Hari ini Tasya terlihat lebih sibuk dari biasanya. Beberapa kali dirinya fokus pada ponsel dan menerima beberapa panggilan telepon.
"Ada apaan?" Tanya Reyna setelah panggilan terakhir selesai.
"Papa minta gue pantau gedung kantor yang baru Rey, udah hampir selesai katanya."
"Tapi kayaknya banyak banget yang lo urus dari tadi."
"Iya gue minta bantuan orang yang Papa gue kenal buat mewakili gue memantau ke sana, jadi sesekali kirim kabar soal apa-apa aja yang masih perlu ditambah. Hari ini lagi ngga bisa tinggalin toko lama-lama, orderan pesan antar lagi lumayan ramai soalnya."
"Yah iya sih, dari tadi bagian admin dapat beberapa pesanan untuk bagian jasa pesan antar."
Tasya mengangguk, "Makanya, gue harus bisa pantau di sana tapi ngga sampai ninggalin toko."
"Semangat deh Sya, gue ngga bisa bayangin capeknya lo nanti kalau udah mulai pegang bisnis."
Tasya mengangkat sekilas bahunya, "Mau ngga mau harus sanggup, lagian ada lo gini kok yang jadi asisten gue." Tasya tersenyum sumringah.
Reyna memasang wajah datar, "Demi lo aja nih gue kayak gini. Mumpung belum punya anak."
"Tenang Rey, gue selalu doakan lo cepet kasih gue keponakan."
"Amin. Mendingan sekarang lo cek ke dapur, udah seberapa prosesnya buat orderan sore ini."
"Oh, beres. Ini juga gue mau ke sana kok, tenang aja."
***
Malamnya, Tasya pulang paling akhir karena ada hal yang masih harus ia kerjakan. Hanya tinggal dirinya seorang di toko.
Hari baru saja berganti malam, membuat Tasya yang duduk di kursi kerjanya mendapat sebuah ide. Dirinya mengambil ponsel dari dalam tas dan masuk ke salah satu aplikasi chat online.
[Latasya: Sya.]
Mendadak Tasya ingin menghubungi Kasya meski dirinya tidak tahu apakah Kasya sudah pulang atau masih sibuk di rumah sakit.
[Arkasya: Ya.]
Balasan pesan yang terkirim lima menit kemudian dari Kasya membuat Tasya tersenyum senang. Langsung saja dirinya kembali mengetik balasannya.
[Latasya: Lagi di mana?]
Meski Kasya masih terlihat dingin padanya, namun Tasya bersyukur setidaknya ada sedikit kemajuan di mana Kasya tidak lagi menghindarinya dengan memblokir nomornya. Kasya juga masih mau meladeni pesan Tasya meski tidak membalas dengan cepat. Tasya memaklumi karena pastinya Kasya sedang sangat sibuk. Tasya tidak mau menuntut terlalu banyak, Kasya mau bicara dengannya saja sudah merupakan hal yang sangat baik.
[Arkasya: rumah sakit.]
Jawabnya sepuluh menit kemudian. Rentan balasan Kasya terhadap pesan Tasya yaitu lima hingga sepuluh menit.
[Latasya: lembur? Udah makan?]
Selagi menunggu balasan, Tasya masuk ke dalam mobil dan menjalankan mobilnya pulang ke rumah. Ada hal yang ingin Tasya lakukan.
[Arkasya: Iya. Belum.]
Tasya tersenyum membaca pesan Kasya, singkat namun menggemaskan baginya.
Lampu lalu lintas yang berubah merah membuat Tasya bisa menyempatkan diri membalas pesan Kasya. Dirinya memang jarang memegang ponsel jika mengemudi, hanya pada kondisi tertentu saja.
[Latasya: Gue bawain makan malam ya, mumpung pulang awal dari toko.]
Lampu lalu lintas kembali hijau. Tasya menjalankan lagi mobilnya, ponselnya sempat berbunyi namun Tasya menunggu tiba di rumah karena jaraknya memang sudah tidak jauh lagi.
[Arkasya: Terserah.]
Tasya berpikir, sepertinya Kasya sedang mengabulkan permintaannya untuk tidak mengusirnya sampai hari ulang tahun mereka tiba.
Tasya membalas kembali setelah turun dari mobil sambil berjalan masuk ke dalam rumah.
[Latasya: Makasih Sya, tunggu ya gue ke sana bawa makan malam :)]
Tasya langsung masuk ke dapur untuk memasakan masakan yang sederhana namun dipastikan tetap membuat Kasya suka.
Tidak ada lagi balasan dari Kasya, pesan terakhir Tasya hanya dibaca. Tasya langsung fokus memasak karena waktunya tidak banyak.
Selesai memasak, tanpa berganti pakaian, Tasya kembali pergi dari rumahnya untuk mengantar makan malam pada Kasya.
Rumah sakit mulai terlihat sepi karena jam besuk hampir habis. Hanya beberapa perawat dan dokter yang rata-rata terlihat berlalu lalang.
Tasya menanyakan kepada salah satu suster mengenai keberadaan Kasya, dan menurut informasi, perawat yang melihatnya mengatakan Kasya baru saja masuk ke ruangannya.
Tanpa membuang waktu, Tasya segera menuju ruangan Kasya yang sudah ia ketahui letaknya.
Mengetuk sejenak, Tasya membuka pintu tersebut setelah mendapat izin dari pemilik ruangan.
"Hai Sya!" Tasya tersenyum manis lalu duduk di hadapan Kasya yang terlihat fokus pada lembaran kertas di tangannya.
"Hm." Kasya hanya bergumam menjawab sapaan Tasya.
"Nih sesuai janji," Tasya meletakkan beberapa kotak bekal di meja Kasya, "Makan malam spesial buatan gue sendiri. Semoga lo suka."
"Taruh aja di situ." Perintah Kasya tanpa menoleh.
"Tapi gue maunya lo makan sekarang." Tasya memegang kertas di tangan Kasya membuat Kasya menatapnya datar.
"Lo mau usir gue? Ngga masalah asalkan lo makan dulu Sya."
"Gue bisa makan sendiri nanti."
"Gue maunya sekarang Kasya."
"Latasya!" Nada suara Kasya naik, menandakan dirinya sedang marah. Kasya menatap kesal Tasya namun Tasya memasang wajah seolah tidak takut padahal hatinya sedang ciut saat ini mendapat tatapan seperti itu dari Kasya.
"Gue mau lo makan sekarang baru kerja!" Ucap Tasya berhasil menahan rasa gemetarnya karena takut akan ekspresi yang dibuat Kasya. "Gue tau lo sibuk, tapi lo juga harus pikirin kesehatan lo Sya." Tasya membuka kotak bekal yang dibawanya. Makanan yang dibawa Tasya terlihat menggugah selera dengan aroma yang mendukung.
"Kenapa lo gemetar?"
Tanpa Tasya sadar, dirinya masih merasa takut ketika memegang kotak bekal dan ternyata Kasya memperhatikannya.
Tasya memasang cengiran, menyembunyikan tangannya di bawah meja, "Gue gapapa, lo makan ya Sya."
Kasya menggeser salah satu kotak bekal pada Tasya, "Lo juga makan." Nada bicara Kasya sedikit melembut.
"Eh tapi--"
"Gue ngga minta penolakkan."
Tasya tersenyum tipis, "Gue buatin dulu makanan lo ya."
Kasya tidak menjawab namun juga tidak terlihat menolak. Tasya mengambil piring plastik serta sendok yang sengaja dibawanya. Menyendokan nasi serta lauk dan sayur ke piring tersebut lalu memberikannya pada Kasya. Tasya juga membuat makan malam untuknya sebelum Kasya kembali marah.
Keduanya makan dalam diam. Tasya ingin sekali bertanya mengenai pendapat Kasya soal masakannya namun ia ragu. Khawatir mood Kasya masih kurang bagus.
Setelah makan dan minum, Tasya menyusun kotak bekal yang dibawanya lalu menyimpannya.
"Maaf tadi udah bentak lo." Ucap Kasya setelah kembali pada pekerjaannya membuat Tasya sedikit terkejut.
Tasya tersenyum tipis, "Ngga masalah kok Sya, harusnya gue yang minta maaf karena ganggu kerja lo."
Kasya kembali diam membuat Tasya bingung akan respon pria di hadapannya ini.
"Sya, gue boleh tanya?" Izin Tasya, takut kembali mengganggu.
"Tanya aja." Namun Kasya tidak terlihat terganggu akan pertanyaan Tasya.
"Lo sampe jam segin di rumah sakit, lo lembur?"
"Iya."
"Kenapa?"
"Pasien UGD."
Tasya terdiam, mencerna jawaban Kasya yang singkat namun kurang jelas untuknya.
"Ada yang baru masuk ke UGD dan lo yang tangani?" Tasya mencoba menebak.
"Iya." Dan ternyata memang benar.
"Lo pulang jam berapa nanti Sya?"
"Belum tau."
"Masih belum selesai ya lemburnya?"
"Iya."
Tasya meringis sekilas, merasa percakapannya lebih singkat dari percakapan antara wartawan dan narasumber.
"Makasih ya Sya." Ucap Tasya membuat Kasya menatapnya namun hanya diam. Tasya seolah mengerti arti tatapan Kasya padanya, "Makasih lo ngga usir gue sekarang padahal gue tau sebenernya lo sedikit terganggu. Tapi gue mohon sabar sebentar ya Sya, kan gue janji bakal pergi nanti kalau udah waktunya dan lo memang ngga bisa terima gue."
Tasya tersenyum masam, "Setidaknya biar gue nikmati dulu waktu bersama lo sebelum gue menyerah."
Tasya menatap Kasya, tatapan mereka bertemu.
"Jadi kalau merasa terganggu, gue minta maaf ya Sya."
Kasya yang lebih dulu memutus tatapan, dirinya kembali pada lembaran kerjaannya.
"Lo ngga perlu minta maaf," Ucap Kasya tanpa menatap Tasya, "Kalau ngga salah ngga perlu minta maaf."
Tasya sedikit bingung akan maksud ucapan Kasya, namun ia yakin Kasya sedang mengizinkannya berada di dekatnya meski hanya sementara, bagi Tasya itu tetap hal yang berharga.
Dirinya sedang ingin mengumpulkan banyak kenangan bersama Kasya. Setidaknya, meski nanti dirinya tidak bisa bersama Kasya, masih ada kenangan manis yang ia miliki sendiri.
***