15 - Makan Siang

1647 Kata
Sudah dua hari sejak Kasya menyimpan nomor Tasya, belum ada tanda-tanda bahwa dirinya akan di blokir atau Kasya mengganti nomornya. "Ini pertanda baik kan Rey?" Tanyanya pada Reyna yang tengah sibuk membaca beberapa lembar laporan toko. "Sya," Reyna menatap datar Tasya, "Hari ini lo udah tanya itu sebanyak dua belas kali! Sekali lagi, gue lempar payung cantik lo ya." Reyna merasa gemas akan kelakuan Tasya. "Namanya juga lagi seneng Rey, lo kayak ngga gitu aja waktu sama Mas Adam." Tasya memanyunkan bibirnya. "Ngga sampe sebucin lo!" "Halah," Cibir Tasya, "Mau ngaku aja sok gengsi." "Dih, emang gue harus ngaku apa? Lo kalo bucin ya bucin aja sendiri ngga usah cari temen!" "Ya ngaku aja kalo lo dulu bucinan sama Mas Adam." "Sok tau lo!" Reyna masih belum mau kalah berdebat dengan Tasya, "Lo aja ngga ada lihat proses gue sama Mas Adam! Lo juga kenal Mas Adam setelah kami nikah!" "Ya siapa suruh lo ngga kenalin duluan ke gue?!" "Sadar bu! Lo nuntut ilmu kejauhan sampe negeri orang! Ogah amat gue nyamperin lo cuma buat kenalin pacar! Berat di ongkos!" Tasya berdecak sebal, "Ya maaf aja kalau gue cari ilmunya kejauhan, yang penting ada hasilnya!" Reyna menatap sebal Tasya, "Terserah apa kata lo dah! Emang ya cewek tuh selalu merasa benar! Untung gue ngga doyan sama cewek!" "Sadar woy! Lo itu cewek!" "Kok lo malah ngegas?!" "Yah lo yang duluan!" "Lo-- arhh... Gak kelar-kelar kalau main debat-debatan sama lo, capek gue, masih banyak kerjaan." Reyna kembali membaca lembaran kertas di tangannya. "Gue mau coba kirim pesan lagi ke Kasya nih, kangen gue." "Kirim tinggal kirim, ngga usah lapor-lapor ke gue." Ucap Reyna tanpa menatap Tasya. "Ya ini gue lagi cari bahan obrolan, sambil nunggu jam senggangnya Kasya." "Memangnya lo tau?" "Yah... Sedikit, kecuali kalau dadakan ada kesibukan si Kasya." "Kenapa lo ngga ke rumah sakit aja? Sekalian pendekatan, lo ngga lupa kan sama janji lo buat mundur kalau ngga bisa menaklukan Kasya sampai batas ulang tahun kalian?" "Iya gue ingat!" Tasya memanyunkan bibirnya, "Ngga perlu lo bahas ulang." "Gue hanya mengingatkan." "Makasih." "Eh Sya," Reyna kembali menatap Tasya, Tasya pun melakukan hal yang sama. "Apa?" "Kalau misalnya nih ya, gue sih hanya berandai, tapi semoga sih lo bener sama Kasya sesuai keinginan. Tapi gue hanya menanyakan kemungkinan lain." "Jangan bertele-tele deh Rey, langsung aja," Tasya memasang wajah jengah. "Iya iya, misalnya aja lo beneran mundur dari Kasya, lo bakal pilih dokter Alex atau Dilon sahabatnya Kasya?" "Sakit ya otak lo?" Tasya menatap sinis Reyna. "Kok malah sakit? Kan ngga mungkin lo masih mengharapkan Kasya setelah lo buat janji itu kalau ngga berhasil." "Gue belum kepikiran ke sana, gue masih yakin sama usaha gue." "Kan gue tanya kalau misalnya, susah amat sih tinggal jawab aja." "Ngga ada yang gue pilih." "Kenapa?" "Ya gue menata hati dulu lah! Lo kira patah hati bisa sembuh hanya sejam dua jam? Gue move on dulu baru cari yang baru!" "Lama dong?" "Biarin aja dari pada gue terima yang baru tapi malah jadi pelarian, jahat mana?" Reyna mengangguk mengerti, "Bener juga sih." "Lo masih belum selesai sama laporannya?" Tasya berdiri dari kursinya. "Belum, masih ada beberapa lembaran lagi." "Ya udah, gue mau ke depan dulu lihat-lihat." "Oh, oke." Tasya beranjak dari kursi kerjanya, keluar dari ruangan, meninggalkan Reyna yang kembali berkutat dengan pekerjaannya. "Siang Bu." Sapa salah satu pegawai begitu Tasya keluar. Tasya tersenyum, "Siang, gimana toko? Tadi