17 - Orderan

1790 Kata
Jam makan siang baru saja selesai saat Tasya tiba di toko. Setelah menemui Helen di kantornya, Helen langsung kembali ke toko tanpa mampir ke manapun karena Reyna yang memintanya segera datang. Setelah turun dari mobil, Tasya langsung berjalan cepat ke ruangannya begitu sudah memastikan mobilnya terkunci dengan aman. "Kenapa Rey?" Tanya Tasya saat bertemu Reyna di ruangannya. Reyna terlihat lega melihat kedatangan Tasya, "Syukurlah lo udah sampe Sya." "Memangnya ada apaan?" "Kita dapat pesanan besar buat nanti malam." "Lalu?" "Yah masalahnya di sini butuh bantuan lo dong Sya sebagai pemilik semua resep dan kepala chef!" "Memangnya pesanan apa?" "Dessert dalam jumlah banyak, untuk acara ulang tahun dari anak salah satu pengusaha gitu. Kayaknya sih acaranya lumayan besar dan mereka minta kita yang siapkan dessertnya dalam beberapa jenis juga." Tasya mengangguk mengerti, "Mereka ada kasih list dessertnya?" "Ada!" Reyna buru-buru mengambil selembar kertas dari meja Tasya, "Tadi udah gue catat buat lo, ini listnya," Kemudian menyerahkannya pada Tasya. Tasya membaca sejenak kertas tersebut, "Oke, buat malam kan?" "Iya, malam ini dan mereka minta kita yang antar ke sana." "Lo udah kabarin ke bagian produksi?" "Belum, begitu dapat pesanan, gue langsung hubungi lo Sya biar lo sendiri yang komando mereka." "Oke, beres, gue ke dapur dulu kalau gitu." Tasya membawa kertas tersebut dan beranjak menuju dapur. Semua karyawannya yang bekerja di bagian produksi menatap Tasya bersamaan saat pimpinannya itu datang. Ada sekitar tujuh orang. "Perhatian semuanya," Ucap Tasya mengambil alih fokus para karyawannya, "Kita dapat orderan cukup besar untuk malam ini. Berhubung stok toko masih cukup banyak jadi saya mau fokus dulu pada orderan yang ada selama belum ada laporan untuk menambah stok, kalian ikuti arahan saya untuk menyelesaikan orderan malam ini." "Orderannya apa saja bu?" Tanya salah satu pegawai. "Dessert, di sini--" Tasya menatap kertas pemberian Reyna di tangannya, "--ada beberapa jenis dessert, saya akan bagikan siapa yang akan mengerjakan dessert jenis apa agar lebih cepat." Tasya segera membagi tugas pada para karyawannya, dan Tasya ikut turun tangan juga membantu. Setelah mengenakan apron serta mengikat rambut sebahunya ala ekor kuda agar tidak mengganggu serta mencegah adanya helaian rambut yang jatuh, Tasya langsung membantu mengerjakan proyeknya hari ini. Seisi dapur terlihat sangat sibuk, tak terkecuali Tasya. Setiap ada cake yang jadi, segera dilaporkan pada Tasya untuk di cek terlebih dahulu. "Oke pas," Komentar Tasya pada salah satu jenis cake yang sudah siap. "Jangan sampai takaran rasa manisnya berbeda di tiap cake!" Perintah Tasya. "Siap!" Sahut semuanya. "Yang sudah jadi bisa langsung di kemas!" Sementara itu di toko, beberapa pelanggan terlihat datang untuk berbelanja. Selagi Tasya berada di dapur, Reyna yang menangani bagian penjualan toko membantu Tasya yang biasanya sering memantau atau membantu melayani langsung para pelanggan. "Latasyanya ngga ada?" Reyna menoleh pada pria yang barusan bertanya padanya. Reyna sedang kurang fokus saat ini sehingga tidak dapat mengingat wajah familiar di hadapannya. "Gue Dilon, temannya Tasya." "Oh!" Reyna mengangkat salah satu telunjuknya ke arah Dilon, "Sahabatnya Kasya kan?" Dilon mengangguk. "Iya iya gue inget, maaf maaf, karena dari tadi lagi banyak pelanggan jadi kurang fokus." Dilon tersenyum kecil, "Ngga masalah, Tasya lagi ngga di sini?" "Ada kok, tapi anaknya sedang sibuk." "Lagi banyak kerjaan?" Reyna mengangguk, "Hari ini lagi ada orderan besar, jadi Tasya ikut bantu di dapur dulu makanya gue yang di sini. Memangnya ada perlu apa?" "Gue hanya mau mampir aja tadinya, tapi kalau lagi sibuk ngga masalah kok." "Udah satu jam sih tuh anak di dapur, maklum aja orderannya lumayan besar jadi banyak yang dibuat." Dilon mengangguk mengerti, "Nanti malam