Kemarin setelah Kasya mengantarnya kembali ke toko, Tasya langsung bercerita pada Reyna begitu sepupunya itu juga kembali ke toko. Dirinya bercerita dengan sedikit sedih dan Reyna hanya bisa menghibur. Namun esoknya, Reyna sedikit menyesal karena Tasya terlihat lebih ceria dari biasanya.
Hanya dalam waktu semalam, Tasya mampu melupakan alasan Kasya mengantarnya. Yang dipikiran Tasya adalah, akhirnya Kasya mau berada dalam mobil yang sama dengannya. Apalagi malamnya Kasya langsung mengirim pesan padanya, yang artinya saat ini Tasya memiliki nomor pribadi Kasya.
Perasaan bahagia Tasya sangat jelas terlihat dari gelagatnya seharian ini. Dirinya terlihat lebih banyak tersenyum. Meski para karyawan tahu bahwa Tasya adalah atasan yang cukup murah senyum, namun hari ini terasa berbeda.
"Lo salah makan tadi pagi?" Tanya Reyna melihat Tasya berdiri di dekat salah satu etalase, menatap deretan kue yang terpajang dengan senyum manis di bibirnya.
Tasya menoleh, menatap Reyna tanpa melepas senyumnya, "Sarapan gue masih normal kayak biasa kok Rey."
"Terus kenapa otak lo konslet gini?!"
Tasya memegang kepalanya dengan perlahan, "Aman kok sayang."
Reyna menepuk keningnya sekilas, "Terserah lo deh Sya." Reyna memilih untuk mengawasi karyawan yang lain dari pada mengurusi sepupunya yang sedang kurang waras karena cinta.
Puas melihat-lihat etalase, Tasya kembali ke ruangannya untuk mengerjakan pekerjaan yang harus ia selesaikan.
Sedang sibuk melihat-lihat berkas, perhatian Tasya teralih pada pintu ruangannya yang terbuka serta memunculkan Reyna yang langsung berjalan le arahnya.
"Lo beli motor baru?" Tanya Reyna begitu berdiri di hadapannya.
"Motor?"
"Itu di depan ada petugas dari dealer motor, katanya mau antar tiga unit motor atas nama Ibu Latasya Ardhana."
"Oh, udah sampe?" Tasya segera berdiri dan akan pergi namun lengannya ditahan oleh Reyna.
"Ngga sopan lo ya, gue nanya Latasya... Apa susahnya jawab dulu baru pergi?!"
Tasya memasang cengiran, "Habis gue urus, langsung gue jelasin," Tasya mengangkat telunjuk dan jari tengah membentuk 'V' sign, "Janji."
Reyna melepas tangannya dari lengan Tasya, "Oke." Lalu mengikuti Tasya ke depan toko.
Benar saja sudah ada dua orang pria dari salah satu dealer motor mengantar tiga unit motor baru. Tasya langsung menerima ketiga motor tersebut lalu kedua pria itu pergi.
"Jadi?" Tanya Reyna selagi Tasya melihat-lihat motor baru dihadapannya.
"Ini buat toko kok, gue mau ada delivery order gitu."
"Delivery?"
Tasya mengangguk, "Jadi beberapa hari lalu ada pelanggan yang minta pesanannya diantar, tapi kan kasian tuh karyawan yang antar karena agak susah bawanya, jadi nanti ini motor gue pasang kayak box di jok belakang untuk meletakkan kue-kue pesanan. Kan ngga mungkin gue pasang di motor karyawan, secara itu milik pribadi makanya gue beli aja yang baru."
Reyna mengangguk mengerti, "Oke, gue paham maksud lo."
"Nanti tolong kasih tau ke salah satu karyawan ya Rey buat urus kelengkapan motor-motor ini. Karena belum ada surat-surat, nanti gue yang urus izin jalannya biar aman."
Reyna kembali mengangguk, "Oke, nanti gue cari karyawan yang bisa bantu urus."
"Oke sip." Tasya kembali ke dalam toko diikuti Reyna.
"Jangan lupa Rey, nanti posting di akun sosial media toko kita kalau sekarang udah ada jasa pesan antar untuk yang mau pesan." Ucap Tasya saat dirinya dan Reyna sudah berada di ruang kerja Tasya lagi.
"Iya, habis ini gue langsung posting. Ngomong-ngomong, lo beli motor pake uang toko?"
"Sebagian, sebagian lagi dari gue pribadi kok. Lagian kan ini untuk kita juga, jadi ngga masalah lah."
"Iya iya, kalau gue bilang engga juga pasti nanti ada aja jawaban lo."
Tasya terkekeh, lalu mengecek ponselnya setelah duduk di kursi kerjanya.
"Lo mau hubungi Kasya?"
Tasya memasang cengiran, "Maunya sih, soalnya nunggu dia yang duluan chat keburu tua gue."
"Kan semalam dia chat lo duluan."
"Yee... Semalam sih beda cerita sayang, karena gue belum punya nomor dia dan dia juga janji mau kirim alamat kantor Papanya."
"Memangnya selama ini lo ngga pernah punya nomor dia? Kalian tuh kenal dari kecil dan lo kan deket tuh sama adeknya, masa ngga pernah dapat nomornya?"
"Pernah Rey pernah."
"Lalu?"
"Begitu dia tau gue dapat nomor dia dari Helen, nomornya langsung diganti, yang lama dibuang dan Helen kena marah sama Kasya. Sejak saat itu gue ngga berani minta sama Helen, ngga tega gue liat dia dimarahin kakaknya."
"Tapi kemarin dia sendiri yang minta nomor lo kan?"
Tasya mengangguk dengan senyum sumringah, "Makanya gue seneng banget dan ngga nyangka Rey, seorang Kasya mau simpan nomor pribadi gue, walau alasannya karena alamat, tapi kapan lagi coba Rey?!"
"Iya iya Sya, iya gue paham betapa bahagianya lo. Dan sekarang lo mau hubungi dia?"
Senyum Tasya berubah menjadi manyunan, Tasya menatap layar ponselnya yang mati dan memantulkan bayangan wajahnya, "Gue ragu Rey."
"Ragu kenapa?"
"Takutnya kalau gue hubungi dia, kejadian dulu keulang lagi. Kasya merasa terganggu lalu ganti nomornya deh."
"Lo terlalu negatif deh pikiran lo."
"Bukannya negatif lho Rey," Tasya mencebikan bibirnya, "Gue hanya trauma! Lo paham dong rasanya gebetan lo ganti nomor gara-gara diri lo sendiri?!"
"Engga," Reyna memasang wajah datar, "Gue ngga pernah digituin jadi ngga tau rasanya."
Tasya berdecak sebal, "Jahat ya lo."
"Lagian lo kenapa harus ragu? Coba aja dulu, kalau memang kejadian yah berarti itu salah satu tanda kalau lo harus mundur. Jangan terlalu dipusingin deh Sya, masih banyak yang lebih penting buat lo pikirin dari pada respon Kasya kalau lo kirim pesan ke dia."
"Iya ya?"
"Lagi pula salah dia sendiri minta nomor lo, kalau sampai dia lakukan hal sama, berarti dia bukan yang baik buat lo Sya. Hal begini aja dia mainin lo apalagi hal lain."
"Jadi gue coba nih kirim pesan?"
"Ya coba aja."
"Hmm..." Tasya terlihat berpikir, "Tapi gue tanya apa ya?"
Reyna menatap jengah Tasya, "Sesuka hati lo Sya mau nanya apa!"
Tasya berdesis, "Gue serius nih, gue bingung."
"Gue juga bingung Latasya, Kasya itu gebetan lo bukan gue, ya mana gue tau lo harus kirim pesan apa."
Tasya terdiam, otaknya sibuk berpikir akan kata-kata yang mau ia kirimkan pada Kasya. Jarinya bergerak di atas keypad layar ponselnya, namun setiap pesan yang ia ketik langsung dihapus sebelum dikirimkan.
"Aarrhhh... Bodo amat!"
Tasya akhirnya mengirimkan satu kata pada Kasya.
[Latasya: Sya?]
Tasya menutup ponselnya dan meletakkannya secara terbalik di atas meja, dengan layar di bagian bawah.
Tasya membaringkan kepalanya di meja, kedua lengannya melingkar menutup wajahnya.
Ting!
Suara ponsel menandakan pesan masuk membuat Tasya terlonjak kaget. Reyna yang sedang asik membaca majalah di sofa ikut menatap ke arah ponsel Tasya.
"Dibalas?" Tanya Reyna, dirinya dan Tasya saling melempar tatapan. Tasya belum menyentuh ponselnya.
"Ngga tau." Jawab Tasya dengan nada polos.
"YA DILIHAT DONG CANTIK!" Reyna sedikit memekik gemas.
"Eh iya maaf!" Tasya mengambil ponselnya, menutup mata selagi menyalakan layar ponselnya.
"Sya!" Reyna merasa semakin gemas pada kelakuan Tasya.
"Takutnya operator Rey, gue ngga mau kecewa terlalu cepat," Tasya membuka perlahan kedua matanya. Nafasnya tercekat.
"Apa?!" Reyna terlihat tidak sabar.
"Satu pesan baru dari Kasya!" Tasya terlihat ingin menangis padahal hanya mendapat balasan pesan tapi terasa seperti hatinya sedang diterbangkan tinggi keluar angkasa.
"Yaudah baca!"
Tasya langsung membuka pesan tersebut.
[Arkasya: Apa?]
Senyum sumringah terbit di wajah Tasya. Satu kata namun mampu membuatnya ingin menangis bahagia.
Beberapa detik Tasya lupa membalas, Tasya segera mengetik balasan pesan dari Kasya.
[Latasya: Hari ini mau gue bawain makan siang ngga Sya? Kan gue udah janji sekalian makasih karena udah kirimin alamat kantor Papa lo."]
Sepertinya Kasya memang sedikit sibuk, karena pesan selanjutnya baru dibalas beberapa menit kemudian. Tasya memakluminya.
[Arkasya: Ngga perlu.]
Tasya tersenyum kecil membaca pesan Kasya.
[Latasya: Gue bawain cheese cake aja ya Sya :)]
Arkasya: Terserah.
"YEEEEEYYY!!"
Reyna terlonjak kaget karena Tasya tiba-tiba berteriak.
"Apaan woy?!"
"Kasya ngga block nomor gue!"
"Lalu?"
"Dia mau gue bawain cheese cake nanti siang!" Tasya tersenyum sumringah.
"Oh~" Reyna memasang wajah datar, melanjutkan kegiatannya membaca majalah.
Tasya berdesis sebal, sedetik kemudian kembali tersenyum dan akan beranjak keluar ruangan.
"Mau ke mana lo?" Tanya Reyna menahan langkah Tasya.
"Mau siapin cheese cake buat kesayangan!" Tasya kembali beranjak keluar ruangan tanpa mempedulikan ekspresi Reyna mendengar ucapannya.
Sebelum menyiapkan kue yang akan dibawanya, Tasya lebih dulu membriefing beberapa karyawannya untuk jasa layanan yang baru dari toko mereka.
"Nanti kamu yang bagian admin ya, untuk menerima setiap orderan yang ada, bergantian dengan salah satu, yang mana aja yang kamu yakin bisa bantu kamu." Pesan Tasya pada salah satu karyawan wanitanya.
"Baik Bu."
"Begitu dapat pesanan, langsung infokan ke bagian penyajian. Bungkus yang rapi lalu serahkan ke bagian pengiriman. Motor sedang disiapkan. Jangan lupa setiap orderan yang datang dilayani dengan ramah."
"Siap Bu."
Tasya tersenyum dan kembali memberi pesan yang lain kepada para karyawan yang dipilihnya.
"Oke kalau gitu kalian bisa kembali bekerja." Ucap Tasya, semua karyawan langsung melaksanakannya.
Begitu semua kembali ke pekerjaan masing-masing, Tasya memanggil salah satu karyawan yang lain.
"Tolong siapkan satu cheese cake ya, mau saya bawa siang nanti."
"Seperti biasa ya bu?" Tanya karyawan tersebut membuat Tasya terkekeh.
"Inget aja kamu."
Karyawan itu ikut tertawa pelan, "Udah hapal dong bu."
"Bagus-bagus," Tasya menepuk pelan bahu karyawannya itu, "Kalau gitu langsung siapkan, nanti saya yang bungkus sendiri," Tasya mengerling sekilas.
"Siap bu!" Permintaan Tasya segera dilaksanakan.
Setelah terbungkus dengan rapi, Tasya menyimpan sejenak hingga menjelang makan siang barulah dibawa ke rumah sakit bersama beberapa cupcake untuk Angga dan Dilon yang ia yakin akan datang seperti biasa ke rumah sakit.
***