ada yang datang?" "Udah ada beberapa bu, ada juga yang pakai jasa pesan antar." "Lancar semua kan?" "Lancar dan aman Bu, tenang saja." Tasya tersenyum mengangkat kedua ibu jarinya, "Sip, kalau gitu saya mau lihat-lihat dulu, kamu bisa balik kerja." "Baik Bu." Seorang pelanggan datang saat Tasya sedang melihat-lihat stok jualannya. Tasya sendiri yang turun tangan melayani, dirinya memang terkadang seperti itu jika kebetulan bertemu pelanggan saat sedang berada di toko. "Terima kasih ya Bu," Ucap Tasya dengan senyum ramah setelah pelanggan yang tadi ia layani selesai membayar pesanannya. Tasya akan berbalik badan namun bunyi lonceng yang kembali berbunyi membuatnya mengurungkan niat. "Lagi sibuk?" Tasya tersenyum, "Hai Lex, gue cuma baru melayani satu pembeli kok. Lagi engga kerja?" Alex menatap sekilas jam tangannya, "Sebentar lagi jam istirahat, karena kerjaan lebih awal selesai jadi bisa pergi sebentar dari rumah sakit." "Cari makan siang lagi di luar?" Alex mengangguk, "Benar sekali, tapi sebelumnya gue sengaja mampir ke sini sekalian lewat. Lo ngga istirahat?" "Rencananya sih nanti mau keluar kok, berhubung lagi ngga banyak pembeli siang ini." "Ke rumah sakit?" "Maunya, tapi ternyata harus belanja bulanan dulu nih." "Kalau gitu mau makan siang bareng? Kebetulan gue juga harus mampir ke supermarket, dengan senang hati lho kalau mau bareng aja." "Ngga usah Lex, ngga perlu repot lho." "Siapa yang repot? Justru menurut gue lebih asik kalau belanja tuh ada temen ngobrolnya." Tasya terkekeh, "Iya deh." "Sekalian makan siang." "Sekalian makan siang," Ulang Tasya sambil mengangguk. "Gitu dong." "Ya sudah, gue ambil tas dulu di dalam." "Ngga usah bawa kunci mobil, bareng gue aja nanti gue antar balik kok ke sini." Tasya mengangkat salah satu ibu jarinya, "Sip Pak dokter!" Tasya kembali sejenak ke ruangannya, lalu keluar dengan tasnya setelah berpamitan dengan Reyna. Seperti yang direncanakan, sebelum mencari makan siang, Alex mengajak Tasya ke supermarket terlebih dahulu. Mereka segera mencari keperluan masing-masing lalu mendorong bersamaan troli masing-masing menuju kasir. Alex sempat akan membayar belanjaan Tasya namun dicegah Tasya. "Dari pada bayarin belanjaan gue mendingan uangnya dipakai buat makan siang aja nanti." "Oke," Alex mengangguk sekilas, "Kalau gitu makan siangnya gue yang bayarin karena tadi gue yang ajak lo keluar." Tasya terkekeh pelan, "Iya, beres." Setelah membayar, Alex membantu membawa belanjaan Tasya yang jauh lebih banyak darinya menuju mobil. "Ini lo belanja buat berapa bulan?" Alex menatap heran semua plastik belanjaan Tasya yang terlihat penuh sambil berjalan ke area parkir. "Buat sebulan, itu sekalian beli bahan-bahan kue." "Untuk di rumah?" Tasya mengangguk, "Gue suka bereksperimen, kalau cocok ya jadi menu baru di toko." "Keren dong?" Alex memasukan semua belanjaannya di bagasi dan belanjaan Tasya di bangku penumpang bagian belakang. "Keren?" Keduanya masuk ke dalam mobil bersamaan. Alex segera menyalakan mesin mobilnya lalu pergi meninggalkan area supermarket. "Ya keren aja gitu, gue sering liat cewek-cewek tuh hobinya belanja, habis-habisin uang, tapi lo lebih suka hal-hal positif termasuk kerja." "Banyak kali cewek yang kayak gitu, lo aja yang belum ketemu." "Lho ini udah ketemu, di samping gue." Mereka terkekeh bersama. "Maksud gue di luar sana, masih banyak perempuan yang suka melakukan hal-hal positif. Mungkin kebetulan aja lo ketemu mereka yang seperti itu." "Iya kali ya," Mobil Alex memasuki pelataran parkir sebuah restauran. "Ini restauran langganan lo?" Alex mengangguk, "Gue sering ke sini, gue kenal sih sama pemiliknya, tapi sayangnya jarang ada di tempat." "Kenapa?" Alex turun dari mobil lalu membukakan pintu untuk Tasya, "Restaurannya bukan hanya ini, masih ada di daerah lain, biasanya hari gini dia di cabangnya yang lain." Alex mengajak Tasya masuk ke dalam restauran. Suasana nyaman dan alunan instrumen musik menyambut kedatangan mereka. "Asik nih restaurannya." Alex dan Tasya memasuki sebuah ruangan privat yang sengaja dipesannya. "Lo boleh pesan apa aja di sini, gue traktir deh karena udah janji." Tasya membuka-buka buku menu, "Apa ya?" "Apa aja Sya, terserah, ngga masalah kok." "Iya sih cuma yang jadi masalah itu, gue bingung mau pilih yang mana." Setelah beberapa detik berpikir, Tasya berhasil menetukan pesanannya. Usai makan siang, Alex dan Tasya meninggalkan restauran, Alex akan mengantar Tasya kembali ke toko. "Kenyang," Tasya tersenyum sambil mengusap perutnya. "Enak kan?" "Banget! Ngga ada yang mengecewakan pokoknya. "Wah... Siapa nih?" Langkah Alex dan Tasya berhenti lalu menoleh ke belakang. Seorang wanita yang tidak asing bagi Tasya sedang berjalan dan berhenti di hadapan mereka. "Kemarin lo ganggu Arka, sekarang malah jalan sama cowok lain." "Maaf ya kak, aku harus kembali bekerja, toko lagi ngga ada yang jaga." Tasya akan kembali berjalan namun tangannya dicekal, "Gue belum selesai bicara! Berani yah lo?!" "Lo kenapa sih Va?" Alex yang memang mengenal gadis itu, melepaskan lengan Tasya dari cengkraman gadis itu, Diva. "Lo yang kenapa? Kenapa lo bisa deket sama cewek ganjen gini sih Lex?!" "Apa maksud lo?" "Beberapa hari lalu dia deketin Arka, hari ini deketin kamu, seneng banget kayaknya bisa jalan sama lebih dari satu cowok ya lo?!" Diva menatap tajam Tasya. "Gue yang ajak dia," Sela Alex, "Ngga ada yang lagi deketin siapa, gue hanya ajak dia makan siang." "Alasan," Cibir Diva, "Lo jangan bela dia deh Lex!" "Gue ngga bela siapapun, gue hanya bicara kebenaran." "Ya ya ya terserah lo! Gue hanya mau lo jauhin Arka atau gue--" "Atau apa." Tantang Alex. Diva berdecak kesal, "Gue pasti balik lagi," Tatapan Kesal Diva terarah pada Tasya. Dirinya langsung meninggalkan Alex dan Tasya, masuk ke dalam restauran. "Lo kenal sama Diva?" Tanya Alex begitu masuk ke dalam mobil. "Engga sih, cuma dia mendadak tau gue bahkan sampai toko gue. "Tuh anak kenapa sih? Heran gue ngga berubah dari jaman kuliah." "Jadi lo kenal dia?" "Lumayan, soalnya dia sering main ke fakultas kami semasa kuliah hanya untuk ketemu Arka bahkan sampai bawain makan siang Arka." "Ras-- maksud gue Arka, dia terima?" "Ngga ada, rata-rata dia kasih ke yang lain. Dia ngga pernah mau dibawain makanan sama Diva. Kayaknya sih dia bakal ganggu lo lagi, lo kabarin gue aja kalau dia muncul." Tasya mengangguk dan tersenyum, "Iya, nanti gue kabarin. Tapi semoga aja sih ngga." "Gue ngga yakin." "Kenapa?" "Ya karena gue tau Diva itu bagaimana." Tasya menatap bingung Alex. "Kelihatannya dia tau lo kenal sama Arka." "Iya, dia pernah ketemu gue dan Arka di rumah sakit." "Dia suka sama Arka, dan dia ngga mau ada cewek lain yang bisa dekat dengan Arka." "Berlebihan banget sih." "Yah begitulah." Mobil Alex berhenti di depan toko Tasya. Sebelum turun, Tasya berpamitan terlebih dahulu serta mengucapkan terima kasih, kemudian mengambil semua belanjaannya di jok belakang. Alex menjalankan kembali mobilnya setelah Tasya masuk ke dalam toko. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN