Seperti biasa, Tasya tiba di toko paling pertama, mendahului semua karyawannya termasuk Reyna. Begitu pintu toko dibuka, Tasya langsung ke ruangannya lalu berpindah ke bagian dapur.
Biasanya Tasya akan mengecek semua bahan untuk hari itu, apakah cukup untuk produksi pertama di pagi hari.
Satu persatu karyawannya tiba beberapa menit kemudian dan segera mengambil posisi pekerjaan masing-masing.
Yang pertama dilakukan pastinya adalah beres-beres. Reyna pun tiba bersamaan dengan karyawan lain, diantar oleh sang suami sekalian berangkat ke kantornya.
"Sya," Panggil Reyna menemui Tasya yang sedang berada di dapur.
"Kenapa Rey?"
"Tadi Mas Adam bilang, nanti kantornya mau order cake-cake kecil untuk konsumsi saat rapat kantornya."
"Mau pakai jasa pesan antar?"
"Ngga katanya, dia bisa minta salah satu karyawan kantornya untuk ambil langsung ke sini."
"Oke, nanti kita buat lebih untuk pesanan Mas Adam. Butuh siang atau sore?"
"Jam makan siang diambilnya."
Tasya mengangguk, "Beres."
Reyna pun pamit pergi ke ruangan Tasya setelah menyampaikan maksudnya menemui Tasya. Namun Tasya tetap tinggal di dapur, ada yang ingin dilakukannya.
"Ibu mau masak?" Tanya salah seorang pegawai melihat Tasya sibuk menyiapkan beberapa bahan membuat kue.
"Aku cuma mau buat brownies kok, tadinya mau buat di rumah tapi ngga sempat. Oven yang kecil mau aku pakai ya?"
"Oh iya Bu, kebetulan lagi belum ada yang pakai."
"Tadi sudah ku cek semua bahan untuk pagi, masih cukup, tapi coba kamu cek ulang ya. Kalau ada yang kurang langsung lapor ke bagian penyimpanan."
"Baik Bu, permisi Bu."
Tasya mengangguk, "Sip." Lalu kembali berkutat dengan kegiatannya.
Sekitar dua jam sibuk di dapur, Tasya memasuki ruangan dengan membawa sekotak brownies buatannya.
"Apa tuh?" Tanya Reyna yang perhatiannya langsung teralih pada Tasya.
"Brownies," Jawab Tasya sambil berjalan menuju meja kerjanya.
"Lo buat sendiri?"
"Yoi!"
"Pantesan ngga balik-balik ke sini, ternyata lagi masak."
"Tadinya gue mau buat di rumah, tapi semalam ngga sempat dan enaknya sih masih fresh hari ini."
"Memang mau buat siapa? Kasya lagi?"
"Engga kok, hari ini gue mau ke kantor Papanya Kasya, mau ketemu Helen soalnya udah kangen." Jelas Tasya seraya membungkus brownies yang dibawanya di atas meja. "Pesanan Mas Adam udah di proses ya Rey, nanti lo cek aja di dapur, gue udah pesan ke bagian dapur kalau lo yang bakal pantau nanti setelah kuenya jadi."
"Oh, oke sebentar lagi gue ke sana deh. Lo mau pergi jam berapa?"
Tasya menatap sejenak jam tangannya, "Bentar lagi kayaknya, biar ngga terlalu kesiangan."
"Hati-hati deh kalau gitu."
"Iya sepupuku sayang."
***
Menjelang jam makan siang, Tasya sudah berada di mobilnya, sedang menuju ke salah satu gedung kantor yang alamatnya diberikan Kasya lewat pesan beberapa hari lalu.
Sejak mendapat alamat tersebut, Tasya memang sudah sangat berniat untuk mampir namun baru hari ini dirinya dapat pergi.
Karena tidak terlalu macet, Tasya bisa lebih cepat tiba dan langsung memarkirkan mobilnya di area parkir yang tersedia.
Sebelum turun, Tasya memastikan sejenak tidak ada hal yang harus ia bawa tertinggal. Barulah dirinya turun dari mobil.
Begitu tiba di dalam gedung, Tasya langsung menanyakan ruangan Helen pada bagian resepsionis. Tasya memang tidak mengabari terlebih dahulu jika dirinya akan datang dengan niat memberi kejutan.
"Kak Tasya?!"
Tasya langsung menoleh saat baru saja dirinya diinfokan letak ruangan Helen. Kebetulan sekali Helen berada di lantai yang sama dengan Tasya.
Helen yang terlihat senang melihat kedatangan Tasya langsung menghampiri dan memeluk Tasya membuat beberapa karyawan kantor melihat ke arah mereka.
Tasya terkekeh membalas pelukan Helen.
"Kok ngga bilang-bilang sih mau datang?" Helen memanyunkan bibir setelah melepas pelukannya.
"Cuma mau kasih kejutan kok," Tasya tersenyum manis.
"Untung aja aku belum keluar tadi."
Tasya kembali terkekeh sekilas, "Memangnya mau ke mana?"
"Tadi mau cari makan siang sih, kakak ke sini memang mau ketemu Helen?"
Tasya mengangguk.
"Ke ruangan dulu yuk kak, ngobrol di sana aja."
"Lho, Helen ngga jadi makan siang?"
"Nanti pesan antar aja deh, Helen kangen kakak soalnya." Helen membawa Tasya menaiki lift menuju lantai di mana ruangannya berada.
"Kakak belum makan siang kan?" Tanya Helen begitu dirinya dan Tasya tiba di ruangannya.
"Belum kok, dari toko langsung ke sini."
Helen mengajak Tasya duduk di salah satu sofa, "Kakak tau alamat sini dari mana? Kan kakak taunya kantor yang lama."
"Dari kak Kasya dong," Tasya tersenyum sumringah.
"Waktu kakak ke rumah sakit?"
"Bisa dibilang begitu sih."
"Hah?" Helen memasang wajah heran, "Maksudnya gimana kak?"
"Yah kakak tanya alamat kantor, lalu kak Kasya minta nomor kakak, dia kirim alamatnya lewat pesan."
"Serius?!" Helen terlihat cukup terkejut, "Kak Kasya beneran simpan nomor kakak?"
Tasya mengangguk masih dengan senyuman.
"Sampai sekarang?"
Tasya kembali mengangguk.
"Setelah itu kakak ada kirim chat ke dia lagi? Selain tanya alamat sini?"
"Ada, besoknya kakak hubungi dia lagi, yah basa basi doang sih tanya soal mau apa ngga dibawain makan siang."
"Kakak ngga di blokir atau dia ganti nomor kayak dulu?"
"Iyaps."
Helen menutup mulutnya dengan kedua tangan, "Wah gila sih!"
"Tapi Helen jangan bilang dia ya kalau kakak cerita, nanti dia marah lagi terus beneran blokir nomor kakak dong," Tasya memanyunkan bibirnya.
Helen mengangkat kedua ibu jarinya ke arah Tasya, "Beres kak! Kakak tenang aja pasti Helen ngga akan bahas ini ke kak Kasya... Ihh Helen seneng banget dengernya!" Helen memegang kedua tangan Tasya, "Semoga perjuangan kakak selama ini ngga sia-sia ya kak, Helen mau kak Kasya bisa menerima kakak, soalnya Helen setuju banget kalau kakak yang jadi pendamping kak Kasya."
Tasya tersenyum kecil pada Helen, "Doakan aja yang terbaik ya Helen, tapi kalau misalkan ngga seperti yang diharapkan, Helen tetep mau kan jadi adiknya kakak?"
Helen memasang wajah sedih, memeluk Tasya, "Pasti lah kak, Helen kan sayang banget sama kakak, selamanya kak Tasya tetap kakaknya Helen seperti kak Kasya."
Tasya membalas pelukan Helen dengan erat, "Makasih yaa sayang."
Keduanya saling melerai pelukan, "Oh iya, kakak bawa sesuatu buat Helen."
"Apa kak?"
Tasya mengambil bungkusan yang dibawanya, "Spesial buat Helen, kakak buat sendiri tadi pagi."
"Wahh!" Helen tersenyum sumringah, "Apa nih kak?"
"Brownies," Tasya ikut tersenyum.
"Asikk!" Helen terlihat senang membuka kotak kue yang kini berada di pangkuannya, "Eh iya, keasikan ngobrol jadi lupa mau pesan makanan, kakak mau pesan apa? Helen traktir deh."
Tasya tertawa kecil, "Samain aja sama punya Helen."
Helen mengangguk lalu mengambil ponselnya, memesan sebentar makan siang mereka pada salah satu restauran yang menerima layanan pesan antar.
"Toko kakak gimana?" Tanya Helen setelah menyelesaikan pesanannya.
"Lancar kok Len."
"Syukurlah, berarti kakak sibuk ya setiap hari?"
"Yah lumayan," Tasya tersenyum, "Kenapa Len?"
"Mau gitu sesekali akhir pekan bareng, piknik atau liburan gitu. Kemarin Helen tanya ke kak Angga dan kak Dilon, mereka sih setuju aja cuma tinggal kak Kasya aja nih yang super sibuk sama kak Tasya."
"Seru sih, nanti deh kakak atur jadwal ya, ambil akhir pekan untuk refreshing. Sesekali sepertinya perlu, makanya kenapa kakak sempatkan sesekali ke rumah sakit atau ke tempat Helen seperti sekarang agar ngga lihat toko terus, bosen juga." Tasya terkekeh akan ucapannya, begitu pula Helen.
"Iya dong kak, Helen aja kalau sempat keluar lebih pilih cari makan siang di luar biar ngga lihat gedung kantor aja tiap hari."
Tasya mengangguk setuju, "Ngomong-ngomong, Papa ke mana Len? Di ruangannya?"
"Enggak kak, Papa ada urusan di luar jadi belum sempat ke kantor. Jadi hari ini Helen yang diminta pantau semua kerjaan di sini, hitung-hitung latihan prakteknya kak."
"Tapi magangmu lancar kan? Mulai bisa menguasai termasuk interaksi dengan para karyawan?"
"Untungnya karyawan di sini kan udah kenal Helen kak jadi ngga terlalu susah sih untuk Helen berbaur, semuanya baik di sini kak, Helen jadi lega gitu untuk meneruskan usaha Papa karena sejauh ini ngga ada karyawan yang kelakuannya ajaib kak."
Tasya kembali terkekeh, "Kakak doain deh semoga selalu lancar serta banyak yang bisa Helen percaya di sini."
"Amin Kak," Helen mengaminkan ucapan Tasya, "Kakak jangan bosan dong mampir ke sini, nanti Helen juga sesekali mampirin kakak kok di toko."
"Iya beres, sesekali pasti main ke sini kok, kakak juga ngga mau kakakmu capek keseringan lihat kakak di rumah sakit."
Helen memanyunkan bibirnya, "Helen yang cewek aja ngga bosan lihat wajah kakak yang cantik ini, kalau kak Kasya merasa gitu berarti kak Kasya yang rada aneh."
Wajah Tasya bersemu merah, "Bisa aja deh adik Helen kalau memuji."
"Yeee... Helen serius lho kak, yang Helen bilang tadi memang beneran! Malah dulu ada temen Helen yang fans sama kakak, cuma dia larang buat bilang makanya baru sekarang Helen bilang ke kakak."
"Hah?" Tasya memasang wajah heran, "Siapa Len? Memangnya kakak ada kenal temanmu?"
"Enggak sih, cuma pernah ngga sengaja ketemu aja waktu kakak main ke rumah Helen, pas banget ada beberapa temen Helen datang buat kerja kelompok."
"Astaga, kakak ngga inget lho. Lalu sekarang anaknya apa kabar?"
"Dia udah di luar negeri sih kak terakhir kasih kabar, lanjut sekolah di sana gitu."
Tasya mengangguk paham. Obrolan kembali dilanjut, namun sempat terjeda karena bagian resepsionis menghubungi Helen, mengabari bahwa pesanan makanannya sudah datang.
Helen meminta tolong kepada bagian resepsionis untuk membayar terlebih dahulu dan salah satu karyawan office boy mengantarkan pesanan Helen tersebut ke ruangannya.
"Makan dulu kak," Helen meletakkan makanannya di atas meja di dekat mereka, begitu pula makanan milik Tasya.
"Enak nih kayaknya," Tasya menatap makanan miliknya.
"Dijamin kak! Ini udah langganan soalnya, bikin nagih!"
"Helen sering beli ini?"
"Engga sering juga sih kak, hanya sesekali aja tapi yang punya udah hapal sama Helen karena beberapa kali mampir makan siang di sana."
"Kalau gitu makan siang selanjutnya harus di sana, kakak mau coba langsung di tempat makanannya, sekalian lihat menu yang lain."
"Beres kak, kakak kabari aja kalau mau makan siang bareng. Helen langsung hubungi ke sana buat siapkan tempat deh pokoknya."
Tasya tertawa pelan, "Siap Bu Bos."
Keduanya tertawa bersamaan. Sambil menghabiskan makan siang mereka, beberapa obrolan ringan masih terlontar hingga usai makan siang. Tidak lama, Tasya berpamitan untuk kembali ke toko karena jam istirahat juga sudah hampir selesai.
Helen harus kembali bekerja, begitu juga Tasya masih harus memantau tokonya.
***