aja gue balik lagi kalau gitu, tapi sebelumnya ada yang mau gue beli dulu buat pesanan teman." "Oh iya boleh-boleh silahkan, pilih aja nanti karyawan kami yang layani." Dilon pun memilih yang mau ia beli dibantu salah satu karyawan yang di minta Reyna. Usai membayar, Dilon pamit pergi. "Kabarin aja ke Tasya, nanti malam gue balik ke sini." Reyna mengangguk, "Oke, nanti gue kabarin kalau dia udah selesai." "Terima kasih." Ucap Dilon lalu pergi meninggalkan toko. *** Kurang lebih tiga jam Tasya berada di dapur berteman uap panas dari kompor dan oven-oven yang cukup besar, akhirnya sebagian besar pekerjaannya selesai hanya tinggal finishing di beberapa cake. Tasya menepuk pundaknya sambil keluar dari dapur. Memindahkan beberapa loyang serta bergerak ke sana kemari tanpa istirahat di dalam dapur membuat lengan dan kakinya cukup pegal. "Demi kejar setoran nih," Ucap Tasya menghampiri Reyna yang baru keluar dari ruangan Tasya. "Udah beres?" "Tinggal sedikit, mereka bisa selesaikan. Gue udah suruh mereka langsung istirahat setelah beres semua." "Oke, gue bakal minta beberapa karyawan bantu susun. Kalau pengiriman, lo mau gimana? Kita baru punya motor, belum punya mobil." "Pake mobil gue aja dulu, kalau ngga muat karena mobil gue juga ngga besar, kerahkan aja tiga motor kita. Tapi lo yang tangani ya Rey, lo yang tahu alamatnya kan? Ambil kuncinya di ruangan gue." "Iya nanti gue yang bagian pengiriman, lo istirahat aja kalau gitu." Tasya mengangguk dan akan melangkah ke ruangannya, namun panggilan Reyna menahannya. "Gue lupa bilang, tadi Dilon ke sini." Tasya memasang wajah bingung, "Ada perlu apa?" "Dia belanja tapi juga nyariin lo." "Lo bilang apa?" "Ya gue bilang apa adanya kalau lo lagi sibuk di dapur. Katanya nanti malam mau datang lagi dia, tunggu aja." Tasya kembali mengangguk, "Oke, makasih infonya Rey." Reyna ikut mengangguk, "Sip." Tasya berjalan lagi ke ruangannya, dan Reyna menyiapkan pengiriman pesanan malam ini. *** Tanpa Tasya sadar, dirinya tertidur kurang lebih satu setengah jam di sofa ruangannya. Sore tadi begitu masuk ke dalam ruangan, niat awal berbaring mengistirahatkan badan namun jadi terlelap setelah Reyna berangkat mengantar pesanan. Guncangan kecil di bahunya membangunkan Tasya. "Sya..." Bisik sebuah suara di telinganya membawa Tasya ke alam nyata. "Rey?" Tasya mendudukan diri dengan wajah bantal, "Lo udah selesai?" "Gue baru aja sampe di sini, lo dari kapan ketiduran?" "Setelah lo berangkat kayaknya," Ingatan terakhir Tasya adalah saat Reyna meminta kunci mobilnya, saat itu dirinya hanya berbaring tanpa memejamkan mata di atas sofa. "Lo mau tidur lagi?" Tasya menggeleng sekilas, "Gimana tadi? Lancar?" "Lancar kok, semua pesanan udah di terima dengan selamat dan sudah dibayar cash!" Tasya mengangguk samar, "Oke sip," Lalu berdiri dari sofa, "Gue cuci muka dulu." Perlahan Tasya berjalan ke toilet yang ada di ruangannya. Setelah membasuh wajahnya dengan air, Tasya merasa lebih segar. Dirinya kembali ke meja kerja, membuka laptop untuk melihat pekerjaannya. "Di depan gimana Rey?" Tanya Tasya pada Reyna yang sudah duduk di sofa tempat Tasya tadi tertidur. "Udah mau habis kok, gue udah bilang ngga perlu stok ulang jadi bagian dapur sedang istirahat sekarang." "Oke, mereka pasti lelah, jadi sehabisnya aja stok yang memang harus habis malam ini." "Iya, gue juga berpikir gitu tadi." "Tapi bagian dapur udah beres-beres?" "Udah kok, sebelum ke sini gue cek dulu di sana. Semua alat masak yang harus di bersihkan udah pada bersih, makanya gue bilang mereka lagi istirahat karena udah beres semua pekerjaan mereka." "Syukurlah." Satu jam kemudian, Tasya meminta semua karyawan untuk beres-beres karena toko akan tutup. Di tengah beres-beres, seseorang yang disangka pelanggan masuk ke dalam toko. Tasya yang baru saja selesai mengecek bagian kasir langsung menatap ke pintu masuk. "Eh Dilon, gue kira pembeli, hampir aja gue bilang kalau udah mau tutup." Dilon tersenyum, "Lo udah ngga sibuk?" "Tinggal beres-beres aja kok, ada apa nih? Tadi sepupu gue juga bilang kalau siang tadi lo ke sini ya?" "Iya, gue cuma mau mampir kok, sekalian ketemu kalau tadinya lo lagi ngga sibuk." "Memangnya ada apa? Lo ngga bareng Angga?" "Engga, gue bawa mobil sendiri kalau lagi ngga ada kerjaan sama dia." "Ini lo mau belanja? Udah habis lho jualan gue." "Engga kok, gue mau ajak makan malam aja tadinya, gue lagi suntuk." Tasya terkekeh, "Biasanya juga lo ajak Angga." "Bosen gue makan sama dia terus, bahaya." "Bahaya kenapa?" "Kalau keseringan sama dia, gue bisa jomblo terus." Tasya terkekeh, tertawa geli karena ucapan Dilon. Dilon hanya tersenyum melihatnya. "Jadi lo mau kan gue ajak makan malam? Gue traktir kok, tenang aja." "Boleh, tapi gue beresin semua dulu ya." Dilon mengangguk, "Gue bakal tunggu kok." Tasya segera membereskan semua hal yang harus dibereskan kemudian mempersilahkan para karyawannya pulang. Reyna ikut pamit karena sang suami sudah datang menjemput. Tinggalah Dilon dan Tasya yang baru selesai mengunci pintu toko. "Gue ikutin lo aja ya?" Tanya Tasya, "Soalnya gue kan bawa mobil." Dilon menatap sejenak jam tangannya, "Belum terlalu malam, lo taruh mobil dulu aja ke rumah lo baru perginya bareng gue aja, gimana?" "Yakin?" Dilon mengangguk yakin. "Oke deh." Keduanya beranjak dengan mobil masing-masing menuju rumah Tasya. *** "Jadi sekarang lo tinggal di sini?" Tanya Dilon setelah dirinya dan Tasya turun dari mobil mereka. "Iya, baru beberapa minggu sih." Sebelum semakin malam, Dilon mengajak Tasya kembali pergi, dan tujuan mereka adalah salah satu restauran cepat saji. Mereka duduk berhadapan setelah memesan makanan dan membayarnya langsung di kasir. "Diva masih ganggu lo?" Tanya Dilon di tengah acara makan malam mereka. "Ngga secara langsung sih." "Maksudnya?" "Jadi gini, beberapa hari lalu gue pergi makan siang bareng dokter Alex, selesai makan, gue ketemu Diva di restauran itu. Kami baru keluar, dia baru mau masuk." "Lalu?" "Yah gitu, dia masih minta gue jauhin Kasya." "Engga perlu di dengar, kalau dia mulai keterlaluan, lo bisa bilang ke gue." Tasya tersenyum menatap Dilon, "Iya tenang aja." Dilon tersenyum tipis. "Oh iya Sya." "Hm?" "Gue--" Tasya menatap bingung Dilon. "Lain kali aja deh." Tasya memasang wajah sebal, "Ngga usah ngomong ya kalo digantungin!" Nada bicara Tasya terdengar kesal membuat Dilon terkekeh kecil. "Iya maaf, gue cuma lupa tadi mau ngomong apa. Nanti aja kalau ingat langsung gue bilang." Tasya berdecak sebal, "Nyebelin." Dilon tersenyum kecil, "Iya maaf." Setelah makan dan mengobrol banyak hal, Dilon mengantar lagi Tasya ke rumahnya. "Kapan-kapan kalau gue mau main ke sini, boleh?" Tanya Dilon sebelum Tasya turun dari mobilnya. "Ya boleh, main aja lho. Ajak Angga juga ngga masalah, kalau Kasya mah susah, super sibuk. Kalau mau main boleh dong, asal kabarin dulu takutnya lagi di luar." Dilon mengangguk, "Iya, nanti gue kabarin kalau mau berkunjung." "Oke, ditunggu deh." "Satu lagi Sya." "Apa?" "Jangan lupa kalau Diva masih gangguin lo, lo jangan sungkan buat hubungi gue. Kita ngga tau apa yang mau dia lakukan nanti, setidaknya untuk menjaga diri aja." "Iya, tenang aja, gue pasti bilang kalau dia berulah lagi." Dilon kembali mengangguk. "Gue juga ada yang mau gue bilang," Ucap Tasya. "Apa?" "Kalau lo ingat yang mau lo bilang tadi langsung kabari gue!" Tasya memasang wajah galak namun membuat Dilon terkekeh gemas. "Lo ngga cocok wajah galak gitu Sya." Tasya memanyunkan bibirnya. "Tenang aja, kalau ingat pasti langsung gue kabarin. Lo istirahat sana, seharian banyak orderan pasti capek." "Iya deh, makasih ya Dilon!" "Oke Sya." Tasya turun dari mobil Dilon dan berjalan masuk ke rumah. Dilon kembali menjalankan mobil setelah Tasya menutup pintu rumahnya dari dalam. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN