19 - Suka Banget?

1571 Kata
Tasya sedikit kecewa karena hari ini tidak bisa bertemu Kasya. Reyna melarangnya pergi ke manapun dengan alasan harus menemaninya makan siang. Pagi tadi sebelum berangkat ke toko, Reyna memasak makanan cukup banyak, terlalu berlebih hanya untuk dirinya dan Adam sehingga Reyna berinisiatif membawanya ke toko untuk makan siang, jadi sekarang Tasya wajib membantunya menghabiskan makanan tersebut di ruangannya. "Sya," Panggil Reyna saat Tasya tengah menikmati makan siangnya. "Hm?" "Lo beneran suka sama Kasya?" Tasya menatap bingung Reyna, "Kenapa lo tiba-tiba nanya gitu?" "Tinggal jawab aja lho." "Iya, suka. Kenapa?" "Suka banget?" "Iya." "Suka banget banget?" Tasya menatap datar Reyna, "Iya suka pake banget!" Reyna mengangguk sekilas, "Alasannya?" "Harus?" Reyna mengangkat sekilas bahunya, "Yah mungkin... Siapa tau lo suka karena dia tampan, dia dingin, atau dia mapan?" "Salah semua." "Lalu?" "Yah ada sih alasan khususnya kenapa gue bisa suka sama Kasya. Yang jelas bukan karena dia ganteng, dingin atau mapan. Cari cowok ganteng mah banyak Rey, apalagi mapan." "Iya, lalu apa?" Reyna merasa gemas pada Tasya. Tasya memasang cengiran, "Ra.ha.si.a." Reyna menatap kesal Tasya, "Oh gitu ya lo sekarang, mainnya rahasia-rahasiaan sama gue! Oke fine!" "Dih," Tasya berdesis sekilas, "Gitu aja ngambek, udah tua juga, sok main ambek-ambekan." "Ya biarin dong! Mau tua mau muda kalo orang kesel mah bebas!" "Kok lo malah nyolot?!" "Kan lo yang duluan!" "Apaan gue-- ahhh... Emang ngga bakal habis ngegas sama lo, kayaknya gue harus buka lowongan kerja baru di sini." "Lowongan apaan?!" "Bagian penengah kalau kita lagi perang gas!" "Lebay!" "Biarin! Dah lah, gue mau lanjut makan! Habisin makanan lo!" Reyna menatap makanan Tasya yang belum banyak berkurang. "Lagian lo kurang kerjaan amat masak banyak kayak mau buat hajatan! Diet gue bisa gagal kalau kayak gini! Gue udah sering menahan diri buat ngga rajin makan kue di sini malah lo buat gue makan banyak sekarang!" "Halah, ngga usah sok diet-diet lo! Udah bagus badan lo ngga usah diturunin lagi!" "Biarin lah! Biar Kasya tuh kesemsem sama gue makanya harus jaga badan!" "Heh! Kalau si Kasya nantinya beneran suka sama lo dan tulus, dia gak akan peduli badan lo segemuk apa yang penting liat lo sehat walafiat dia udah seneng!" Tasya memanyunkan bibirnya, "Gue yang kayak gini aja dia ngga suka apalagi kalau kegemukan!" "Udah-udah ngga usah banyak ngeluh! Habisin tuh makanan, ngga boleh buang-buang makanan! DOSA!" "IYA IYA! Gue juga paham! Ngga usah ngegas bagian dosanya!" "Biar lo makin paham!" Tasya berdecak sebal. "Ngga usah takut soal Kasya, masih ada dokter Alex dan Dilon yang siap menampung hati lo, tinggal pilih aja lo mau yang mana!" "Kan kan kan..." Tasya menatap sinis Reyna, "Kumat lagi kan." "Bukan kumat, gue ngomong kenyataan. Kalau ngga mau mereka, masih banyak yang jauh lebih ganteng di luar sana, tinggal lo pilih!" "Ogah! Gue lagi males mikir kayak gitu!" Keduanya saling diam. Fokus menghabiskan makanan masing-masing selama beberapa menit ke depan. "Hahhhh... Kenyang banget gue Rey!" Tasya menyandarkan diri di sofa sambil mengelus perutnya yang terasa penuh, "Jangan lagi yah lo masak sebanyak ini, lo masih tinggal berdua sama Mas Adam! Lain konsep kalau anak lo ada sebelas!" "Ya kali gue punya anak sebelas! Ogah amat gue lahiran sebanyak itu!" "Kan gue cuma ibarat doang Reyna!" "Gue tetep ngga mau!" "Terserah lo!" Tasya membereskan kotak makanan di atas meja di hadapan mereka. Reyna menyusun semua wadah makanan yang dibawanya lalu menyimpan di dalam plastik yang sengaja disiapkan. "Sya, lo selama kuliah pernah pacaran?" Tasya yang sedang minum, menghabiskan sejenak minumannya lalu menjawab pertanyaan Reyna, "Belum, kenapa?" "Memangnya ngga ada yang bagus gitu di sana? Tampan, mapan dan rupawan?" "Banyak lah Rey." "Ngga ada yang deketin lo?" Tasya berpikir sejenak, "Ada sih." "Nyatain perasaan?" "Lupa berapa umat." "Dan lo tolak?" Tasya mengangguk sekilas. "Wah... Gue tebak karena Kasya?!" Tasya tersenyum, "Kan lo ngga perlu tanya lagi Rey." "Gila sih, kenapa lo ngga coba gitu pacaran, siapa tau bisa move on Sya." "Ngga tau deh ya, gue selalu mau pertama kali itu Kasya." "Maksud lo?" "Yah cinta pertama, pacar pertama, pasangan pertama gitu." "Kalau ternyata lo ngga bisa dapatin hati Kasya?" "Nanti gue pikir ulang setelah selesai move on. Dicoba aja dulu, galaunya belakangan." "Lo merasa ngga sih Sya kalau lo lagi memperjuangkan hal yang sia-sia?" "Engga," Tasya menjawab dengan yakin membuat Reyna bingung. "Gue bahagia aja tuh berjuang buat Kasya, mau bagaimana endingnya nanti, gue ngga akan menyesal. Karena menurut gue, Kasya itu bukan hal yang sia-sia." Reyna menatap takjub Tasya, "Ini pasti efek masakan gue tadi makanya lo jadi super bijak gini Sya! Gila! Gue bangga akan diri gue sendiri, gue ngga sangka punya kemampuan semenakjubkan ini! Ternyata buat jago masak gak perlu kuliah jauh-jauh!" Tasya menatap jengah sepupunya ini, "Kok gue kesel ya denger lo memuji diri lo sendiri?" "Lho... Selama ngga ada yang larang, ngga masalah kan?" "Iya Rey iya, lo memang selalu benar!" Reyna tersenyum bangga membuat Tasya ingin menepuk kening Reyna dengan sepatu agar sepupunya itu kembali ke dunia nyata. "Ya udah," Tasya berdiri dari sofanya, "Udah ngga ada lagi yang perlu dihabisin kan Rey?" "Yah engga sih, semua masakan gue udah habis siang ini. Makasih banget lho Sya," Rey tersenyum sumringah. "Oke oke," Tasya mengangguk sekilas, "Kalau gitu gue boleh minta tolong dong ya?" "Soal apa?" "Nanti sore gue mau pulang awal, lo yang beresin semua dan memulangkan semua karyawan." "Lho, memangnya lo mau ke mana? Ke Kasya?" "Ya engga, tadi pagi Mama gue kasih kabar kalo sore nanti berangkat ke sini, malamnya gue harus udah di bandara buat jemput." "Yah elah kirain ada apaan, ya udah ngga masalah. Titip salam aja ya buat Om dan Tante, dari keponakannya yang paling cantik." Tasya menatap sinis Reyna, "Iya." "Oh iya, gue ke depan dulu deh," Reyna berdiri dan menyimpan alat-alat makannya, "Ada yang mau gue cek." "Cek apa?" "Stok stok, sekalian siapa tau ada pelanggan, gue lagi pingin ikutan melayani pelanggan dari pada gabut." Tasya mengangguk, "Bagus bagus, biar lo ada kerjaan dikit." "Lo mau di sini aja?" "Iya, mau cek data toko bulan ini." "Oke Sya, selamat bekerja!" Reyna langsung berlalu meninggalkan ruangan Tasya. *** Berada di ruangan seharian cukup membuat Tasya bosan, sehingga sesekali dirinya beristirahat dari pekerjaan dengan melihat-lihat keadaan tokonya. Sorenya, Tasya sudah beres-beres di ruangannya. "Udah mau berangkat?" Tanya Reyna, baru saja masuk ke ruangan Tasya. Tasya menoleh sekilas pada Reyna, "Iya, biar ngga telat sampai bandara, setidaknya biar gue yang nunggu di sana." "Ya udah, hati-hati deh." Tasya mengangguk, "Titip toko ya Rey." "Iya beres." Tasya mengambil tas serta kunci mobilnya, berpamitan lalu pergi. Kurang lebih hampir dua jam perjalanan, karena kondisi jalan yang sedikit padat, Tasya tiba di bandara saat hari sudah mulai gelap. Dirinya menunggu sejenak tak jauh dari area kedatangan sambil menunggu kabar dari orang tuanya. Setengah jam menunggu ditemani segelas kopi, sebuah pesan singkat dari sang Papa masuk ke ponsel Tasya. Segera dirinya beranjak menuju tempat kedua orang tuanya berada. "Mama!" Tasya berjalan dengan cepat lalu memeluk sang Indira, sang Mama. "Halo sayang," Indira membalas pelukan Tasya, lalu berpindah pada Kenan, sang Papa. "Papa Mama sehat-sehat kan?" Tanya Tasya setelah melepas pelukan. "Sehat sayang," Indira mengusap lembut lengan putri semata wayangnya. "Kamu di sini bagaimana?" Tanya Kenan, "Sehat? Usaha lancar?" Tasya tersenyum, "Aman Pa, usaha juga lancar kok, ada Reyna yang bantu. Oh iya, Reyna titip salam aja tadi ngga bisa ikut karena toko belum tutup, besok deh bisa ketemunya." Kenan dan Indira tersenyum mengangguk, "Besok Mama mampir deh ke toko buat lihat, Papa juga mumpung semua kerjaan masih proses pemindahan jadi bisa istirahat dulu." "Iya Ma," Tasya membantu membawa koper orang tuanya dan mengajak untuk pulang. "Rasanya seperti lama banget ngga ketemu Tasya deh," Ucap Indira yang duduk di jok belakang sedangkan Kenan di bagian depan tepat di sebelah Tasya yang sedang menyetir. "Tasya kan pulang kemarin cuma sebentar ketemu Papa Mama langsung pindah ke sini buat buka usaha dan siapin semuanya Ma." "Yang penting sekarang kita bisa sama-sama lagi," Ucap Kenan, "Mamamu tuh tiap hari tanya terus kapan balik ke sini, kangen anak katanya." Tasya terkekeh sambil menatap spion tengah untuk melihat Indira. "Wajar kan Pa? Kangen sama anak sendiri, kemarin belum puas ketemu eh udah pindah kota aja." "Iya, Tasya juga kangen kok sama Papa dan Mama." Tasya tersenyum, "Oh iya, Tasya udah ketemu Kasya, Helen dan Tante Elvi Ma." "Oh ya?" Tasya mengangguk, "Kasya sekarang jadi dokter di rumah sakit keluarganya, Helen lagi magang untuk meneruskan bisnis Papanya." "Mereka masih di rumah yang lama?" Tanya Kenan. "Udah engga Pa, tapi Tasya udah tau kok alamat baru mereka, Tasya juga janji bawa Papa dan Mama kalau udah tiba buat ketemu keluarga Om Reiki." "Iya tuh Pa, sekalian reunian kita." Timpal Elvina. "Iya, sebelum mulai kerja lagi, kita mampir ke sana buat silaturahmi dan temu kangen Ma." Indira tersenyum di tempatnya. Asik mengobrol, hingga tidak terasa mobil Tasya sudah berhenti di depan rumahnya. "Selamat datang di rumah baru kita Pa, Ma." Ucap Tasya lalu turun dari mobil, membantu menurunkan semua barang bawaan orang tuanya. "Wah, bagus rumahnya lho," Indira sibuk menatap rumah yang akan ia tinggali bersama suami dan putrinya mulai malam ini. "Semua di dalam udah beres Tasya lengkapi, Papa dan Mama tinggal istirahat dan menikmati aja." "Anak Mama memang terbaik," Indira menghampiri Tasya dan mencium pipi putrinya. Kenan tersenyum mengusap sejenak puncak kepala Tasya. "Ayo masuk Pa, Ma, biar istirahat. Tasya yang siapkan makan malam." Tasya mengajak kedua orang tuanya masuk ke dalam rumah. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN