usah Lon, kerjaan kalian lebih penting." Tolak Tasya dengan nada halus. "Gue aja," Kasya tiba-tiba ikut berdiri membuat Tasya kembali terkejut, bukan hanya Tasya namun juga Angga dan Dilon. "Lo serius Sya?" Angga menatap takjub sahabatnya itu. "Gue ambil kunci mobil dulu," Kasya beranjak pergi tanpa menjawab pertanyaan Angga. "Ngga," Tasya memegang pergelangan tangan Angga, "Gue lagi ngga mimpi kan Ga?" "Bukan cuma lo yang syok Sya," Sahut Angga, "Sana lo susul si Kasya." Tasya mengangguk lalu berjalan cepat menyusul Kasya yang sudah meninggalkan kantin. "Lo gapapa?" Tanya Angga pada Dilon yang terdiam di sampingnya. Dilon hanya tersenyum tipis pada Angga. ** Selama di perjalanan, Tasya tidak dapat mengeluarkan suara. Dirinya terlalu senang dan terkejut. Seorang Kasya yang selama ini secara terang-terangan menolaknya, mau menawarkan diri mengantarnya. "Jangan geer dulu," Ucap Kasya tiba-tiba tanpa menatap Tasya, "Gue cuma ngga mau berhutang." "Hah?" Tasya menatap heran Kasya. "Gue ngga mau berhutang karena semua yang lo kasih selama ini." Tasya memanyunkan bibirnya, perasaan senangnya sedikit menjadi sedih, namun dirinya tetap bersyukur karena Kasya tidak benar-benar menolak keberadaannya. "Gue ngga berharap buat dibalas kok Sya, beneran," Terang Tasya, "Gue kasih semua itu tulus hanya mau membuat lo senang, itu aja. Soal perasaan lo, ngga ada hubungannya, kan gue udah janji kalau nantinya lo memang ngga bisa di samping gue atau lo menemukan yang lain, gue pasti mundur kok. Perasaan lo bukan alasan gue kasih hal-hal yang selama ini gue berikan." Kasya hanya diam mendengar penjelasan Tasya. Suasana kembali hening hingga tiba di toko. "Jangan lupa kirimin ya Sya alamat kantor Papa lo." Ucap Tasya sebelum turun. "Hm." "Makasih ya Sya!" Tasya turun tanpa menunggu jawaban Kasya lalu masuk ke tokonya. Setelah menatap sejenak kepergian Tasya, Kasya kembali menjalankan mobilnya ke rumah sakit. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN